Mengganyang Pemikiran JIL
JIL, dalam pengenalan jati dirinya di website mengawali dengan:
Dengan nama Allah
Tuhan Pengasih
Tuhan Penyayang
Tuhan segala agama
Kritik :
Coba kita perhatikan kata Tuhan segala agama, apa sesungguhnya maksud dibalik kata-kata itu, bukankah maksudnya adalah untuk membenarkan segala ajaran, yakni Tuhan semua ajaran itu adalah Allah, dan agama apa saja yang tuhannya adalah Allah maka itu benar!. Kami katakana demikian karena mereka membenarkan agama-agama selain Islam seperti agama Nashrani, Yahudi dan lainnya.
Bila memang demikian, apa artinya amar ma’ruf dan nahi mungkar salah satu prinsip agung didalam agama Islam. Apa artinya perintah berdakwah mengajak mereka untuk masuk Islam dan meninggalkan agama lain. Apa artinya wala’ dan bara’ jika mereka benar. Lalu, ketika menyebutkan landasan-landasan JIL dalam menafsirkan Islam, mereka menyebutkan:
Landasan JIL yang Pertama
Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam
Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi).
Kritik :
Perhatikan kata ‘semua dimensi Islam’ yang kemudian ditafsirkan dengan ‘dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi). Lebih para lagi ijtihad ala mereka ini dianggap sebagai benteng pertahanan Islam dalam segala cuaca, sedang tanpa ijtihad ala mereka maka Islam akan mengalami pembusukan. Bayangkan wahai para pembaca, ucapan yang segitu muluk-muluk padahal itu bathil. Dasar mulut besar… secara teori dan realita, ucapan mereka jelas bathil, karena pada kenyataannya justru Islam dan kaum muslimin terombang-ambing, bingung dan resah dengan gagasan dan “ijtihad” mereka. Bagaimana mungkin dikatakan sebagai benteng pertahanan sementara justru menggoncangkan. Dan bukankah itu sebetulnya tujuan kalian beserta cukong-cukong kalian yaitu menggoncangkan dan bukannya mempertahankan!. Yang benar justru sebaliknya, justru dengan “ijtihad” dan gagasan kalian Islam akan mengalami pembusukan menurut istilah kalian sehingga JIL adalah jaringan busuk. Islam yang dianut JIL adalah Islam yang busuk bukan Islam yang Allah turunkan. Dan tanpa kalian beserta “ijtihad” kalian, Islam akan bertahan dalam segala cuaca. Yang mempertahankan Islam bukan kalian tapi Allah dan dengan cara Allah bukan dengan cara kalian.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia (Allah) akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS. Muhammad: 7]
Nabi Saw Bersabda: Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnahku, keduanya tidak akan terpisah sampai datang di telaga. [HR. Malik]
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw bersabda: Agama ini akan tetap jaya selama orang-orang menyegerakan berbuka karena Yahudi dan Nashrani mereka melambatkan. [HR. abu Dawud]
Dari Ubai bin ka’ab, ia mengatakan, Rasulullah bersabda: Berikanlah umat ini kabar gembira dengan kecermelangan, keunggulan,pertolongan dan kemapanan dimuka bumi. Maka barangsiapa yang mengamalkan amalan akhirat demi dunia, dia tidak kan mendapatkan bagian di akherat. [HR.Ahmad]
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dari Nabi, beliau bersabda : sekelompok dari umatku akan tetap unggul (dalam riwayat lain: diatas kebenaran) sehinga datang perintah Allah dan mereka tetap dalam keadaan unggul. [HR. Muslim dan Al-Bukhari]
“Tidak dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang memperbaiki awalnya”
Demikian kata Al-Imam Malik.
Islam yang asli tidak akan busuk sepanjang masa, dengan syarat melakukan apa yang terdapat dalam dalil-dalil diatas. Zaman pun tidak akan pernah kosong dari orang-orang yang berada di atas kebenaran. Siapa mereka? Mereka adalah Ahlul hadist bukan JIL.
Lalu, mereka sebutkan bahwa salah satu lahan ijtihad adalah ilahiyyat (teologi). Apa kira-kira tujuan mereka? Nampak jelas, tujuannya adalah untuk melegimitasi paham pluralisme agama. Dengan itu terbuka kedok mereka ketikamembuka pintu bidang ijtihad seluas-luasnya.
Lama-lama ajaran mereka bisa seperti ajaran Ilyasiq bangsa Tartar yang mengadopsi berbagai ajaran agama, lalu diracik menjadi satu akhirnya jadi agama gado-gado, bernama ajaran Ilyasiq.
Islam tidak melarang ijtihad namun ada aturannya, karena Islam agama yang teratur dan indah bukan agama semrawut bebas aturan. Saya akan sebutkan di sini adalah aturan dalam lapangan ijtihad. Para ulama dalam buku-buku ushul fikih menyebutkan syarat-syarat diperbolehkan ijtihad terhadap permasalahan yang ada. Secara ringkas demikian:
- Masalah tersebut tidak ada nashnya yakni tidak ada dalil tegas yang menerangkannya atau tidak ada ijma’ padanya
- Kalaupun ada dalilnya tapi tidak tegas menerangkanmaksudnya sehingga masih membawa beberapa kemungkinan.
- Bukan perkara akidah karena ijtihad dan qiyas itu hanya dalam masalah hukum itupun tidak semua.
- Masalah tersebut memang baru mucul atau belum muncul namun sangat mungkin muncul dan dibutuhkan mendesak.
Dari situ, apakah perkara ketuhanan adalah salah satu ajang ijtihad? Tentu tidak, karena ini adalah perkara akidah bahkan initiakidah, bukan masalah baru. Nashnya banyak dan sangat tegas dan tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan yang berbeda-beda. Kalau orang-orang JIL mengatakan ini tidak jelas, lalu apa yang jelas bagi mereka? Berarti semuanya meragukan dan itulah hakikat orang-orang JIL, meragukan sesuatu yang jelas. Pada masa lalu manhaj orang-orang seperti ini disebut oleh ibnu Taimiyah dengan safsathah dan qarmathah.
Safsathah adalah sikap kelompok safsathaiyyah, sekelompok ahli filsafat yang mengingkari hakikat yang sudah jelas dan sangat dimaklumi dengan berbagai macam cara pengkaburan.
Qarmathah adalah sikap kelompok Qaramithah yaitu kelompok yang paling banyak menyelewengkan dalil-dalil naqli.
Allah Berfirman:
Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan Bumi? [QS. Ibrahim: 10]
Penyair mengatakan:
Dan tidak ada sesuatu yang benar dalam otak ini.
Bila (untuk menunjukkan) siang saja butuh kepada dalil.
Juga, tidak semua orang boleh melakukan ijtihad, tetapi harus memenuhi syarat dan tidak sembarangan. Kalau semua orang boleh ijtihad akhirnya maling berijtihad untuk menafsirkan ayat, rentenir berijtihad, peminum khamr berijtihad, pelacur berijtihad sehingga akan ada tafsir ayat Al-Quran menurut maling, penjudi, pelacur dan lain-lain dan itu memang arah JIL. Ini bukan omong kosong, akan semakin jelas kebenaran apa yang saya ucapkan ini pada pembahasan yang akan datang ketika mereka berpendapat bahwa ayat harus ditafsikan dengan konstektual yang ada, setiap waktu bisa berbeda. Atas dasar itu Ulil berencana buat buku tafsir.
Landasan JIL yang Kedua
Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.
Ijthad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.
Kritik :
Lihat metode tafsir mereka ‘semangat religio-etik’, tanpa ada batasan dan aturan yang jelas. Maksudnya adalah membuka lebar-lebar kebebasan menafsirkan ayat atau hadist nabi tanpa kaidah dan aturan, karena ajaran mereka memang ajaran yang tidak beraturan. Bukankah ini artinya membuka lebar-lebar pintu al-qaul ‘ala Allah bi la ilm ( bicara tentang Allah dan agama Allah tanpa ilmu ), yang itu adalah termasuk dosa besar.
Sungguh benar apa yang Allah Firmankan :
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat (belum jelas) untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya.” [QS. Ali Imran: 7]
Ibnu Katsir mengatakan: Menginginkan fitnah artinya ingin menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan bahwa mereka berhujjah dengan Al-Quran atas bid’ah mereka padahal Al-Qur’an itu sendiri menyelisihnya.
Mencari-cari ta’wilnya: Artinya menyelewengkan maknanya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Mereka memperalat istilah yang belum jelas agar dapat mengarahkan saja sesuai keinginan mereka. Tujuannya ingin menundukkan ayat dan hadist demi kepentingan hawa nafsu mereka dan bos-bos mereka.
Lihat kata-kata mereka ‘Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam’ bukankah konsekuensinya adalah bahwa Nabi dan para sahabatnya melumpuhkan Islam? Juga, tafsir para ulama semuanya merupakan kelumpuhan pada Islam, sehingga Islam yang ada adalah Islam yang lumpuh. Dan kalau demikian berarti Allah salah ketika memilih mereka sebagai penegak agama? Dan kalau demikian, berarti Allah tidak sempurna Ilmu dan Kekuasaan-Nya karena salah pilih dan bisa ditipu atau dikhianati? Demikian bahaya, dan sungguh mungkar apa yang mereka ucapkan.
Pembaca yang budiman, demikianlah tutur orang yang berakal dan mengaku muslim ? kalau begitu untuk apa Allah percayakan agama ini kepada Nabi Muhammad, dan Allah percayakan para sahabat untuk mendampingi Nabi dan meneruskanrisalah ini ?! Padahal Allah Berfirman :
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan”. [QS. Al-An’am: 124]
“Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki da memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. [QS. Al-Qashash: 68]
Lihat pula kata-kata setelahnya ‘Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang’. Berarti selama 14 abad ini, termasuk abad Nabi, yang disebutkan Nabi sebaik-baik generasi Islam, mati dan tidak berkembang, kemudian muncul mereka dan orang-orang yang semacam mereka untuk menghidupkan Islam ?
Betapa arogan mereka. Kata-kata mereka itu mengandung kekafiran, dan konsekuensinya begitu mengerikan. Menurut logika mereka, Islam yang hidup adalah yang berpandangan semua agama sama saja, muslimah boleh dinikahi (baca:dihinakan) orang yang durhaka (baca:kafir) kepada Allah, orang yang membunuh jiwa justru dimuliakan dengan tidak di qishash, jiwa yang terbunuh dan terdhalimi semakin ditindas dan dirampas haknya dengan tidak boleh menuntut qishash, memuliakan pencuri dan menahan hak orang yang dicuri, menghinakan wanita yang berpakaian sopan dengan busana muslimahnya dan menjunjung tinggi wanita bugil yang jorok.
Artinya, kembali kepada Jahiliyah!! Itulah Islam yang hidup menurut mereka. Untuk apa nabi diutus? Bukankah untuk menentang Jahiliyyah ?!.



Useful blog website, keep me personally through searching it, I am seriously interested to find out another recommendation of it.
This is my first time i visit here. I found so many intriguing stuff in your blog site specifically its discussion. From the tons of reviews on your articles, I guess I am not the only one having all the enjoyment here! keep up the very good work.