<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CAHAYA IMAN &#187; Muamalah</title>
	<atom:link href="http://cahaya-iman.web.id/category/muamalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahaya-iman.web.id</link>
	<description>Menuju Muslim Sejati</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 06:40:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Hidup Ini Pilihan Atau Takdir&#8230;.?</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/hidup-ini-pilihan-atau-takdir/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/hidup-ini-pilihan-atau-takdir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 07:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Ya sudahlah.. percuma aku berusaha lebih keras lagi, ini sudah takdirku… Untuk apa menda’wahkan Islam untuk memperbaiki ummat?! kenyataan bahwa kaum muslim kini terpuruk sudah takdir yang diberikan Allah… Semua penderitaan kita sudah tertulis di Lauh al-Mahfudz, jadi walaupun kita terus berjuang merubah kemunkaran, tidak akan ada yang berubah! Sudah garis tangannya si fulan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ya sudahlah.. percuma aku berusaha lebih keras lagi, ini sudah takdirku…</em></p>
<p><em>Untuk apa menda’wahkan Islam untuk memperbaiki ummat?!<br />
kenyataan bahwa kaum muslim kini terpuruk sudah takdir yang diberikan Allah…<br />
</em><br />
<em>Semua penderitaan kita sudah tertulis di Lauh al-Mahfudz,<br />
jadi walaupun kita terus berjuang merubah kemunkaran, tidak akan ada yang berubah!</em></p>
<p><em>Sudah garis tangannya si fulan untuk menjadi ustadz yang paham agama,<br />
sedangkan aku garis tangannya menjadi pengusaha,<br />
oleh karena itu bukan urusanku untuk menyampaikan agama Islam..</em></p>
<p><em>Rizki itu di tangan Allah, semua sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan di dunia,<br />
jadi jangan kuatir dengan rizki, kalau memang rizki itu milik kita,<br />
ia akan datang walaupun kita tidak mengusahakannya…</em></p>
<p><em>Kegagalan saya bukanlah kesalahan saya, melainkan sudah takdir dari yang Maha Kuasa…<br />
</em><br />
Kata-kata takdir seringkali membatasi manusia dari melakukan yang  terbaik dari dirinya, menjadi yang terbaik, dan merubah sesuatu yang  berada di depannya. Kata ini seolah-olah menjadi legitimasi bagi  seseorang untuk melakukan aktivitasnya secara minimalis dan menjadi  alasan khususnya bagi kaum muslim untuk menghindar dan mengelak dari  seruan Tuhan mereka.</p>
<p>Kesalahan pandangan terhadap konsep takdir biasanya dimulai dari  tidak tepatnya seseorang mengartikan ketiga hal yang berkaitan dengan  Allah, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Mereka yang  berpandangan salah tentang konsep takdir merasa bahwa apa yang mereka  lakukan dan yang terjadi di dunia sudah diketahui oleh Allah sebagai  yang Maha Tahu, sudah dikehendaki Allah sebagai yang Maha Berkehendak  serta sudah tertulis di dalam Lauh al-Mahfudz. Sehingga sebagai manusia,  makhluk yang terbatas, mereka merasa terpaksa berada dalam kondisi yang  memang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Padahal ketiga hal  tersebut, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz tidak  boleh sekali-kali dicampuradukan dengan pembahasan takdir, karena tidak  seorangpun yang mengetahui ilmu Allah, seperti apa Allah berkehendak  atas dirinya, dan juga tidak mengetahui apa yang tertulis di dalam Lauh  al-Mahfudz.</p>
<p>Ada sebuah ilustrasi yang sangat masyhur, adalah seorang pencuri yang  tertangkap dimasa pemerintahan Islam sedang jaya-jayanya. Sang pencuri  ini tengah diproses oleh seorang Hakim. Lalu si pencuri berkata membela  diri ”Wahai tuan hakim, sungguh tidak pantas tuan menghukum saya”, dia  melanjutkan ”karena apa yang saya lakukan ini sesungguhnya sudah  diketahui oleh Allah dan Allah membiarkannya (mengizinkannya), dan  sesungguhnya Allah-lah yang berkehendak atas terjadinya pencurian ini,  dan kita semua tahu, di Lauh al-Mahfudz sesungguhnya telah tertulis  semua aktivitas kita dari mulai dilahirkan sampai kita menemui ajal,  termasuk pencurian ini sesungguhnya telah tertulis di kitab tersebut,  sehingga tidak pantas tuan hakim menjatuhkan hukuman kepada saya, karena  perbuatan ini bukan karena kehendak saya”. Hakim tersebut lalu berfikir  tentang hal tersebut, setelah lama berfikir akhirnya ia mengeluarkan  keputusan untuk menghukum si pencuri itu. ”Baik, masukkan dia kedalam  sel penjara!”, ujarnya. Si pencuri protes kepada tuan hakim dengan  penjelasannya yang panjang lebar tadi, yang intinya adalah pencurian itu  bukan kehendaknya tetapi kehendak Allah, atau sudah nasibnya. Sang  hakim pun berkata dengan tenang ”Sebenarnya saya tidak mau menjatuhkan  hukuman kepadamu, tetapi bagaimana lagi, ini juga kehendak Allah, dan di  Lauh al-Mahfudz juga sudah tertulis pada hari ini dan waktu ini saya  mengeluarkan hukuman penjara bagimu!”</p>
<p>Ilustrasi diatas memberikan kita kejelasan, bahwa si pencuri mencoba  mencampuradukkan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz dalam  pembahasan takdir, sehingga pembahasan takdir menjadi kacau. Dan sampai  sekarangpun masih banyak kelompok atau individu yang salah memahami  konsep takdir, sehingga termasuklah mereka kedalam kaum fatalis, yaitu  kaum yang menganggap bahwa manusia seperti daun yang terombang ambing di  permukaan air, dengan kata lain, manusia tidak mempunyai pilihan untuk  mengarahkan hidupnya. Kaum fatalis ini menganggap masuknya manusia  kedalam surga ataupun kedalam neraka sesungguhnya telah ditentukan sejak  awal, dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk mengubahnya.</p>
<p>Sehingga, jika kita menginginkan untuk berfikir efektif dan  produktif, hendaknya kita tidak boleh mencampuradukkan pembahasan takdir  dengan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Tidak kita  sangsikan bahwa Allah pasti mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada  dunia yang diciptakan-Nya, ia juga mengetahui semua perbuatan hamba-Nya,  baik yang telah kita perbuat, yang sedang kita buat maupun yang akan  kita perbuat. Dan kita pun tahu bahwa apa pun yang menjadi kehendak  Allah pastilah terjadi diatas muka bumi ini. Kita pun yakin bahwa semua  perbuatan kita dari lahir hingga mati sesungguhnya telah tertulis di  Lauh al-Mahfudz. Tetapi, semua itu tidak berarti kita tidak bisa memilih  apa yang kita perbuat. Sebagai contoh, Allah sudah mengetahui dan  berkehendak Anda membaca artikel ini. di Lauh al-Mahfudz pun sudah  tertulis, pada tanggal ini jam sekian Anda membaca sampai pada  pembahasan takdir ini. Tetapi Anda juga ingat bahwa ketika berada di  website ini Anda bisa memilih dengan bebas apakah artikel ini ataukah  artikel lain yang Anda baca. Dengan kata lain, Anda memiliki pilihan  untuk melakukan sesuatu, memilih sesuatu dan menjadi sesuatu. Kehendak  bebas atau kesempatan memilih yang diberikan Allah kepada manusia inilah  yang akhirnya melahirkan konsekuensi logis, yaitu pertanggungjawaban  manusia atas perbuatan-perbuatan yang dipilih olehnya.  Pertanggungjawaban ini di akhirat kita sebut dengan prosesi hisab. Di  dunia pun, sudah sewajarnya bila kita dimintai pertanggungjawaban atas  apa yang dipilihnya.</p>
<p>Pada seorang individu, selain perbuatan-perbuatan atau  kejadian-kejadian yang bisa dipilih dan berada di dalam kendali manusia  untuk memilihnya, ada juga kejadian-kejadian dimana manusia tidak  mempunyai pilihan atasnya, dan dipaksakan terjadi atas manusia itu,  serta sudah ditetapkan atas manusia, baik dia suka maupun tidak,  misalnya manusia pasti akan mati, wanita memiliki kemampuan melahirkan,  pria memiliki kecenderungan kepada wanita, matahari terbit dari timur  dan terbenam di barat, bencana alam yang terjadi dan lain-lain. Dalam  hal ini, Allah tidak memberikan ruang kepada manusia untuk memilih,  sehingga apapun yang terjadi, manusia tidak perlu atau tidak akan  dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi, karena hal itu tidak  dapat dipilihnya. Di dunia pun anda tidak akan dimintai  pertanggungjawaban atas hal yang tidak bisa anda pilih. Misalnya, tidak  seorang pun bertanya kepada Anda, kenapa anda adalah seorang pria? atau  bertanya kepada Anda, mengapa matahari terbit dari timur? Mengapa  manusia akan mati?. Sekali lagi, dalam hal yang tidak bisa kita pilih,  kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada  diri kita maupun orang lain.</p>
<p>Sederhananya adalah, kejadian-kejadian yang terjadi pada manusia bisa  dikelompokkan dalam dua bagian. bagian pertama adalah kejadian yang  terjadi pada diri manusia yang dapat dipilih, bagian kedua adalah  kejadian yang terjadi pada diri manusia yang tidak dapat dipilih, atau  dipaksa terjadi atasnya. Pada bagian pertama, kita bisa memilih  perbuatan atau kejadian sesuai keinginan kita, karena itulah kejadian  itu akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini berarti, menjadi rajin  ataupun menjadi malas, menjadi orang yang amanah atau yang khianat,  menjadi seorang pemarah atau penyabar, menaati perintah Allah atau  membangkangnya adalah sesuatu yang dapat kita pilih.</p>
<p>Sedangkan pada bagian kedua, kita dipaksa menerima kejadian itu dan  tidak diberikan pilihan, inilah yang kita sebut takdir. Dan terhadap  takdir atau ketetapan yang diberikan kepada kita, baik atau burauknya  itu menurut kita, maka kita wajib mengimaninya, dan yakin bahwa itu yang  terbaik untuk kita yang berasal dari Allah swt. Prakteknya dalam  kehidupan sehari-hari, jika sesuatu terjadi atas kita ataupun terhadap  orang lain, dan itu tidak dapat dipilihnya, maka kita tidak boleh protes  atau mengeluh secara berlebihan, serta tidak boleh menyalahkan diri  sendiri atas kejadian itu. Karena itu semua berasal dari Allah, dzat  yang maha memberi ketetapan, dan apa yang diberikan oleh-Nya pasti baik.</p>
<p>Setelah pembahasan ini, kita menyadari bahwa tidak sepatutnya kita  menyalahkan takdir atas kejadian-kejadian yang sebenarnya bisa kita  pilih. Apa yang terjadi di masa yang lalu mungkin beberapa diantaranya  termasuk dalam hal yang bisa kita pilih. Masa depan pun sesungguhnya  bisa kita pilih, ingin menjadi apakah Anda?</p>
<p>Felix Siauw &#8211; Islamic Inspirator</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/hidup-ini-pilihan-atau-takdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya 3 Kali Allah Swt Memanggil Umat Islam</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/hanya-3-kali-allah-swt-memanggil-umat-islam/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/hanya-3-kali-allah-swt-memanggil-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 04:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah memanggil umat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Makah&#8230;&#8230;.aku bertanya pada Ibu, Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di  bulan July 2007 yang lalu. Ibu ada cerita apa yang menarik dari Umrah&#8230;.? (Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah). Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Kebetulan umrahku dimulai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Makah&#8230;&#8230;.aku bertanya pada Ibu, Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di  bulan July 2007 yang lalu.</p>
<p>Ibu ada cerita apa yang menarik dari Umrah&#8230;.? (Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah). Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya.</p>
<p>Kebetulan umrahku dimulai di Madinah selama 4 hari, baru ke Makah. Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah.</p>
<p>Ibu berkata&#8230;<br />
Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup</p>
<p>Keningku berkerut&#8230;.<br />
&#8216;Sedikit sekali Allah memanggil kita..?&#8217;</p>
<p>Ibu tersenyum.<br />
&#8216;Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?&#8217;<br />
Saya menggelengkan kepala</p>
<p>1. Panggilan Pertama</p>
<p>Azan,, ujar Ibu<br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://edymas.files.wordpress.com/2009/06/azan.jpg" border="0" alt="" width="322" height="280" /><br />
&#8216;Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.<br />
Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak &#8216;cepat marah&#8217; akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti.<br />
Saya terpekur&#8230;. .mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain. Masya Allah&#8230;&#8230;.</p>
<p>2. Panggilan Kedua</p>
<p>Umrah/Haji<br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://www.shahrir-umno.com/images/mekah.gif" border="0" alt="" width="323" height="209" /><br />
Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya &#8216;bergiliran&#8217; .<br />
Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalan nya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi, ada yang memang erencanakan dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan &#8216;Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan&#8217;, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua.</p>
<p>Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali.</p>
<p>Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu&#8217;.<br />
Mata saya semakin berkaca-kaca. &#8230;&#8230;..Subhanallah&#8230;&#8230; .saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan&#8230;..Alhamdulillah&#8230;</p>
<p>3. Panggilan Ketiga</p>
<p>KEMATIAN<br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://masnya.files.wordpress.com/2009/04/mayat2.jpg" border="0" alt="" width="382" height="246" /></p>
<p>Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu , manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah&#8230;. &#8230;&#8230;.Insya Allah syurga adalah balasannya.. &#8230;&#8217;</p>
<p>Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya. &#8230;.Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan berniat&#8230;&#8230;&#8230;Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam&#8230;&#8230;.</p>
<p>Huraisy</p>
<p>Pada hari kiamat akan keluar seekor binatang dari neraka jahanam yang<br />
bernama &#8216;Huraisy&#8217; berasal dari anak kalajengking. Besarnya Huraisy ini<br />
dari timur hingga ke barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi.</p>
<p>Malaikat Jibril bertanya : &#8216;Hai Huraisy! Engkau hendak ke mana dan siapa yang kau carim?&#8217; Huraisy pun menjawab, &#8216;Aku mau mencari lima orang&#8217;</p>
<p>1. orang yang meninggalkan sholat</p>
<p>2. orang yang tidak mau keluarkan zakat</p>
<p>3. orang yang durhaka kepada ibu dan bapaknya</p>
<p>4. orang yang bercakap tentang dunia di dalam mesjid</p>
<p>5. orang yang suka minum arak</p>
<p>Wallahualam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/hanya-3-kali-allah-swt-memanggil-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Pengantin Bidadari</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/01/kisah-penganti-bidadari/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/01/kisah-penganti-bidadari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 02:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin]]></category>
		<category><![CDATA[syahid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama  Zulebid.</p>
<p>Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para  sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan  taat.</p>
<p>Dari  sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang  telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu  menikah.</p>
<p>Beberapa kali ia meminang gadis di  kota itu, namun selalu  ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai  alasan.</p>
<p>Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan  tersebut kepada sahabat yang dekat dengan  Rasulullah.</p>
<p>“Coba  engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang  terbaik bagimu”, nasihat mereka.</p>
<p>Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda  Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:</p>
<p>“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si  Fulan?”</p>
<p>“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya  Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan  hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari  siapapun.</p>
<p>“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda  Nabi.</p>
<p>“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap  dan pergi ke rumah si Fulan.</p>
<p>Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh  Fulan</p>
<p>“Ada  keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya  Fulan.</p>
<p>“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak  meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit  gugup.</p>
<p>“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan  dulu kepada putriku.”</p>
<p>Fulan  menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai  putriku?”</p>
<p>Jawab  putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka  terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi  istrinya.”</p>
<p>Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan  dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke  rumahnya.</p>
<p>Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai  Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau  idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi  suamimu?”</p>
<p>Jawab  istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu  Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain  menanti tibanya malam yang dinantikan para  pengantin.”</p>
<p>Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika  kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu.  Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid,  panggilan berjihad dalam perang.</p>
<p>Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui  istrinya.</p>
<p>“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke  relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah  untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum  keberangkatanku ke  medan  perang.</p>
<p>Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita  ini.”</p>
<p>Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula  bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar  kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku  menyertaimu”</p>
<p>***</p>
<p>Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara  muslim menuju ke medan  perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga  beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju  sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari  arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.</p>
<p>Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah  lainnya yang berseliweran di udara.</p>
<p>Ia  merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai  terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa  panggilan Allah sudah begitu dekat.</p>
<p>Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu  dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian  bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu  dihormati, dijunjung dan dikaguminya.</p>
<p>Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang  baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia  berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya.  Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan  matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur  sebagai syuhada.</p>
<p>***</p>
<p>Senja  datang</p>
<p>Angin  mendesau, sepi…</p>
<p>Pasir-pasir beterbangan…</p>
<p>Berputar-putar…</p>
<p>Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang  gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid  yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah  zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada  lain.</p>
<p>Tanpa  dimandikan…</p>
<p>Tanpa  dikafankan…</p>
<p>Tanah  terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.</p>
<p>Rasulullah terpekur di samping pusara  tersebut.</p>
<p>Para sahabat terdiam  membisu.</p>
<p>Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti  menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata  beliau</p>
<p>Lalu  beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum.  Wajah beliau berubah menjadi cerah.</p>
<p>Belum  hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke  samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata  beliau.</p>
<p>Akhirnya keadaan kembali seperti  semula.</p>
<p>Para shahabat lalu  bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.</p>
<p>“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau  menangis?”</p>
<p>Jawab  Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku  datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini  juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam  Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”</p>
<p>“Lalu  mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat  lagi.</p>
<p>” Aku  menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi  wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,”  Jawab Rasulullah.</p>
<p>“Dan  lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?”  Tanya mereka lagi.</p>
<p>“Aku  mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya  bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan  dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang  sedikit tersingkap betisnya….”</p>
<p>***</p>
<p>Di  rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika  terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha  Karya.</p>
<p>Malam  menjelang…</p>
<p>Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi  dan dan nyata.</p>
<p>Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari  kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan  pula.</p>
<p>Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja.  Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila  aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu….</p>
<p>Dan  kan kubiarkan engkau  yang tercantik di hatiku.&#8221;</p>
<p>Istri  Zulebid, terdiam.</p>
<p>Matanya basah…</p>
<p>Ada sesuatu yang  menggenang disana..</p>
<p>Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi  pagi..</p>
<p>Dan  bayangan suaminya yang baru saja hadir..</p>
<p>Ia  menggerakkan bibirnya..</p>
<p>“Suamiku, aku mencintaimu…</p>
<p>Dan  dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..</p>
<p>Aku  ikhlas….&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/01/kisah-penganti-bidadari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Sholat yang Paling Dicintai Alloh</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/puasa-dan-sholat-yang-paling-dicintai-alloh/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/puasa-dan-sholat-yang-paling-dicintai-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 06:31:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Alloh adalah puasa Dawud dan sholat yang paling dicintai Alloh adalah sholatnya Dawud; beliau itu tidur setengah malam dan bangun di sepertiga sesudahnya lalu tidur seperenam malam sisanya, dan beliau senantiasa berpuasa sehari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Alloh adalah puasa Dawud dan sholat yang paling dicintai Alloh adalah sholatnya Dawud; beliau itu tidur setengah malam dan bangun di sepertiga sesudahnya lalu tidur seperenam malam sisanya, dan beliau senantiasa berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori dalam kitab <em>Tahajjud</em> no. 1131 dan dalam kitab <em>Ahaaditsul Anbiyaa’</em> no. 3402, Muslim dalam kitab <em>Shiyaam</em> 1159, 189, Abu Dawud dalam kitab <em>Shoum</em> no. 2448, Ad Daarimi II/20 dalam kitab <em>Shoum</em>, Ibnu Maajah dalam kitab <em>Shiyaam</em> no. 1712 dan Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya II/160)</p>
<p><span id="more-319"> </span></p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Sehari berpuasa dan sehari berbuka merupakan amalan puasa yang paling utama karena di dalamnya sudah menyamai puasa Dahr.</li>
<li>Tidur di setengah malam pertama, kemudian bangun untuk sholat di sepertiga sesudahnya, lalu tidur seperenam sisanya merupakan tata cara sholat malam yang paling utama karena pada cara ini tubuh dipenuhi kebutuhannya untuk beristirahat terlebih dulu kemudian bangun malam di waktu-waktu turunnya Alloh ke langit dunia lalu tidur seperenam sisanya supaya tubuh lebih segar dalam melakukan sholat shubuh dan untuk berdzikir sesudahnya.</li>
<li>Ibadah itu penuh keseimbangan dan keadilan, sehingga tidak boleh lalai dari beribadah kepada-Nya dan juga tidak boleh berlebih-lebihan dalam mengerjakannya, karena Robbmu itu memiliki hak atasmu, demikian juga keluargamu maka tunaikanlah setiap hak kepada pemiliknya.</li>
<li>Alloh Tabaaroka wa Ta’aala telah menyediakan berbagai macam ibadah bagimu, apabila kamu terlalu memforsir diri hanya pada salah satunya bisa saja menyebabkan yang lainnya tertinggal, maka sudah semestinya kamu sisakan kekuatan untuk mengerjakan yang lainnya. Kebiasaan yang berjalan pada manusia seperti bergaul dengan keluarga, mengunjungi sahabat-sahabat, mencari rizki, berbincang-bincang dengan anak-anak, tidur; itu semua bisa bernilai ibadah apabila diniatkan untuk meraih pahala dan menunaikan hak-hak sesama. Jadi keutamaan yang Allah sediakan amatlah luas dan kebaikan-Nya amatlah agung (lihat <em>Taisirul ‘Allaam</em> Juz I hal. 388).</li>
</ol>
<p><strong>Puasa 3 Hari Setiap Bulan</strong></p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: “Kekasihku shollallohu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa 3 hari setiap bulan, sholat 2 rokaat Dhuha dan sholat witir sebelum tidur.”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori di kitab <em>Shoum</em> no. 1981, kitab <em>Tahajud</em> no. 1178, Muslim dalam kitab <em>Sholatul Musafirin</em> no. 721, Abu Dawud dalam kitab <em>Sholat</em> no. 1432, Ad Daarimi dalam kitab <em>Sholat</em> I/339, II/18,19 di kitab <em>Shoum</em>, Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya II/258, 271, 277, 402, 459, 497, 526)</p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Disunnahkan puasa tiga hari setiap bulan, yaitu pada tanggal 13, 14 dan 15 sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Qotadah bin Malhan yang diriwayatkan oleh Ahlu Sunan, beliau mengatakan: <em>Dahulu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa pada hari-hari putih yaitu pada tanggal 13, 14 dan 15, dan beliau mengatakan “Puasa ini setara dengan puasa sepanjang masa.”</em></li>
<li>Disunnahkan melakukan sholat Dhuha serta sering-sering melakukannya bagi orang yang tidak kuat bangun sholat malam agar dia tidak kehilangan sholat (sunnah) siang dan malam sekaligus.</li>
<li>Mengerjakan witir sebelum tidur bagi orang yang berdasarkan perkiraan kuat tidak kuat untuk bangun di akhir malam, adapun orang yang merasa kuat untuk bangun di akhir malam hendaknya dia mengerjakan di akhir malam, dan apabila luput darinya karena tidur atau lupa disunnahkan untuk mengqodho’nya.</li>
<li>Tiga hukum yang disebutkan dalam hadits ini termasuk wasiat Nabi yang sangat berharga yang sudah semestinya diperhatikan dan bersemangat dalam mengerjakannya, sebab mengandung manfaat yang amat besar dan kedudukannya sangat mulia (lihat <em>Taisirul ‘Allaam</em> juz I hal 390).</li>
</ol>
<p><strong>Larangan Puasa di hari Jum’at</strong></p>
<p>Dari Muhammad bin ‘Abbaad bin Ja’far beliau mengatakan: <em>“Aku pernah bertanya kepada Jabir bin ‘Abdillah: ‘Apakah Nabi shollallohu ‘alihi wa sallam melarang puasa di hari Jum’at?’ Dia menjawab: ‘Ya.’”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori dalam kitab <em>Shoum</em> no. 1984, Muslim dalam kitab <em>Shiyam</em> no. 1143)</p>
<p>Imam Muslim memberikan tambahan riwayat: <em>“(ya) Demi Rabb ka’bah.”</em></p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau bekata: Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa di hari Jum’at, kecuali sehari sebelum atau sesudahnya berpuasa.”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori dalam kitab <em>Shoum</em> no. 1985, Muslim dalam kitab <em>Shiyaam</em> no. 1144, Abu Dawud dalam kitab <em>Shoum</em> no. 2420, At Tirmidzi dalam kitab <em>Shoum</em> no. 743, Ibnu Maajah di  kitab <em>Shiyam</em> no. 1723)</p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Larangan mengerjakan puasa di hari Jum’at saja.</li>
<li>Hal itu boleh dilakukan apabila diiringi puasa sehari sebelum atau sesudahnya, atau karena bertepatan dengan puasa yang sudah biasa dikerjakan (misal Puasa Dawud, pent).</li>
<li>Larangan puasa di dalam hadits ini dibawa menuju hukum makruh li tanzih (bukan haram) karena Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> pernah berpuasa pada hari itu dalam rangkaian puasa yang biasa beliau lakukan. Beliau memberikan keringanan bolehnya berpuasa pada hari itu apabila diiringi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya, seandainya larangan ini dibawa ke hukum haram niscaya tidak boleh puasa di hari itu sebagimana haramnya berpuasa di hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (lihat <em>Taisirul’Allaam</em> juz I hal. 391).</li>
</ol>
<p><strong>Larangan Puasa di Hari Raya</strong></p>
<p><em>Dari Abu ‘Ubaid maula Ibnu Azhar yang bernama Sa’ad bin ‘Ubaid, beliau berkata: “Aku pernah menghadiri hari raya bersama ‘Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu dan beliau berkata dalam khotbahnya: Dua hari raya ini dilarang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakan puasa, yaitu hari kalian ber idul fithri dan hari kalian menyembelih kurban.”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori dalam kitab <em>Shoum</em> no. 1990, kitab <em>Al Adhoohi</em> no. 5571, Muslim dalam kitab <em>Shiyaam</em> no. 1137, Abu Dawud no. 2416, At Tirmidzi dalam kitab <em>Shoum</em> no. 771, Ibnu Maajah dalam kitab <em>Shiyaam</em> no. 1772)</p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Diharamkan berpuasa pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.</li>
<li>Puasa pada dua hari itu tidak dianggap sebagai puasa sehingga hukumnya tidak sah apabila dilakukan, sama saja apakah karena qodho’ atau puasa sunnah, atau puasa nadzar.</li>
<li>Hikmah larangan puasa pada hari itu adalah sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits: masuknya Idul Fithri adalah tanda berakhirnya bulan Romadhon maka hendaknya dibedakan dan supaya diketahui batas puasa wajib dengan merayakan Idul Fithri. Demikian pula beliau melarang puasa sehari atau dua hari sebelum Romadhon dalam rangka membedakan bulan puasa ini dengan bulan-bulan yang lainnya.</li>
<li>Disunnahkan bagi khothib mengingatkan hukum-hukum yang terkait dengan kondisi pada saat dia berbicara dan hendaknya dia berusaha memilih tema-tema yang bersesuaian (Lihat <em>Taisirul ‘Allaam</em> juz I hal. 392).</li>
</ol>
<p><strong>Balasan Bagi Orang yang Berpuasa Ketika Berjihad Fii Sabiilillaah</strong></p>
<p><em>Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa berpuasa sehari ketika berjihad di jalan Alloh niscaya Alloh akan menjeuhkan wajahnya dari apai neraka sejauh perjalanan 70 tahun.”</em> (Hadits riwayat Al Bukhori dalam kitab <em>Jihad</em> no. 2840, Muslim dalam kitab <em>Shiyaam</em> 128,1153, At Tirmidzi dalam kitab <em>Fadhooilul Jihad</em> no. 1623, An Nasaa’i dalam kitab <em>Shiyaam</em> IV/173, Ibnu Maajah dalam kitab <em>Shiyaam</em> no. 1717)</p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Keutamaan berpuasa di tengah suasana jihad fii sabiilillaah serta pahala agung yang akan diberikan atasnya.</li>
<li>Disunnahkannya berpuasa ketika jihad dengan syarat tidak melemahkan kekuatan berjihad, apabila berpuasa justru membuatnya lemah maka disunnahkan baginya meninggalkan puasa karena jihad termasuk maslahat umum yang lebih luas cakupannya adapun puasa maslahatnya hanya terbatas pada diri orang yang berpuasa, karena semakin luas kemaslahatan yang terkandung dalam suatu ibadah maka itulah yang lebih utama (lihat <em>Taisirul ‘Allaam</em> juz I hal. 394).</li>
</ol>
<p>Demikianlah beberapa buah hadits yang berkenaan dengan ibadah puasa beserta faedah-faedah yang bisa dipetik darinya. Semoga bermanfaat. <em>Alhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmu sholihaat.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/puasa-dan-sholat-yang-paling-dicintai-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sholat Shubuh di Masjid</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/05/sholat-shubuh-di-masjid/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/05/sholat-shubuh-di-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 02:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat di masjid]]></category>
		<category><![CDATA[sholat shubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid . ditengah jalan menuju masjid , pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor. Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid . Dlm perjalanan kembali ke masjid , [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid.</p>
<p>Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid .</p>
<p>ditengah jalan menuju masjid , pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.</p>
<p>Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,</p>
<p>dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,</p>
<p>berjalan menuju masjid .</p>
<p>Dlm perjalanan kembali ke masjid , dia jatuh lagi di tempat yg sama!</p>
<p>Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.</p>
<p>Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,</p>
<p>berwudhu dan berjalan menuju masjid.<br />
Di tengah jalan menuju masjid ,<br />
dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.</p>
<p>Dia menanyakan id entitas pria tsb, dan pria itu menjawab :</p>
<p>&#8220;Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.&#8221;</p>
<p>Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan<br />
ke masjid.</p>
<p>Saat sampai di masjid , pria pertama bertanya kepada pria yang</p>
<p>membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.</p>
<p>Pria kedua menolak.</p>
<p>Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,</p>
<p>lagi, jawabannya sama.</p>
<p>Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.</p>
<p>Pria kedua menjawab</p>
<p><strong>Aku adalah Setan<br />
</strong><br />
Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua.</p>
<p>Setan kemudian menjelaskan,</p>
<p>&#8216;Saya melihat kamu berjalan ke masjid ,</p>
<p>dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah,</p>
<p>membersihkan badan dan kembali ke masjid ,</p>
<p>Allah memaafkan semua dosa2mu.</p>
<p>Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan</p>
<p>bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,</p>
<p>kamu tetap memutuskan kembali masjid .</p>
<p>Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu.</p>
<p>Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya,</p>
<p>jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu,</p>
<p>jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasj id dgn selamat..&#8217;</p>
<p>Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.</p>
<p>Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan</p>
<p>dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/05/sholat-shubuh-di-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Abaikan Sholat Tahajud</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/04/jangan-abaikan-sholat-tahajud/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/04/jangan-abaikan-sholat-tahajud/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 01:40:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat sholat tahud]]></category>
		<category><![CDATA[sholat lail]]></category>
		<category><![CDATA[sholat malam]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat tahajud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Jangan abaikan salat Tahajud, karena dalam pelaksanaannya memiliki makna spektrum yang luas. Di antaranya bisa menjadi manusia yang berprestasi sesuai dengan status dan tugasnya. Artinya, bila menjadi seorang ulama, jadilah ulama yang berprestasi, bila menjadi gubernur, jadilah gubernur yang berprestasi. Selain itu, berhasil atau tidaknya seseorang dalam kehidupan yang dijalaninya tergantung kepada satu hal, yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:u5jvzBfl1UWX9M:http://rusdin.files.wordpress.com/2008/03/keajaiban-shalat-tahajud_pot.jpg" alt="" width="94" height="137" />Jangan abaikan salat Tahajud, karena dalam pelaksanaannya memiliki makna spektrum yang luas. Di antaranya bisa menjadi manusia yang berprestasi sesuai dengan status dan tugasnya. Artinya, bila menjadi seorang ulama, jadilah ulama yang berprestasi, bila menjadi gubernur, jadilah gubernur yang berprestasi.</p>
<p>Selain itu, berhasil atau tidaknya seseorang dalam kehidupan yang dijalaninya tergantung kepada satu hal, yaitu salat. “Sebaik-baiknya salat setelah salat fardu adalah salat Tahajud. Jika salatnya baik, semua kehidupannya akan lurus dan benar, begitu juga dengan sebaliknya.&#8221;, jangan pernah abaikan salat Tahajud.</p>
<p><em>&#8220;Dan pada sebagian malam bertahajjudlah dengannya sebagai tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji&#8221;.</em><strong>(Surat al-Isra&#8217;, ayat 79)</strong></p>
<p>Mengapa Allah menyuruh kita bangun ditengah malam untuk melaksanakan shalat tahajjud di tengah malam? Apa rahasia dibalik perintah Allah tersebut? Apakah betul orang-orang yang bertahajjud ditengah malam akan diangkat Allah ke tempat yang terpuji?</p>
<p>*Shalat Tahajjud, Stres dan Hormon Kortisol (Hormon Stres)*Siapa bilang ajaran dalam agama Islam hanya dogma dan doktrin. DR. Muhammad Soleh, dosen IAIN Surabaya, telah mampu membantah pandangan tersebut melalui desertasi yang ia pertahankan sehingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, dengan judul &#8220;Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi&#8221;, menyimpulkan jika Anda melakukan shalat tahajjud secara rutin, benar gerakannya, ikhlas dan khusyu&#8217; niscaya Anda akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker.</p>
<p>Desertasi ini melibatkan 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa, hanya 23 yang sanggup yang sanggup menjalankan shalat tahajjud selama satu bulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan shalat tahajjud selama dua bulan. Shalat tahjjud dimulai pukul 2.00-3.30 wib sebanyak 11 rakaat, dengan dua rakaat sebanyak 4 kali dan ditutup shalat witir sebanyak tiga rakaat. Dan selanjutnya hormon kortisol (hormon stres) dari 19 siswa tersebut diperiksa di tiga laboratorium di Surabaya (Pramitha, Prodia dan Klinika).</p>
<p>Apa yang terjadi? Para siswa yang shalat tahajjud dengan rutin dan ikhlas berbeda dengan siswa yang tidak melaksanakan shalat tahajjud. Mereka yang melaksanakan shalat tahajjud tersebut memilki kadar hormon kortisol yang rendah. Hal ini menandakan mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil.</p>
<p>Hormon kortisol merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang. Makin stres seseorang maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga di waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 nmol/liter, sedangkan malam-nya 69-345 nmol/liter).</p>
<p>Stres dan depresi menjadi penyakit yang lazim di zaman sekarang ini. Stres sebenarnya keadaan yang positif bagi kita jika digunakan dalam keadaan yang masih wajar. Jika berlebihan maka kadar hormon adrenalin dan hormon kortisol akan meningkat sehingga menganggu sistem kekebalan tubuh yang akhirnya kita mudah terkena infeksi, penyakit maag, asma, dan memperburuk penyakit degenaratif kronis (kanker, diabetes, rematik dan lain-lain).</p>
<p>Dengan shalat tahajjud yang dilakukan secara rutin, ikhlas dan khusyu&#8217;akan mampu menciptakan karakter baru serta tangguh bagi pelaksananya, sehingga kita akan memiliki persepsi dan motivasi yang positip yang nantinya akan terhindar dari stres. Mungkin itulah maksud firman Allah pada surah Al-Isra&#8217;, ayat 79 diatas tentang diangkatnya para pelaksana shalat tahjjud ke tempat yang terpuji. Allahua&#8217;lam.</p>
<p>*Mengapa Harus Tengah Malam?*Kata tahajjud terambil dari kata hujud yang berarti tidur. Kata tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan Shalat Lail/Shalat Malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur. Shalat ini terdiri dari dua sampai dengan delapan rakaat.</p>
<p>Apa rahasia bangun di tengah malam untuk shalat tahajjud? Hal ini telah dijawab Allah pada surat al-Muzzammil, ayat ke 6-7, berbunyi: &#8220;Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.&#8221;</p>
<p>Dari ayat tersebut ada dua hal yang begitu mengesankan kita. Pertama, sengaja untuk bangun malam. Kedua, bacaan di malam hari memilki efek dan dampak yang lebih mengesankan. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang memiliki niat yang kuat pula. Niat yang yang kuat pasti didorong oleh motivasi yang kuat, sehingga pekerjaan tersebut akan dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.</p>
<p>Shalat tahajjud dilakukan setelah tidur. Apa manfaatnnya pula? Bangun tidur pasti pikiran kita lebih fresh-segar. Bayangkan dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengopersikan 14 milyar sel otak.</p>
<p>Manusia perlu istirahat. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Dengan tidur berarti terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik. Tak heran kalau Allah berkehendak agar shalat tahjjud dikerjakan setelah tidur. Kurang baik jika dilakukan langsung setelah kita begadang malam. Dengan pikiran yang fresh akan membantu kita untuk lebih khusyu&#8217; memaknai ayat-ayat Allah yang kita baca.</p>
<p>Bacaan di malam hari lebih mengesankan dibandingkan di siang hari, mengapa demikian? Pernahkan kita mengingat orang atau teman kita yang hobinya bermain break-breakan (orari). Mereka lebih senang akan memilih berkomunikasi di malam hari kira-kira mulai pukul 02.00-04.00 tengah malam. Kalau kita tanya kenapa mereka suka ngebreak di waktu tersebut, mereka menjawab suara yang dihasilkan di waktu itu lebih cukup bagus dan jernih, walaupun daya jangkaunya sangat jauh. Berbeda dengan siang hari suara breaker tidak begitu jelas banyak frekuensi lain yang menganggu.</p>
<p>Ini menandakan bangun di tengah malam dan bershalat tahajjud sangat baik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dan komunikasi yag kita lakukan semuanya berbasis pada pancaran energi. Penulis punya pengalaman menarik terhadap seseorang yang berumur setengah baya ketika berbicara dalam sebuah forum, dimana tutur katanya begitu santun didengar, wajahnya penuh percaya diri dan enak untuk dipandang, memiliki karakter yang kuat untuk mempengaruhi orang yang berinteraksinya dengannya. Pada sebuah kesempatan penulis bertanya :&#8221;Apa kira-kira rahasia kelebihan yang saudara miliki selama ini?&#8221;. Ia menjawab dengan singkat dan santun,&#8221;Disiplinkan diri dengan bershalat tahajjud!&#8221;.</p>
<p>*Meditasi dan Tahjjud*Meditasi berarti keheningan, diam dan kesendirian. Keheningan muncul apabila pikiran sadar kita telah berhenti sepenuhnya. Diam berarti berhentinya aktivitas fisik sedangkan kesendirian berati kita harus melakukanya sendiri tanpa bantuan, tuntutan, atau kehadiran orang lain.</p>
<p>John Kehoe, penulis buku terlaris &#8216;Mind Power&#8217; pernah melakukan tapa brata dengan menyingkirkan diri dari hiruk piruk dunia, kemudian menyepi didalam hutan untuk melakukan meditasi. Hal ini ia lakukan untuk menembus batas kesadaran tertinggi atau lapiasan terdalam pikiran bawah sadarnya melalui kesunyian dan pencarian diri.</p>
<p>Banyak dari mereka melakukan metoda meditasi lewat relaksasi senam ringan, olah napas, pindah ketempat yang sunyi dengan menghidupkan kaset-kaset, CD pencerahan. Bahkan ada yang menggunakan aroma terapi wewangian, tak heran terlalu besar biaya yang dikeluarkan hanya untuk bermeditasi saja.</p>
<p>Padahal Allah telah memberikan jalan alternatip ke kita pada 14 abad yang lalu untuk lebih dekat dengan-Nya lewat pelaksanaan shalat malam, karena shalat adalah salah satu bentuk meditasi. Selama ini kita terjebak pada belenggu diri kita sendiri yang menjadikan shalat sebagai kewajiban semata bukan sebuah kebutuhan, kalau tidak shalat akan masuk neraka, terkesan Tuhan yang membutuhkan kita. Ironis.</p>
<p>Padahal untuk melakukan shalat tahjjud kita tak perlu ke hutan, mengasingkan diri, cukup bangun di tengah malam kemudian berwudu&#8217; (bersuci) secara sederhana menurut rukun dan syaratnya. Tak perlu biaya mahal, hanya perlu tempat dan sajadah yang bersih.</p>
<p>*Kesimpulan*Jika kita melaksanakan shalat tahajjud secara rutin, benar gerakannya, ikhlas dan khusyu&#8217; akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat, sehingga tidak mudah stres ketika menghadapi problematika kehidupan. Dengan shalat tahajjud pasti hati kita akan semakin lembut, jernih dan berenergi tinggi, sehingga bacaan shalat beserta hikmah-hikmah yang terkandung mengalir deras dalam relung-relung jiwa kita dan menjadi pelita hidup di kemudian hari. Semoga Allah mengangkat kita ke tempat yang terpuji.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/04/jangan-abaikan-sholat-tahajud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Azlina, Saat Dua Jam Mati Suri</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/02/kisah-azlina-saat-dua-jam-mati-suri/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/02/kisah-azlina-saat-dua-jam-mati-suri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 05:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (23) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia. Di hadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (23) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia.</p>
<p>Di hadapan sekitar 50-an orang, terdiri dari pegawai honor tenaga kesehatan Bengkalis, warga masyarakat serta sejumlah wartawan, Aslina, Rabu (3/9) kemarin, di aula studio TV Sri Junjungan Televisi (SJTV) Bengkalis, mengisahkan kejadian ghaib yang dialaminya itu.</p>
<p>Menurut penuturan Iin yang didampingi pamannya, Rustam Effendi, sejak tiga tahun lalu ia menderita penyakit kelenjar gondok alias hiper teroid. Karena penyakitnya itu, Pada 25 Agustus silam, gadis ini ditemani Rustam Effendi berobat ke rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Malaka. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter mengatakan operasi baru bisa dilakukan setelah tiga bulan, karena waktu itu tekanan darah tinggi.</p>
<p>Namun pada Sabtu (26/8) tengah malam, kondisi anak sulung tiga bersaudara ini kritis, koma. Sang paman sempat memandunya membaca dua kalimat syahadat dan kalimat toyibah (Lailahailallah) sebanyak dua kali.</p>
<p>Waktu ajal menjemput, tutur sang paman, Aslina sempat melafazkan kalimat toyibah dan syahadat. Secara perlahan-lahan gadis yang bekerja sebagai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkalis ini tak bernafas. Tepat pukul 02.00 waktu Malaysia, indikator monitor denyut jantung terlihat kosong atau berupa garis lurus.</p>
<p>Tak pelak situasi ini membuat Rustam sedih, kemudian beberapa dokter MMC Malaka terlihat sibuk memeriksa dan mengecek kondisi Aslina. Waktu itu dia sempat menghubungi keluarnya di Bengkalis untuk memberitahu kondisi terakhir Aslina. Untungnya setelah dua jam ditangani dokter, monitor terlihat kembali bergerak yang menandakan denyut jantung gadis yatim ini berdenyut lagi. Untuk perawatan lebih lanjut, Aslina dimasukan ke ruang ICU dan baru dua hari dua malam kemudian ia dinyatakan melewati masa kritisnya.</p>
<p>Bertemu Sang Ayah<br />
Menurut pengakuan Aslina, dia melihat ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Waktu itu, nyawanya dicabut dari kaki kanan oleh malaikat. &#8220;Rasanya sangat sakit, kulit seperti disayat, dibakar dengan minyak,&#8221;tuturnya.</p>
<p>Setelah roh berpisah dengan jasad, dia menyaksikan orang-orang yang masih hidup dan jasadnya terbaring di tempat tidur. Kemudian dibawa dua malaikat menuju ke suatu tempat. Aslina mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama meninggal, bernama Hasan Basri. &#8220;Wahai ayahku bisakah aku bertemu denganmu. Aku sangat rindu, oh ayah,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Memang di tempat itu Aslina bertemu dengan sosok pria muda berusia 17 tahun dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Melihat sosok pria muda tersebut, Aslina tetap ngotot ingin bertemu dengan sang ayah. Kemudian, kedua malaikat memperkenalkan bahwa pria muda tersebut adalah ayahnya. Tentunya dia tidak menyangka karena waktu meninggal dunia, ayahnya berusia 55 tahun.</p>
<p>Kemudian sang ayah bertanya kepada Aslina, maksud kedatangannya. Dia menjawab kedatangannya semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT. Sang ayah menyuruh Aslina tetap pulang untuk menjaga adik-adiknya di dunia. Namun Aslina menjawab bahwa dirinya ke sini, memenuhi panggilan Allah. Waktu itu juga, dia menyebut rukun Islam satu persatu.</p>
<p>Setelah berdialog dengan ayahnya, dua malaikat tadi membawa Aslina ke suatu tempat yang dipenuhi wanita memakai baju rapi dan berjilbab. Di situ, dia disalami dan dicium pipi kanan-kiri oleh wanita-wanita Muslimah tersebut. Tidak hanya itu, Aslina juga bertemu dengan 1.000 malaikat dengan wajah berseri dan seluruhnya sama.<br />
Di tempat itu, Aslina duduk di kursi yang sangat empuk. Bila di dunia empuk kursi tersebut seakan dilapisi delapan busa. Ketika duduk, tiba-tiba sosok wanita berseri mirip dengan dirinya menghampiri. Dia bertanya kepada sosok wanita tersebut. &#8220;Saya adalah roh dan amal ibadah mu selama di dunia,&#8221; kata wanita tersebut.</p>
<p>Kemudian Aslina ditemani amalnya (sosok wanita, red) dan dua malaikat menyaksikan beberapa kejadian di akhirat. Di antaranya, ada seorang pria berpakaian compang-camping, badannya bernanah dan bau busuk.</p>
<p>Tangan dan kaki dirantai sementara di atasnya memikul besi seberat 500 ton. Melihat kejadian itu, Aslina bertanya kepada amalnya. Rupanya pria tersebut semasa hidupnya suka membunuh dan menyantet (teluh) orang.</p>
<p>Kejadian selanjutnya yang ia lihat, seorang yang disebat dengan rotan panjang sehingga kulit dan dagingnya mengelupas dari badan. Ternyata orang tersebut selama hidup tak pernah sholat bahkan menjelang ajal menjemput pun tak pernah menyebut sahadat.</p>
<p>Aslina juga melihat, dua pria saling membunuh dengan kapak. Menurut keterangan amalnya, rupanya orang tersebut suka menodong dan memeras orang lain.<br />
Kemudian gambaran, seorang ustat yang dihantam dengan lahar panas yang mendidih. Kembali Aslina bertanya. Ustad tersebut selama hidup suka berzina dengan istri orang lain.</p>
<p>Kejadian berikutnya, seorang ditusuk dengan pisau sebanyak 80 kali. Ini menunjukan orang tersebut suka membunuh dan tidak pernah dipertanggungjawabkan selama di dunia.</p>
<p>Kejadian terakhir, seorang ibu tua dihempaskan berkali-kali ke lantai. Di lantai tersebut terdapat pisau tegak dan dia tersungkur lalu mengenai tubuhnya, hingga mati. Gambaran tersebut menunjukan, selama hidupnya wanita tersebut merupakan anak durhaka, yang tidak mengakui ibunya yang pikun. Bahkan dia malu kepada orang lain.</p>
<p>Kisah tentang mati suri dan berbagai pengalaman ghaib yang dialami Aslina alias Iin (23), membuat heboh masyarakat Bengkalis, khususnya warga desa Pematang Duku, kecamatan Bengkalis, yang antara percaya dan tidak dengan cerita dalam mati suri itu. Berikut lanjutan kisah &#8216;perjalanan ghaib&#8217; yang dituturkan Aslina Rabu silam di aula studio SJTV Bengkalis.</p>
<p>Menurut Aslina, setelah dirinya diperlihatkan dengan kejadian dan gambaran manusia, ia kemudian dibawa melewati malam yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya, dia tidak bisa melihat amalnya dan dua malaikat yang mendampingi. Ketika kakinya berjalan tiga langkah, terdengar suara orang berzikir. Kemudian sang amal menyuruhnya untuk cepat menangkap suara tersebut. Tapi Aslina tidak bisa menangkap. Tiba-tiba waktu itu, lehernya dikalungi seutas rantai. Setelah dipegang ternyata rantai tersebut berupa tasbih sebanyak 99 butir.</p>
<p>Terdengar suara yang memerintahkan Aslina untuk berzikir selama dalam perjalanan. Dia berjalan lagi sepanjang tujuh langkah, namun waktunya sama dengan 10 jam waktu di dunia. Ketika sampai pada langkah ke tujuh, dia melihat wadah menyerupai tapak sirih berisi cahaya yang terpancar melalui lobang-lobangnya. Berkat cahaya tapak sirih tersebut, dia bisa melihat dan membaca tulisan Arab, berbunyi &#8216;Husnul Khotimah&#8217;.</p>
<p>Di belakang tulisan itu terlihat gambar Ka&#8217;bah. Ketika melihat tulisan dan gambar Ka&#8217;bah seketika, dia dan amalnya tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah.<br />
Aslina mendekati cahaya itu dan mengambilnya, kemudian disapukan ke mukanya. Ketika malam yang gelap gulita itu menjadi terang benderang.</p>
<p>Nabi Muhammad<br />
Setelah berjalan sekian jauh, dia mendengarkan suara azan yang suaranya tidak seperti di Indonesia, namun bernada Mekkah. Kepada amalnya, dia meminta waktu untuk menunaikan sholat. Setelah mengerjakan sholat, roh Aslina hijrah ke tempat lain dengan perjalanan 40 hari. Tempat yang dituju kali ini adalah Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itu dia menyaksikan makam Nabi Muhammad dan sahabatnya. Di makam Nabi ada pintu bercahaya, terlihat sosok Nabi Muhammad sedang memberi makan fakir miskin.</p>
<p>Tidak hanya itu di Masjid Nabawi, dia kembali diperlihatkan kejadian menakjubkan. Tiba-tiba cahaya &#8216;Husnul Hotimah&#8217; yang ada di tangannya lepas, kemudian mengeluarkan api yang menerangi seluruh ruangan sehingga makam Nabi terlihat jelas. Waktu itu dari balik makam Nabi, dia melihat sosok manusia, berwajah ganteng menyerupai malaikat, kulit langsat, mata sayu, pandangan luas terbentang dan tajam. &#8220;Raut muka seperti orang Asia (oval, red) namun tidak kelihatan kepalanya. Tapi saya yakin sosok manusia tersebut adalah Nabi Muhammad,&#8221; katanya.</p>
<p>Melihat peristiwa itu, lantas Aslina bertanya kepada malaikat dan amalnya. &#8220;Kenapa cahaya tersebut menerangi Nabi Muhammad, sehingga saya bisa melihat.<br />
Dan kenapa wajah Nabi bercahaya?&#8221; Dijawab bahwa Anda adalah orang yang mendapat syafaat dan hidayah dari Allah. Mengenai wajah nabi yang bercahaya, karena selama mengembangkan agama Islam selalu mendapat tantangan.</p>
<p>Perjalanan tidak di situ saja, Aslina dan pengawalnya berbalik arah untuk pulang. Rupanya ketika dalam perjalanan pulang dia kembali menyaksikan, jutaan umat manusia sedang disiksa dan menderita di sebuah lapangan. Orang-orang tersebut meronta dan berdoa minta agar kiamat dipercepat. Karena sudah tak tahan lagi dengan siksaan. Mereka mengaku menyesal dan minta dihidupkan kembali agar bisa bertaubat. &#8220;Jarak Aslina dengan mereka hanya lima meter, namun tak bisa memberikan pertolongan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Selama melihat kejadian itu, Aslina membaca Al Quran 30 juz, Hafis (hafal) dan khatam tiga kali. Kemudian membaca surat Yasin sebanyak 1000 kali dan shalawat kepada seluruh nabi (Adam sampai Muhammad). Aslina berlari sepanjang Arab Saudi atau sepanjang Sabang sampai Marauke seraya menangis melihat kejadian tersebut.</p>
<p>Aslina juga ingin diperlihatkan apa yang terjadi pada dirinya dikemudian hari. Namun sebelumnya dia diminta oleh malaikat untuk berzikir. Lamanya zikir yang dilakukan Aslina selama dua abad dan dua pertukaran zaman. Hal ini ditandai dengan 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 31 Desember. Selesai berzikir, Aslina mendengar suara yang seperti ditujukan kepadanya.<br />
&#8220;Sadarlah wahai umat-Ku, kau sudah Ku matikan.<br />
Sampaikan kepada umat-Ku, apa yang Ku perlihatkan.<br />
Sampaikan kepada umat-Ku, umat-Ku, Umat-ku.&#8221;</p>
<p>Kejadian Aneh<br />
Usai pengambilan gambar dan wawancara, terdapat kejadian aneh di gedung SJTV Bengkalis. Saat itu, Aslina sudah keluar dari ruangan menuju gedung Radio Pemda yang berjarak 25 meter. Ketika krew SJTV hendak mematikan monitor, ternyata tak bisa dimatikan. Namun anehnya muncul sosok bayangan putih bertubuh tegap dengan rambut terurai hingga ke pusar dan kepalanya bertanduk. Tentunya hal ini membuat para krew dan orang-orang yang menyaksikan heran, lantas momen ini diabadikan pengunjung dan krew SJTV.</p>
<p>Setelah Aslina keluar dari ruangan Radio Pemda, ditanyakan apakah sosok tersebut. Dia menjawab bahwa sosok tersebut merupakan jin. Menutup pengalaman ghaib anak penakik getah itu, sang Paman Rustam Effendi kepada wartawan menyebutkan, selama ini Aslina merupakan sosok yang pendiam dan kurang percaya diri (PD). Namun setelah kejadian ini banyak hal-hal yang berubah, mulai dari penampilan hingga tingkah laku. Bahkan dari warna kulitnya saat ini lebih bersih dan berseri. Mengenai amalannya, &#8220;Selama ini dia memang rajin mengerjakan shalat tahajud dan membaca Al Quran setiap hari,&#8221; kata sang paman menutup kisah tersebut. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/02/kisah-azlina-saat-dua-jam-mati-suri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkhidmat Pada Suami</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/01/berkhidmat-pada-suami/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/01/berkhidmat-pada-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 03:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[berkhidmat pada suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini? Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?</p>
<p>Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat kepada sang suami dan membantu pekerjaannya sebatas yang ia mampu. Ia tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri sementara ia duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila suaminya sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak, mencuci, merapikan tempat tidur, dan semisalnya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan harinya dengan memberikan pelayanan kepada suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati disertai niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsannya kepada suami, yang diharapkan darinya ia akan beroleh kebaikan.</p>
<p>Berkhidmat kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu &#8216;anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu &#8216;anhu, suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh[1].” (HR. Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)</p>
<p>Demikian pula khidmatnya Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu &#8216;anhu, sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu, sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:</p>
<p>????? ???????????? ????? ??? ???? ?????? ??????? ???? ???????? ????? ??????????? ????? ???????????? ???? ??????????? ?????????????? ?????????? ?????????? ????????????? ?????????? ???????? ????????????? ?????????? ???????? ????????????? ??????? ?????? ??????? ???? ???????</p>
<p>“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)</p>
<p>Shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu &#8216;anhu, menikahi seorang janda untuk berkhidmat padanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya padaku:</p>
<p>??????????? ??? ??????? ????????: ??????. ???????: ??????? ???? ????????? ??????: ???? ????????. ?????: ???????? ????????? ???????????? ?????????????? ?????????????? ?????????????? ????? ???????? ????: ????? ?????? ????? ?????? ?? ?????? ???????? ???????? ???????? ???? ????????????? ?????????????? ????????????? ????????? ???????? ??????????? ???????????????. ???????: ??????? ????? ????? ???? ?????: ???????</p>
<p>“Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”</p>
<p>“Sudah,” jawabku.</p>
<p>“Dengan gadis atau janda?” tanya beliau.</p>
<p>“Dengan janda,” jawabku.</p>
<p>“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?” tanya beliau.</p>
<p>“Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka,” jawabku.</p>
<p>Beliau berkata: “Semoga Allah memberkahimu”, atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.” (HR. Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)</p>
<p>Hushain bin Mihshan berkata: “Bibiku berkisah padaku, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, beliaupun bertanya:</p>
<p>???? ?????! ??????? ??????? ??????: ?????. ?????: ?????? ?????? ????? ??????: ??? ??????? ?????? ??? ???????? ??????. ?????: ??????????? ?????? ?????? ??????? ?????????? ???? ????????? ?????????</p>
<p>“Wahai wanita, apakah engkau telah bersuami?”</p>
<p>“Iya,” jawabku.</p>
<p>“Bagaimana engkau terhadap suamimu?” tanya beliau.</p>
<p>“Aku tidak mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu menunaikannya,” jawabku.</p>
<p>“Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu,” sabda beliau. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)</p>
<p>Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya tidak membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikulnya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia butuh bantuan.</p>
<p>Adalah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, beliau menyempatkan membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan istri beliau, Aisyah radhiallahu &#8216;anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya kepadanya:</p>
<p>??? ????? ?????????? ?????? ????? ???????? ????????? ???????? ??? ?????????? ???????: ????? ???????? ???? ???????? ???????? –??????? ???????? ????????- ??????? ???????? ?????????? ?????? ????? ??????????</p>
<p>“Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di dalam rumah?”</p>
<p>Aisyah radhiallahu &#8216;anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Aisyah radhiallahu &#8216;anha menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:</p>
<p>??? ???????? ?????????? ???? ????????? ???????? ????????? ?????????? ????????? ??????????</p>
<p>“Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)</p>
<p>????? ??????? ???? ?????????? ??????? ???????? ?????????? ???????</p>
<p>“Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya”. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420 dan Ash-Shahihah 671)</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.<br />
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah<!--:--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/01/berkhidmat-pada-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

