<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CAHAYA IMAN &#187; Dunia Islam</title>
	<atom:link href="http://cahaya-iman.web.id/category/dunia-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahaya-iman.web.id</link>
	<description>Menuju Muslim Sejati</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Feb 2012 14:20:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>JIN PUN GENTAR KEPADA HIZBUT TAHRIR (Sebuah Kisah Sejati)</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2011/12/jin-pun-gentar-kepada-hizbut-tahrir-sebuah-kisah-sejati/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2011/12/jin-pun-gentar-kepada-hizbut-tahrir-sebuah-kisah-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 06:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hizbut tahrir]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : KH. Abu Nashir** Demi Allah, cerita yang saya sampaikan ini adalah benar adanya. Bukan cerita fiktif atau sesuatu yang mengada-ngada. Tujuannya agar pembaca khususnya para pengemban dakwah dapat semakin istiqomah dan bersemangat dalam memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah. Perkenalkan, nama saya Abu Nashir.  Saya asli kelahiran Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saya sudah dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 align="center"><strong><strong>Oleh : KH. Abu Nashir**</strong></strong></h4>
<p><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/12/htilogo.jpg"><img class="size-full wp-image-967 alignleft" title="htilogo" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/12/htilogo.jpg" alt="" width="359" height="270" /></a>Demi Allah, cerita yang saya sampaikan ini adalah benar adanya. Bukan cerita fiktif atau sesuatu yang mengada-ngada. Tujuannya agar pembaca khususnya para pengemban dakwah dapat semakin istiqomah dan bersemangat dalam memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah.</p>
<p align="justify">Perkenalkan, nama saya Abu Nashir.  Saya asli kelahiran Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saya sudah dua belas tahun merantau ke Kalimantan dan menetap di Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. Saya aktif sebagai aktivis HTI Kecamatan Pangkalan Banteng sejak 2007. Sehari-hari saya berprofesi sebagai pengasuh Ponpes Darul Hikam, Pangkalan Banteng. Pendidikan agama saya dapatkan ketika nyantri di Ponpes Lirboyo Kediri, Jawa Timur.</p>
<p align="justify">Saya memiliki 8 orang saudara dan 2 di antaranya sudah meninggal dunia. Yang bungsu bernama Muhammad Za’far An Nuh (19 tahun). Ketika masih duduk di bangku SD, Za’far sering disiksa secara fisik oleh  seorang teman satu sekolah sampai kelas enam akhir. Karena fisiknya lemah (memang karakternya yang pendiam dan tertutup), Za’far tidak bisa membela diri. Meski demikian, Za’far tetap berjanji dalam hatinya bahwa kalau teman yang menyiksa itu meminta maaf kepadanya pasti Za’far memaafkanya dengan setulus hati. Kenyataannya, sampai lulus SD, teman tersebut tidak pernah meminta maaf kepada Za’far.</p>
<div align="justify">Ketika duduk di kelas 1 MTs PSM Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, gejala-gejala munculnya kemampuan supranatural mulai nampak dalam diri Za’far. Diawali dengan sering munculnya bisikan hatif (suara tanpa wujud) yang menyuruh Za’far untuk menjalankan sebuah “lelaku” tertentu. Begitu Za’far selesai melakukan satu “lelaku”, muncul kembali hatif yang meminta Za’far melakukan “laku” yang lain. Begitu seterusnya.  Dan itu terjadi dengan sendirinya sampai Za’far mendapatkan kekuatan supranatural yang sangat jarang dimiliki orang lain.Di antara kekuatan supranatural itu, Za’far bisa membaca pikiran (hati) teman-temannya yang sedang membencinya dan mengetahui alasan kenapa teman teman membenci dirinya secara detail. Dia juga mampu melihat (menerawang) peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang.  Sebagai contoh, dia  melihat dinding atas (layar atap bagian luar) masjid di desanya roboh ketika menjalankan sholat Jum’at dan menimpa sejumlah  jamaah serta beberapa kendaraan. Padahal secara kasat mata pada saat itu kondisi masjid masih utuh. Hal tersebut kemudian disampaikan kepada sang ayah. Mendengar ucapan Za’far, ayah kami tidak merespon dan hanya mengatakan,”Kuwi jenenge laduni.” (Itu namanya laduni). Artinya, ilmu yang didapat secara langsung tanpa melalui proses belajar. Ternyata, satu bulan kemudian apa yang di-“lihat” Za’far menjadi kenyataan. Mulai saat itulah, Za’far akhirnya semakin penasaran dan mendalami ilmu supranatural yang dimiliki. Masih banyak contoh kemampuan supranatural lainnya yang tidak bisa kami ceritakan satu persatu.Lulus dari MTs pada tahun 2006/2007, Za’far ingin nyantri di ponpes yang masih berada di Kabupaten Nganjuk untuk mempelajari ilmu agama dan pengobatan alternatif menggunakan herbal dan pijat syaraf. Setelah selesai nyantri di sebuah ponpes di Ngajuk, Za’far pindah belajar agama ke salah satu pesantren di Kabupaten Tegal, Propinsi Jawa Tengah. Di pesantren tersebut, Za’far bermaksud mencari guru ngaji sekaligus guru spiritual supaya nantinya ketika suara hatif tersebut muncul sang gurulah yang memutuskan apakah dilaksanakan atau tidak bisikan tersebut.</p>
<p>Selama berada di pesantren itu, kemampuan supranatural yang dimiliki Za’far semakin meningkat karena mendapat dukungan ustadz di pesantren setempat.  Di antaranya, Za’far memiliki kemampuan hipnotis, bisa menghilang dan berpindah-pindah tempat hanya dalam hitungan detik.</p>
<p>Puncaknya, dia dengan mudah mendapatkan ilmu tasawuf sampai pada level wihdatul wujud dengan sendirinya tanpa dipandu oleh siapapun. Pada level ini, Za’far kembali mendapat bisikan kuat yang menjelaskan bahwa wihdatul wujud sebenarnya bukanlah “manunggaling kawulo marang gusti” (bersatunya makhluk dengan Khaliq), tetapi yang benar adalah mengamalkan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.</p>
<p>Dari sinilah Za’far mulai merenung dan mengoreksi diri. Pada satu sisi, dia mendalami ilmu tasawuf. Pada sisi lain, juga melihat fakta umat yang aktivitasnya banyak bertentangan dengan syariah Islam. Dalam hati, Za’far mulai bertanya-tanya, “Apakah mungkin cinta seorang hamba diterima oleh-Nya sedangkan umat terus dalam kerusakan yang sangat parah?”. Alhamdulillah, dari sini Za’far mendapat pencerahan dan bertekad kuat untuk melepas dan membuang ilmu supranatural yang pernah dipelajarinya.</p>
<p>Za’far juga bertekad untuk berperan aktif memikirkan nasib umat,  tetapi masih bingung karena belum memiliki fikrah yang jelas. Untuk membuang ilmu tersebut, Za’far membutuhkan bantuan tiga orang ustadz dan alhamdulillah berhasil. Bisikan fakta umat itu semakin kuat hingga memaksa Za’far untuk pindah ke pesantren Tahfidzul Quran guna memperdalamnya dan masih berada di wilayah administrasi Kabupaten Tegal. Di sisi lain, keinginan untuk mempelajari Syariat Islam semakin kuat.</p>
<p>Pada titik ini, Za&#8217;far menerima cobaan berupa sakit kepala yang luar biasa di kepala bagian kiri. Rasanya seperti ada benda tajam di dalamnya, semakin hari rasa sakitnya tambah parah hingga sempat terhenti akvitasnya tahfidz Qur`annya beberapa bulan. Setelah diperiksa secara medis, dokter memvonis Za’far terserang semacam penyakit syaraf pada kepala dan untuk mengobatinya harus dengan jalan dioperasi.</p>
<p>Setelah itu, kami keluarga yang ada di Kalimantan menyarankan agar Za’far dibawa ke Kalimantan tempat kami menetap di Desa Karang Mulya, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kebetulan saya pernah kursus Thibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi). Setelah saya terapi sekitar dua minggu, ternyata sakitnya semakin parah dan dia sering pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.</p>
<p>Akhirnya kami memutuskan untuk membawa Za’far ke Thibbun Nabawi El Iman Bogor Cabang  Banjarmasin, Kalimantan Selatan selama satu hari satu malam. Begitu tiba di Banjarmasin, pada pagi hari, Za’far diruqyah oleh para ustadz di sana, namun tidak ada reaksi hanya bau yang sangat busuk yang menyelimuti tubuh Za’far sedangkan yang lain tidak merasakan.</p>
<p>Kemudian sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Za’far kembali diruqyah. Hasilnya, Za’far kesurupan, meraung dan berteriak keras  sehingga kami berlima kewalahan dalam menenangkan Za’far.  Dalam kondisi kesurupan, jin dalam tubuh jafar melontarkan sejumlah perkataan antara lain tidak terima kalau Za’far bisa menghafalkan Al Quran dan meminta pihak keluarga untuk menghentikan aktivitas hafalan Quran Za’far.</p>
<p>Setelah kurang lebih dua jam mengamuk hingga pukul 23.00 waktu setempat, Za’far tersadar. Kemudian oleh sang terapis, Za’far disuruh mengambil air wudhu dan segera tidur. Kemudian Za’far tidur ditemani salah seorang kakaknya (adik saya yang lain), yaitu Ayyub di salah satu ruang ruqyah. Saya sendiri tidak bisa tidur dan memilih duduk di ruang tunggu. Jarak antara tempat tidur Za’far dan tempat saya duduk sekitar 20 meter dan dipisahkan oleh lorong panjang.</p>
<p>Tak berselang lama, saya terkejut bukan kepalang karena tiba-tiba Za’far sudah berdiri di belakang saya dalam kondisi kerasukan. Kemudian terjadilah dialog antara kami berdua (Kode AB : Abu Nashir, MZA : Muhammad Za’far An Nuh).</p>
<p>AB : Nuh&#8230; (saya memanggil nama Za’far dengan suara merendah)</p>
<p>MZA : Nama saya bukan An Nuh. Nama saya Ubaid.</p>
<p>AB : Siapapun kamu, saya minta kamu duduk. (saya ucapkan dengan nada datar).</p>
<p>(MZA akhirnya duduk dan menundukkan kepala. Hening sejenak. Kemudian MZA mengangkat kepala sambil mengacungkan tangan kanan ke atas dan berkata dengan lantang begini )</p>
<p>MZA :  Ini semua gara-gara Hizbut Tahrir ! Sebetulnya anak ini (MZA) sudah lama mencari pemahaman yang benar tentang Syariat Islam namun tidak menemukannya. Setelah di Kalimantan, dia bertemu Hizbut Tahrir dan akhirnya menemukan apa yang telah di carinya. Maka ini semua tidak boleh terjadi! (teriak MZA dengan nada yang tinggi).</p>
<p>AB : Kenapa kamu menyalahkan Hizbut Tahrir. Apa yang kamu tahu tentang Hizbut Tahrir ?</p>
<p>MZA : Kamu kok tahu dengan Hizbut Tahrir? (Dia balik bertanya). Gara-gara Hizbut Tahrir kami bangsa jin di seluruh dunia luluh<br />
lantak dan saya tidak terima. Kami pada saat ini bangsa jin merapatkan barisan untuk menghalang-halangi tegaknya syariah dan khilafah.</p>
<p>AB : Apa lagi yang kamu tahu dari Hizbut Tahrir ?</p>
<p>MZA : Hizbut Tahrir itu akan membangunkan umat Islam dari tidur panjangnya, mengingatkan kembali sejarah kejayaan Islam selama 1.300 tahun dan akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Dan itu sebentar lagi. Namun, semua itu tidak boleh terjadi !</p>
<p>AB : Kenapa tidak boleh terjadi ?</p>
<p>MZA : Karena kami bangsa jin akan susah mencari teman dari kalangan manusia.<br />
(Karena saya ketakutan, saya lari ke lorong dan membangunkan Ayyub yang sedang tertidur agar menjadi saksi. Kemudian kami kembali ke ruang tunggu dan menghampiri Za’far yang masih dalam kondisi kerasukan).</p>
<p>AY (Ayyub) : Sudah, kamu keluar (dari tubuh Za’far) aja. Kasihan Za’far kecapekan belum tidur.</p>
<p>MZA : Saya mau keluar asalkan ada perjanjian. Syaratnya, kamu harus menghalang-halangi anak ini agar tidak  menghafalkan Al Quran, Sebab, ketika dia hafal Al Quran dan mendakwahkan syariah. Maka seluruh ulama se-Jawa Timur akan hancur (maksudnya sadar dan memperjuangkan tegaknya Syariah).</p>
<p>AY : Tidak ada perjanjian antara manusia dan Jin. Siapa yang menyuruh kamu ? (AY berkata dengan nada tegas)</p>
<p>MZA : Yang menyuruh saya, ya jin , ya manusia.</p>
<p>AY : Kamu Islam atau bukan?</p>
<p>MZA : Saya Islam.</p>
<p>AY : Kalau kamu Islam, coba baca syahadat.</p>
<p>MZA : Asy.. asy.. asy&#8230;. (berkata dengan nada yang terputus-putus)</p>
<p>AY : Bohong kamu ! Kalau kamu memang benar Islam, cepat baca syahadat !</p>
<p>MZA : Asyahadu an Laa Ilaha Illa llah</p>
<p>AY : Teruskan ! (MZA kemudian menjulurkan lidahnya).</p>
<p>AY : Teruskan !</p>
<p>MZA : Wa Asyhadu anna Muhammadarasulullah</p>
<p>(Usai membaca syahadat, MZA kemudian menangis dan meneteskan air mata sambil berkata).</p>
<p>MZA : Sebetulnya saya sudah mau pergi. Tapi pergi kemana? Kami sudah membangun rumah di kepala anak ini lebih dari setahun. Sekarang rumah ini sudah dihancurkan.</p>
<p>AY : Tidakkah kau tahu bahwa bumi Allah itu luas?</p>
<p>AB : Sudah, jangan banyak bicara. Pergi aja!</p>
<p>(MZA kembali menangis sambil berkata)</p>
<p>MZA : Saya tetap tidak bisa menerima tegaknya syariah dan khilafah.</p>
<p>AB : Kenapa kemarin tidak ikut ngaji? (ada satu forum kajian HTI di masjid Al Muhajirin, Pangkalan Banteng yang seharusnya dihadiri MZA).</p>
<p>MZA : Sebetulnya anak ini sudah mau ngaji. Namun, saya halang-halangi karena anak ini tidak boleh mengikuti kajian Hizbut Tahrir. Akhirnya, dia nggak jadi ngaji kan? Menang saya kan ? (dia bertepuk tangan sambil tertawa ha..ha..ha..)</p>
<p>AB : Siapapun kamu, kamu harus pergi hari ini dan ketahuilah bahwa Syariah dan Khilafah janji Allah. Dan itu pasti akan terjadi ! (katanya dengan suara lantang).</p>
<p>MZA : Jangan! Jangan katakan itu ! Tolong..tolong..! (katanya sambil teriak).</p>
<p>AB : Kamu adalah mahluk lemah. Kalau kamu tidak segera bertaubat, kamu segera diazab oleh Allah. Kalau kamu tidak percaya, datangkanlah semua jin untuk menghalang-halangi tegaknya Syariah dan Khilafah. Pasti kalian tidak akan mampu. Karena itu janji Allah.</p>
<p>MZA : Jangan&#8230;! Jangan katakan itu ! Jangan..! Panas..! (katanya sambil teriak). Ya sudah, saya pergi saat ini juga.</p>
<p>Seketika, Za’far lemas dan jatuh lunglai ke lantai dan tertidur. Sejenak saya (Abu Nashir) dan Ayyub membiarkan tubuh Za’far yang terkulai lemas di lantai. Tak lama berselang, keduanya membangunkan Za’far untuk kembali istirahat ke dalam kamar.</p>
<p>Pagi harinya, Za’far terbangun dan kepalanya terasa ringan. Sakitnya pun sudah mulai berkurang. Bakda Shubuh, kami berpamitan dengan para terapis. Sebelum pulang, kami meminta para terapis meruqyah sekali lagi untuk memastikan rasa sakit Za’far sudah sembuh atau belum.</p>
<p>Alhamdulillah, setelah  beberapa kali diruqyah, tidak ada reaksi dan Za’far dalam keadaan normal. Akhirnya, terapis bertanya kepada Za’far. (Kode T : Terapis)</p>
<p>T     : Apakah sebelumnya pernah mimpi buruk ?</p>
<p>MZA : Tidak pernah bermimpi, kecuali dua hari sebelum ke sini. Sekitar jam 02.00 dini hari. Saya bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Rasulullah duduk di dalam masjid dan dikelilingi oleh lima orang satu di antaranya saya. Posisi saya tepat berada di depan Rasulullah.</p>
<p>T : Berlima itu siapa saja ?</p>
<p>MZA : Saya tidak kenal kecuali satu orang, yaitu teman saya di Tahfidzul Quran.</p>
<p>T : Apa yang disampaikan Rasulullah kepada kalian ?</p>
<p>MZA : Saya tidak hapal saking banyaknya pesan yang disampaikan Rasulullah. Namun, garis besarnya beliau mengajarkan saya tentang Thariqul Iman (dalam hati saya berfikir,”lho kok sama penjelasannya, seperti kakak saya tentang Thariqul Iman dari kitab Nizhamul Islam?”). Rasulullah menjelaskan alam semesta, manusia dan kehidupan. Di baliknya ada Allah sebagai Pencipta dan setelahnya ada Yaumul Hisab. Selain itu, Rasulullah menjelaskan tentang keterkaitan antara sebelum, saat, dan setelah kehidupan ada hubungan perintah dan larangan. Setelah beliau menjelaskan tentang Thariqul Iman akhirnya saya terbangun dari tempat tidur saya.</p>
<p>Selesai berdialog, kami pun pamit kembali ke Desa Karang Mulya.</p>
<p>Sebagai informasi tambahan, hingga kini Za’far sudah hafal Al Qur`an 20 juz dan alhamdulillah dalam kondisi sehat wal afiat. [  ]</p>
<p>= = = =</p>
<p>*Diceritakan langsung oleh KH Abu Nashir dan Ustadz Ayyub pada hari Senin, 24 Oktober 2011 ba’da Isya. Ditulis ulang oleh Ustadz Andri Saputra, aktivis HTI Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Diedit oleh KH M Shiddiq Al Jawi.</p>
<p>** KH Abu Nashir, pengasuh Ponpes Darul Hikam Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Alumnus Ponpes Lirboyo Kediri. Aktivis HTI Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.</p>
</div>
<div align="justify"></div>
<div align="justify">Keterangan foto : KH Abu Nashir, pengasuh Ponpes Darul Hikam Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.</div>
<p>Last Updated ( Saturday, 19 November 2011 )</p>
<p>Dikutip dari Khilafah1924.0rg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2011/12/jin-pun-gentar-kepada-hizbut-tahrir-sebuah-kisah-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Khilafah Islamiyah di Indonesia</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/jejak-khilafah-islamiyah-di-indonesia/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/jejak-khilafah-islamiyah-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 08:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jejak khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak kaum Muslim, khususnya di Indonesia, yang tahu bahwa pada bulan Maret ini, 83 tahun lalu menurut hitungan Masehi dan 86 tahun menurut hitungan Hijriah, tepatnya tanggal 3 Maret 1924, Khilafah Islam yang berkedudukan di Turki diruntuhkan oleh kekuatan penjajah Inggris melalui kaki tangannya, Mustafa Kemal Attaturk. Sepantasnya kaum Muslim prihatin-sebagaimana jutaan umat Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak banyak kaum Muslim, khususnya di Indonesia, yang tahu bahwa pada bulan Maret ini, 83 tahun lalu menurut hitungan Masehi dan 86 tahun menurut hitungan Hijriah, tepatnya tanggal 3 Maret 1924, Khilafah Islam yang berkedudukan di Turki diruntuhkan oleh kekuatan penjajah Inggris melalui kaki tangannya, Mustafa Kemal Attaturk. Sepantasnya kaum Muslim prihatin-sebagaimana jutaan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang sedih luar biasa saat itu-menyaksikan institusi politik Islam global itu diruntuhkan.</p>
<p>Ya, kita pantas prihatin dan bersedih karena:</p>
<p>Pertama, Khilafah adalah institusi politik yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasul saw. sejak 14 abad yang lalu:.</p>
<p>Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah. (HR al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kedua, Khilafahlah yang lebih dari 13 abad mengayomi dan mempersatukan kaum Muslim sedunia, dengan seluruh kemajuan peradabannya, kejayaan institusinya dan kemakmuran warga negaranya. Bahkan kaum Muslim Indonesia pun pernah merasakan perhatian dan kepedulian Khilafah; sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh kaum Muslim sendiri di negeri ini.</p>
<p>Namun demikian, tulisan berikut tidak dimaksudkan untuk &#8220;meratapi&#8221; keruntuhan Khilafah. Tulisan ini lebih ditujukan agar kita tidak mudah melupakan begitu saja sejarah kita sendiri sebagai umat Islam, khususnya di Indonesia, yang diakui atau tidak, banyak diwarnai oleh warna Islam. Bahkan jejak syariah dan Khilafah di Indonesia sebetulnya bisa ditelusuri dari sejumlah rujukan dan bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p><strong>Awal Masuknya Islam</strong></p>
<p>Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke-7. (Prof. Dr. Uka Tjandrasasmita, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara, Kedatangan dan Penyebaran Islam, 2002, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 9-27).</p>
<p>Sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M. Demikian pula Kerajaan Ternate tahun 1440. Kerajaan Islam lain di Maluku adalah Tidore dan Kerajaan Bacan. Institusi Islam lainnya di Kalimantan adalah Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai. Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: Kesultanan Demak yang dilanjutkan oleh Kesultanan Jipang, lalu dilanjutkan Kesultanan Pajang dan dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Silam diterapkan dalam institusi Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi Kesultanan Bima. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian &#8220;Dunia Islam Bagian Timur&#8221;, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).</p>
<p><strong>Jejak Penerapan Syariah Islam</strong></p>
<p>Seiring perjalanan waktu, hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik di Indonesia. A.C Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam di Nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum negara pada abad ke-17. Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pencurian senilai 1 gram emas telah dilakukan pada tahun 1651-1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam terhadap putranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. (Musyrifah Sunanto, 2005).</p>
<p>Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam I di Jawa memiliki jabatan qadi di Kesultanan yang dijabat oleh Sunan Kalijaga. De Graff dan Th Pigeaud mengakui hal ini. Di Kerajaan Mataram pertama kali dilakukan perubahan tata hukum di bawah pengaruh hukum Islam oleh Sultan Agung. Perkara kejahatan yang menjadi urusan peradilan dihukumi menurut kitab Kisas, yaitu kitab undang-undang hukum Islam pada masa Sultan Agung.</p>
<p>Dalam bidang ekonomi Sultan Iskandar Muda mengeluarkan kebijakan pengharaman riba. Menurut Alfian, deureuham adalah mata uang Aceh pertama. Istilah deureuham dari bahasa Arab dirham. Selain itu Kesultanan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir (1297/1326) telah mengeluarkan mata uang emas. (Ekonomi Masa Kesultanan; Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian &#8220;Dunia Islam Bagian Timur&#8221;, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).</p>
<p><strong>Hubungan dengan Khilafah</strong></p>
<p>Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).</p>
<p>Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah, Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).</p>
<p>Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.</p>
<p>Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, 2002).</p>
<p>Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol (Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).</p>
<p><strong>Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Itu</strong></p>
<p>Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib Suminto, 1986).</p>
<p>Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.</p>
<p>Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.</p>
<p>Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).</p>
<p>Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.</p>
<p><strong>Perjuangan Tak Pernah Padam<br />
</strong><br />
Meski penjajah Belanda menuai sukses besar dalam menghapus syariah Islam di bumi Nusantara, umat Islam di negeri ini tidak pernah diam. Perjuangan untuk menegakkan kembali syariah Islam terus dilakukan. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya adalah Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan. Adapun Taman Siswa, baru didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan. (H. Endang Saefuddin Anshari, 1983).</p>
<p>Pada saat Pemilu yang pertama tahun 1955, Masyumi adalah partai Islam pertama dan terbesar yang jelas-jelas memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Lahirnya Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 adalah salah satu puncak dari perjuangan umat Islam dalam menegakkan syariah Islam di Indonesia.</p>
<p>Lebih dari itu, sejarah perjuangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari agenda Khilafah Islam. Setelah institusi Khilafah Islam Ustmaniyah dibubarkan pada 3 Maret 1924, ulama dan tokoh pergerakan Islam Indonesia meresponnya dengan pembentukan Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924, dengan ketua Wondosudirdjo (Sarikat Islam) dan wakilnya KH A. Wahab Hasbullah (lihat: Bendera Islam, 16 Oktober 1924). Kongres ini memutuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafah ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab dari kalangan tradisi. (Hindia Baroe, 9 Januari 1925). KH A. Wahab kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama.</p>
<p>Semua bukti sejarah ini menunjukkan kepalsuan tuduhan berbagai pihak-yang menolak syariah Islam dan Khilafah-bahwa Indonesia tidak pernah mengenal formalisasi syariah Islam oleh negara, apalagi Khilafah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2011/02/jejak-khilafah-islamiyah-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah Sebenarnya Mustafa Kemal Attaturk</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/siapakah-sebenarnya-mustafa-kemal-attaturk/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/siapakah-sebenarnya-mustafa-kemal-attaturk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2011 09:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mustafa kemal attaturk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=898</guid>
		<description><![CDATA[Penulisan sejarah biasanya berkaitan erat dengan siapa yang menjadi penguasa di zaman sejarah tersebut dibuat. Sebagai contoh sederhana, di zaman Soeharto berkuasa, ia menciptakan sejarah tentang jasa-jasanya menyelamatkan bangsa dan negara dari kudeta. Namun di zaman reformasi, banyak pakar sejarah yang berusaha merevisi ulang semua dogma tersebut. Contoh lain adalah nama Mustafa Kemal Attaturk. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #505050;">Penulisan sejarah biasanya  berkaitan erat dengan siapa yang menjadi penguasa di zaman sejarah  tersebut dibuat. Sebagai contoh sederhana, di zaman Soeharto berkuasa,  ia menciptakan sejarah tentang jasa-jasanya menyelamatkan bangsa dan  negara dari kudeta. Namun di zaman reformasi, banyak pakar sejarah yang  berusaha merevisi ulang semua dogma tersebut.</span></p>
<p>Contoh lain adalah nama Mustafa Kemal Attaturk. Dalam sejarah dunia dia  dianggap sebagai bapak pembaharu Turki modern yang namanya begitu harum  sebagai peletak tonggak sekulerisme Turki. Namun bila kita jeli melihat  sejarah dalam sudut pandang yang lain, Attaturk adalah orang Yahudi yang  menyamar jadi muslim untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dialah orang  yang mengabolisi Khilafah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924. Dia  adalah pengkhianat sekaligus pecundang.</p>
<p><img src="http://www.oaseqalbu.net/images/story/1269411923.jpg" alt="" /><br />
Mustafa Kemal Attaturk</p>
<p>Terjagalnya Khilafah tanpa daya pada bulan 28 Rajab 1342 H bertepatan  dengan 3 Maret 1924 M bukanlah terjadi dengan sekejap mata. Sebagaimana  kebaikan yang perlu proses untuk terjadinya, keburukan pun demikian,  membutuhkan proses. Mustafa Kemal Ataturk menjagal Khilafah juga bukan  proses sekejap, perlu proses yang panjang. Proses itu dimulai ketika  pada awal abad ke-19 M kaum muslimin mulai meninggalkan al-Quran dan  as-Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah mereka, dan tertarik dengan  ideologi Liberal yang menggiurkan nafsu manusia.</p>
<p><strong>Liberalisasi di Eropa Barat</strong></p>
<p>Setelah mengalami Renaisance abad ke-15 M, masyarakat Eropa Barat  bersepakat untuk memisahkan agama dari kehidupan alias menganut faham  sekulerisme. Sekulerisme ini dikristalkan oleh John Locke filosof  Inggris menjadi ideologi Liberal, sebuah ideologi yang menempatkan  manusia bebas dari ikatan apa pun, baik ikatan agama ataupun selain  agama. Liberal dalam beragama, berekonomi, liberal berpolitik,  seksualitas, liberal dalam segala hal. Ideologi inilah yang akan  menghantarkan Barat kepada kebangkitannya, walau kebangkitan yang semu.</p>
<p>Semangat Liberalisme ini mendorong pecahnya Revolusi Perancis tahun 1789  yang mengusung jargon &#8220;Liberte, Egalite, dan Fraternite&#8221;. Revolusi  Perancis berhasil menjauhkan agama dalam hal ini gereja dari masyarakat,  negara maupun politik. Di awal abad ke-19 M, Perancis muncul menjadi  paling kuat dan maju, menjadi negara nomor satu di dunia di bawah  pimpinan Napoleon Bonaparte.</p>
<p>Khilafah Turki Utsmani Melirik Liberalisme</p>
<p>Sementara itu, Khilafah Turki Utsmani masih mengalami kemandegan  berpikir akibat terhentinya ijtihad dan mulai melirik ideologi Liberal  yang sedang berkembang pesat di Eropa Barat. Kemajuan teknologi akibat  revolusi Industri telah menyilaukan mata, sehingga tidak bisa membedakan  mana teknologi yang bisa diambil dari bangsa manapun, dan mana  peradaban yang harus disaring.</p>
<p>Tahun 1828 di masa Sultan Mahmud II, pemikiran dan sistem sekuler mulai  merasuk ke tubuh khilafah. Tahun 1876 M Gerakan Turki Muda yang  tergila-gila dengan ideologi liberal berhasil memaksa Sultan Abdul Hamid  II menerima Konstitusi 1876, sebuah konstitusi sekuler. Sejak itu,  tanda-tanda keruntuhan Khilafah mulai di depan mata. Sekeliling khalifah  sudah dipadati dengan orang-orang yang berideologi sekuler liberal,  yang dipimpin oleh Perdana Mentrinya sendiri, Midhat Pasya si pemabok.</p>
<p><strong>Mustafa Lahir</strong></p>
<p>Pada kondisi Khilafah sedang sakit ideologi inilah Mustafa Kemal Ataturk  yang akan menjadi penjagal Khilafah dilahirkan. Tepatnya tanggal 12  Maret 1881. Nama aslinya Mustafa. Ia dilahirkan di Salonika (sekarang di  Yunani). Saat itu Yunani berada di dalam wilayah Khilafah Turki  Utsmani. Ayah Mustafa bernama Ali Riza yang meninggal saat putranya  berumur 7 tahun. Ibu Mustafa bernama Zubeyde Hanim, seorang muslimah  taat yang berharap Mustafa menjadi ulama yang faqih.</p>
<p>Namun Mustafa berbeda pendirian. Ia menjadi remaja pemberontak melawan  segala bentuk peraturan. Ia kasar, dan kurang ajar pada gurunya. Di  depan kawannya, ia sangat arogan dan penyendiri.</p>
<p>Akhirnya pada usia dua belas tahun Mustafa dimasukkan ke akademi militer di Salonika. Ia ikut seleksi dan lulus jadi kadet.</p>
<p>Di militer, nampaknya Mustafa menemukan dunianya. Ia mampu menunjukkan  prestasi akademik yang bagus, sehingga salah satu pelajar menjulukinya  &#8220;Kemal&#8221; yang berarti kesempurnaan. Sejak itu ia panggil Mustafa Kemal.</p>
<p><strong>Mustafa Dicekoki Ideologi Liberal</strong></p>
<p>Pada usia 14 tahun, Mustafa Kemal pindah ke sebuah akademi di Monastir.<br />
Saat-saat liburannya di Salonika, Mustafa Kemal senang berkunjung ke  tempat-tempat hiburan Eropa dimana para wanita tidak mengenakan cadar,  menyanyi, berdansa, dan duduk di meja bersama laki-laki. Mustafa Kemal  senang minum-minuman keras.</p>
<p>Dalam pergaulan, Mustafa Kemal banyak bersandar pada teman-temannya para  pendeta Macedonia yang sengaja &#8220;menangkapnya&#8221;. Para pendeta Macedonia  inilah yang mengajarkan dasar-dasar bahasa Perancis bersama seorang  teman Mustafa dari Macedonia yang bernama Fethi. Keduanya diajari  buku-buku karya pemikir-pemikir liberal seperti Voltaire, Rousseau,  Thomas Hobbes, dan John Stuart Mill, serta buku-buku lainnya. Hingga  akhirnya, Mustafa mengarang syair yang mendengung-dengungkan  nasionalisme dan berpidato di depan akademi militer. Mustafa berbicara  kepada mereka tentang kerusakan sultan sebelum dia berumur 20 tahun.</p>
<p>Mustafa Kemal kemudian ditempatkan di Istambul. Di sana dia menjadi  pengunjung rutin rumah Madame Corinne, seorang janda Italia yang hidup  di Pera, sebuah distrik kota yang telah mengalami Westernisasi. Ia pun  hanyut dalam minum-minuman keras, bermain judi, dan bersenang-senang  dengan musik.</p>
<p>Setelah mencapai nilai tertinggi dalam ujian akhir, Mustafa lulus dengan gelar kehormatan pada Januari 1905 sebagai kapten.</p>
<p><strong>Mustafa menjadi atase militer di Sofia</strong></p>
<p>Saat itu, Mustafa Kemal bergabung dengan perkumpulan mahasiswa  nasionalis, yang dikenal sebagai Vatan (yang artinya Tanah Air). Para  anggotanya menganggap dirinya kelompok revolusioner yang menentang  pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, yang memberangus segala pemikiran  &#8220;liberal&#8221; yang merongrong pemerintahan Islam. Kelompok ini selalu  menyalahkan Islam yang dianggap membuat Turki terbelakang dan  terus-terusan menyebarkan kebencian terhadap syariat yang dianggap  kolot, serta menjadikan ajaran-ajaran sufi sebagai tertawaan. Anggotanya  bersumpah melengserkan sultan dan menggantinya dengan sistem  pemerintahan Barat dengan konstitusi dan parlemen, menghancurkan  otoritas para ulama, menghapus jilbab dan kerudung, serta  mendeklarasikan kesetaraan gender. Tak lama bergabung, Mustafa Kemal  menjadi pemimpinnya.</p>
<p>Mustafa diundang untuk menghadiri salah satu pertemuan di sebagian  rumah-rumah orang Yahudi yang memiliki kewarganegaraan Italia dan  organisasi-organisasi Freemasonry Italia. Turki Muda menjadikan  perlindungan yang diberikan kepada Yahudi ini sebagai tameng. Mereka  mendapat bantuan finansial dalam jumlah yang sangat besar dari berbagai  pihak.</p>
<p>Tahun 1908 M Kaum nasionalis sekuler, Turki Muda, melakukan revolusi.  Revolusi ini dalam rangka merongrong Sultan Abdul Hamid II yang   menentang konstitusi 1876 yang sekuler dan selalu menyerukan kembali ke  Syari&#8217;at Islam.</p>
<p><strong>Pema&#8217;zulan Sultan Abdul Hamid II</strong></p>
<p>Akhirnya pada tanggal 26 April 1909 M Turki Muda yang berkomplot dengan  Syaikhul Islam, Mohammad Diauddin Afandi, berhasil memberhentikan Sultan  Abdul Hamid II, seorang khalifah yang saleh dan lembut. Sejak saat itu  Khilafah Utsmaniyah dikuasai kaum nasionalis Turki.</p>
<p>Setelah pemberhentian Sultan Abdul Hamid II banyak orang mulai menulis  buku baik berbahasa Inggris, Arab maupun Turki, yang memfitnah dan  menyerang Sultan Abdul Hamid II. Mereka memfitnah Sultan Abdul Hamid II  sebagai orang yang menjadikan Daulah Utsmani tenggelam semakin dalam dan  menampilkan Turki Muda sebagai pahlawan.</p>
<p>Dalam buku-buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh kaum sekuler,  Gerakan Turki Muda ini disebut-sebut sebagai gerakan untuk mencapai  perbaikan nasib menentang Sultan Abdul Hamid II yang mereka sebut  sebagai Kaum Kolot. Gerakan Turki Muda ini dianggap sebagai pemicu  pergerakan nasionalis sekuler di Indonesia.</p>
<p>Setelah Sultan Abdul Hamid II diberhentikan, tahun 1909 M Sultan  Muhammad Risyad menggantikannya sebagai Khalifah Turki Utsmani. Namun  pemerintahannya sebenarnya sudah tidak berarti karena dibawah perintah  Turki Muda.</p>
<p>Di tubuh Turki Muda sendiri terjadi perpecahan. Mustafa Kemal akhirnya  meninggalkan Turki Muda dan kembali menekuni kemiliteran 10 tahun  berikutnya seperti sebelumnya. Berkat pribadi keras dan kecerdasannya,  ia merengkuh banyak kekuasaan politik. Ia habiskan malam dengan  mengadakan rapat rahasia untuk merencanakan makar, yang diharapkan  menghasilkan kekuasaan absolut baginya.</p>
<p><strong>Khilafah Turki Utsmani Terseret Perang Dunia I</strong></p>
<p>Tahun 1914 Pecah Perang Dunia Pertama. Jerman yang menguasai minyak di  Irak dan mengancam sumber minyak Inggris di Iran dan Jazirah Arab,  dengan kekuatan besar berambisi menguasai dunia. Inggris, Perancis dan  Rusia pun bersekutu mengumumkan perang melawan Jerman. Selain beraliansi  dengan Austria, Jerman membujuk Khilafah Turki Utsmani untuk ikut  Perang Dunia I melawan Sekutu.</p>
<p>Tahun 1918 Jerman dan Austria- Hungaria dituntut meletakkan senjata.  Maka berakhirlah Perang Dunia I. Kemenangan akhirnya ada di pihak  Sekutu. Setelah Rusia keluar dari persekutuan dan AS kembali ke politik  isolasinya, tinggallah Inggris dan Perancis membagi-bagi wilayah  Khilafah Utsmani.</p>
<p>Ketika Inggris menduduki Istambul, ibukota Khilafah Utsmaniyah Mustafa  Kemal melarikan diri ke Anatolia, tempat ia memulai perjuangan untuk  pembebasan Turki. Kebiasaan berzina diteruskan Kemal pada para wanita  pemburu cinta, yang berkeliaran di sekitar garnisun.</p>
<p><strong>Mustafa Kemal Menjadi Pahlawan Boneka</strong></p>
<p>Untuk mengakhiri Khilafah Utsmani hingga ke akar-akarnya Barat membuat  skenario busuk namun licin. Mereka akan melahirkan seorang pahlawan  boneka yang bisa dijadikan partner pasukan sekutu. Pahlawan ini akan  menjadi harapan umat Islam yang sedang dilanda keputusasaan. Pilihan  mereka jatuh kepada Mustafa Kemal.</p>
<p>Intelijen-intelijen Inggris berhasil menemukan &#8220;impian mereka&#8221; yang  telah lama didambakan dalam pribadi Mustafa Kemal, seorang yang memiliki  watak diktator. Hubungan antara intelijen Inggris dan Kemal dilakukan  melalui perantaraan seorang intelijen bernama Amstrong yang memiliki  hubungan dekat dengan Kemal.</p>
<p>Skenario ini dilaksanakan. Di akhir Perang Dunia I Mustafa Kemal  memimpin pasukan pertahanan Turki melawan Pasukan Sekutu Eropa dan  Yunani yang menguasai Izmir. Mustafa Kemal mendengungkan spirit Jihad di  Turki, mengangkat al-Qur`an dan membuat orang-orang Inggris menarik  diri tanpa terjadi bentrokan senjata apa pun.</p>
<p>Tanpa mengalami banyak kesulitan, Mustafa Kemal berhasil menguasai  beberapa tempat strategis. Dunia Islam menyambutnya dengan penuh  antusias dan memberinya gelar &#8220;ghazi&#8221; (panglima perang yang gagah dan  tanpa tanding). Saat Yunani kalah dan Turki menang, rakyat mabuk  kemenangan, dan memuja Mustafa Kemal sebagai sang Penyelamat. Ia  digelari Pembela Kebenaran. Berbagai pengakuan para diplomat asing makin  meneguhkan kedudukannya sebagai pahlawan Turki melawan Barat. Para  khatib menyambutnya dengan sangat hangat. Para penyair memujinya. Ahmad  Syauqi, misalnya dalam sebuah awal baitnya menyejajarkan Mustafa Kemal  dengan Khalid bin Walid si pedang Allah dengan syairnya.</p>
<p>&#8220;Allahu Akbar, betapa banyak penaklukan yang demikian mengagumkan wahai Khalid Turki, perbaharuilah kepahlawanan Khalid Arab!&#8221;</p>
<p>Ya, sebuah skenario jahat yang luar biasa sukses!</p>
<p>Sekarang Mustafa Kemal menjadi seorang panglima militer yang memiliki  kedudukan Banyak wanita yang memujanya dengan mengenakan foto Kemal  dalam locket di lehernya. Sebagai  pembebas negaranya, Mustafa kemal  sudah terbiasa tidur dengan para wanita yang mau dan bernafsu.</p>
<p>Hingga tahun 1919 M Mustafa Kemal masih bersandiwara. Untuk menutupi  kebenciannya kepada Islam dan untuk meraih simpati rakyat Khilafah.  Ketika dia berhasil menang atas Yunani di Ankara, ia berbicara di  hadapan publik, &#8220;Sesungguhnya semua rencana akan diambil tidak  dimaksudkan kecuali untuk melindungi kesultanan dan khilafah serta  pembebasan sultan dan negeri ini dari perbudakan orang-orang asing.&#8221;<br />
<strong><br />
Mustafa Mulai Membuka Topeng</strong></p>
<p>Bulan April 1920 Mustafa Kemal membentuk dan memimpin Majelis Nasional Agung Turki yang berpusat di Ankara.</p>
<p>Tahun 1922 kaum nasionalis sekuler Turki makin merajela. Sultan Mehmet  VI Vahdettin (Wahiduddin) dijatuhkan. Kelompok nasionalis ini membuat  kekuasaan Khalifah ditiadakan pada tanggal 1 November 1922.</p>
<p>Mulailah Mustafa Kemal menampakkan kebenciannya kepada Islam. Pada  tanggal 19 November 1922 melalui Majelis Nasional Turki di Ankara,  Mustafa Kemal mengangkat Abdul Majid II menjadi Khalifah menggantikan  Muhammad Wahiduddin yang melarikan diri. Sultan Abdul Majid ini  sebenarnya hanya khalifah boneka yang sama sekali tidak memiliki  kekuasaaan apa-apa.</p>
<p>Pada tanggal 29 Oktober 1923 kaum nasionalis sekuler Turki  memproklamirkan berdirinya Republik Turki dengan Mustafa Kemal sebagai  presidennya.</p>
<p>Tidak lama berkuasa, ia menyatakan tegas bahwa ia akan menghancurkan  puing reruntuhan Islam dalam kehidupan bangsa Turki. Hanya dengan  mengeliminasi segala hal berbau Islam, Turki bisa &#8216;maju&#8217; menjadi bangsa  modern yang dihormati. Tanpa ragu Kemal menyerang Islam dan pilarnya.</p>
<p><strong>Pernikahan Mustafa Kemal<br />
</strong><br />
Mustafa Kemal akhirnya menikah juga. Ia menikah dengan Latife  Usakligil.anak perempuan Ushakizade Muammer, seorang Smyrna yang kaya  dan berminat pada perkapalan dan perdagangan intgernasional. Meskipun  Latife orang turki yang berkulit zaitun dan memiliki mata gelap dan  besar, namun ia telah belajar ilmu hukum di Eropa dan berbahasa Perancis  seperti wanita Perancis. Mereka menikah di rumah ayah Latife dengan  gaya Eropa sebagai upaya untuk menghapuskan adat-adat yang Islami. Dalam  perkawinan Islam, pengantin laki-laki dan perempuan tidak boleh saling  bertemu sampai setelah upacara akad nikah selesai. Namun, Kemal dan  Latife melanggar tradisi dan mengucapkan janji setia mereka sambil duduk  di atas bangku.</p>
<p>Setelah itu Kemal mengajak istrinya melakukan perjalanan bulan madu,  dengan memanfaatkan isterinya sebagai contoh dalam kampanyenya untuk  menggalakkan emansipasi terhadap wanita Turki. &#8220;Itulah cara untuk  memperlakukan seorang wanita,&#8221; katanya, dengan menunjuk Latife yang  berdiri di sampingnya dengan mengenakan celana. Memamerkan isteri  barunya dengan cara yang tidak lazim semacam itu menyulut kemarahan bagi  kalangan Islam yang mereka sebut tradisionalis di antara lawan-lawan  politiknya, khususnya ketika Latife tampil mengenakan gaun pendek yang  mempertontonkan bagian-bagian tubuh secara terbuka pada berbagai acara  pesta besar.</p>
<p>Tahun 1340 H/ 1923 M Mustafa Kemal menandatangani perjanjian dengan  negara-negara Barat yang dikenal dengan nama Perjanjian Luzan (lausane).  Perjanjian itu mewajibkan Turki menerima beberapa syarat yang dikenal  dengan nama syarat Karzun (Curzon) yang empat. Karzun adalah ketua  delegasi Inggris dalam pertemuan Luzan. Empat syarat itu:</p>
<p>1. Pemutusan Turki dari semua hal yang berhubungan dengan Islam.<br />
2. Penghapusan Khilafah Islam untuk selama-lamanya.<br />
3. Mengeluarkan Khalifah dan para pendukung Khilafah dan Islam dari negeri Turki serta mengambali harta khalifah.<br />
4. Mengadopsi undang-undang sipil sebagai pengganti undang-undang Turki yang lama.</p>
<p><strong>Mustafa Menjagal Khilafah</strong></p>
<p>Dan tanggal 3 Maret 1924 Mustafa Kemal pun memulai proses penjagalan  Khilafah yang tanpa daya. Ia memanggil semua anggota Majelis Nasional  untuk mengadakan pertemuan. Malam-malam sebelumnya, Mustafa Kemal  berusaha membungkam suara penentangnya dengan mengancam dengan hukuman  mati bagi para pengkritik pendapatnya. Mustafa Kemal mengusulkan pada  Majelis Nasional proyek pembubaran khilafah yang dia sebut sebagai  &#8220;bisul sejak Abad Pertengahan&#8221; untuk selamanya dan mendirikan negara  Turki sekuler. Keputusan pun diambil tanpa perdebatan. Keputusan  mencakup pembuangan Khalifah pada hari berikutnya ke Swiss. Maka obor  khilafah pun padam, di tangan Mustafa Kemal.</p>
<p>Berita Pembubaran Khilafah ini memunculkan kegundahan di seluruh dunia  Islam. Karena bagaimana pun selama ini Istambul merupakan lambang  kekuatan politik bagi dunia Islam. Penyair Syauqi yang sebelumnya memuji  Mustafa Kemal, meratap sedih atas peristiwa yang terjadi. Di  Indonesia,.kelompok modernis, seperti al-Irsyad, Muhammadiyah, Persis,  Sarekat Islam dan Kelompok tradisi yang nantinya mendirikan Nahdhatul  Ulama bersepakat untuk menegakkan kembali khilafah.  Mereka membentuk  Komite Khilafah tanggal 4 Oktober 1924 di Surabaya dengan ketua  Wondosudirdjo dari Sarekat Islam dan wakil ketua K.H. Abdul Wahab  Hasbullah tokoh pendiri Nahdhatul Ulama sebagai utusan dalam kongres  Khilafah di Mesir.</p>
<p><strong>Mustafa Mengubur Peradaban Islam</strong></p>
<p>Sementara itu di Turki, setelah sukses menjagal Khilafah, mulailah Mustafa Kemal mengubur peradaban Islam dari bumi Turki.</p>
<p>Tahun 1925 M/ 1344 H masjid-masjid ditutup dan pemerintah memberangus semua gerakan keagamaan dengan segala kebengisannya..</p>
<p>Tahun itu juga, Latife yang minta diperlakukan dan dihormati sebagaimana  mestinya seorang istri, dengan kasar diceraikan oleh Mustafa Kemal dan  diusirnya.</p>
<p>Setelah bercerai, Mustafa menjadi lelaki tak tahu malu dan tak mengenal  batas. Ia menjadi peminum berat dan tak bisa lepas dari miras. Sejumlah  lelaki muda tampan, istri, dan putri pendukungnyapun menjadi objek  pemuas syahwat dan korban agresi vital nafsunya, sampai ia menderita  penyakit kelamin.</p>
<p>Sementara itu, gemuruh kaum oposisi Turki mulai menderu. Gemuruh itu  akhirnya meledak pada 1926, ketika suku Kurdi gunung melancarkan  pemberontakan bersenjata melawan rezim Kemalis. Mustafa Kemal tak buang  waktu. Seluruh suku Kurdistan di Turki dibinasakan dengan bengis, desa  dibakar, ternak dan hasil panen dihancurkan, perempuan dan anak-anak  diperkosa dan dibantai. 46 kepala suku Kurdi digantung di depan umum.  Dan terakhir, mengeksekusi Syekh Said, pemimpin suku Kurdi.</p>
<p>Tahun 1926/ 1345 M Syariah Islam diganti dengan hukum sipil yang diadopsi dari hukum Swiss.</p>
<p>Tahun itu juga Penanggalan Hijriyah diganti dengan penanggalan masehi  sehingga angka tahun 1345 H dihapus di seluruh Turki dan diganti dengan  1926 M.</p>
<p>Tahun 1928 M/ 1347 H Teks undang-undang menghapus Turki sebagai  pemerintahan Islam. Teks sumpah yang diucapkan para pejabat pemerintah  saat dilantik yang sebelumnya bersumpah dengan nama Allah diganti dengan  hanya mengucapkan &#8220;Dengan kehormatan mereka, mereka akan menunaikan  kewajiban.&#8221;</p>
<p>Tanggal 1 November 1928 dibuat UU tentang pengambilan dan penerapan alfabet (Latin) serta pelarangan tulisan Arab.</p>
<p>Tahun 1929 M/ 1348 H. Pemerintah mulai mewajibkan secara paksa untuk  menggunakan huruf-huruf latin dalam penulisan bahasa Turki sebagai ganti  huruf Arab yang dipakai sebelumnya. Pengajaran bahasa Arab dan Persia  dihapuskan dari seluruh fakultas. Buku-buku yang terlanjur dicetak dalam  huruf Arab diekspor ke Mesir, Persia dan India. Pemerintah Turki ingin  memutus hubungan Turki dengan masa lalu keislaman mereka, juga memutus  hubungan Turki dengan kaum muslimin di seluruh negeri Arab dan negeri  Islam lainnya.</p>
<p>Tahun 1931-1932 M/ 1350-1351 H pemerintah membatasi jumlah masjid.  Mustafa Kemal terus mencerca masjid-masjid. Dia menutup masjid utama di  Istambul dan mengubah Masjid Aya Shofia menjadi museum, sedang Masjid  al-Fatih dijadikan gudang!</p>
<p>1933 M/ 1352 H  Fakultas Syariah di Universitas Istambul ditutup.  Pemerintah juga menghapus pendidikan agama di sekolah-sekolah khusus.</p>
<p>Mustafa Kemal meniupkan ruh nasionalisme ke tengah-tengah bangsa Turki  dengan selalu mendengung-dengungkan. &#8220;Sesungguhnya Turki adalah pemilik  peradaban yang paling tua di dunia. Sudah tiba saatnya kini untuk  diambil kembali dan menggantikan peradaban Islam.&#8221;</p>
<p>Tahun itu juga Mustafa Kemal melalui Majelis Nasional (National  Assembly) kemudian menyandangkan gelar Ataturk pada dirinya, yang  berarti Bapak orang-orang Turki.</p>
<p>Mustafa Kemal Ataturk memerintahkan penerjemahan al-Qur`an ke dalam  bahasa Turki, sehingga kehilangan makna-maknanya dan cita rasa  bahasanya. Puncaknya, dia memerintahkan agar adzan dilakukan dengan  menggunakan bahasa Turki!</p>
<p>Tanggal 3 Desember 1934 dibuat UU tentang larangan memakai busana tradisional yang Islami.</p>
<p>Pemerintah memerintahkan kaum wanita untuk menanggalkan jilbab dan  membiarkan mereka berkeliaran dimana-mana tanpa mengenakan jilbab.  Pemerintah juga menghapuskan kepemimpinan kaum lelaki atas wanita dengan  semboyan demi kebebasan dan kesetaraan jender. Pemerintah mendorong  diselenggarakannya pesta-pesta tari dan drama-drama yang menggabungkan  lelaki dan perempuan.</p>
<p>Tahun 1935 M Pemerintah Turki mengubah hari libur resmi Jumat menjadi hari Minggu yang dimulai Sabtu Zhuhur hingga Senin pagi.</p>
<p><strong>Pengaruh Mustafa Kemal ke Dunia Islam<br />
</strong><br />
Langkah-langkah yang diambil Mustafa Kemal ini memiliki dampak yang luas  di Mesir, Afghanistan, Iran, India dan Turkistan serta kawasan dunia  Islam lainnya, termasuk Indonesia. Langkah-langkah ini memberi peluang  bagi kalangan yang menyeru pada westernisasi dengan  menjadikan Turki  sebagai teladan utama saat menyatakan tentang kemajuan dan kebangkitan.  Media-media yang orientasinya memusuhi Islam menyambut gembira apa yang  dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Media-media itu menyebarkan apa  yang dikatakan oleh Ataturk dengan ungkapannya, &#8220;Turki baru, sama sekali  tidak memiliki hubungan apa pun dengan agama.&#8221; Atau, saat lain ia  memegang al-Qur`an di tangannya dan dengan congkaknya menyatakan,  &#8220;Sesungguhnya kemajuan bangsa-bangsa tidak mungkin dilakukan dengan  menerapkan hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang telah berlalu beberapa  abad lamanya.&#8221; Na&#8217;udzubillahi min dzalik!</p>
<p>Mustafa Kemal yang telah murtad ini selalu berkoar di mimbar-mimbar agar  rakyat Turki meniru apa yang ada di Barat Salibis dan mengajak pada  kebebasan yang berbau kekufuran bagi kalangan wanita Turki. Mustafa  mengajak pada degradasi akhlak dengan anggapan bahwa minum minuman  keras, judi dan perzinahan tak lain sebagai gambaran dari tingginya  peradaban dan kemajuan.</p>
<p>Setelah menghukum mati teman-teman yang dulu seperjuangan dengannya,  kini Mustafa Kemal jadi diktator absolut bagi Turki sekuler.</p>
<p><strong>Kematian Mustafa Kemal</strong></p>
<p>Tahun 1938 M, kesehatan Mustafa Kemal Ataturk memburuk, dan meninggal  dunia pada tanggal  10 November 1938/ 1356 H dalam kondisi terkena  penyakit pengerasan hati (cirrhosis) akibat kecanduan alkohol.</p>
<p>Demikianlah, akhir hayat seorang diktator sekuler liberal penjagal Khilafah. Mustafa Kemal Ataturk laknatullah alaihi.</p>
<p>Demikianlah, walau Mustafa Kemal Ataturk telah binasa, namun kader-kader  dan pendukungnya di berbagai negeri, termasuk di Indonesia masih  banyak. Sejarah tentang Mustafa Kemal Ataturk banyak yang disembunyikan  dan diputarbalikan. Mustafa Kemal Ataturk ditulis sebagai seorang  pahlawan, dan sebaliknya Khilafah yang ia jagal digambarkan dengan  gambaran yang sangat kelam. Tugas kita semua meluruskan penyimpangan  sejarah ini, agar anak cucu kita tak salah menilai siapa Mustafa Kemal  Ataturk ini. Amin.</p>
<p>*) Oleh : Umar Abdullah, Penulis Naskah VCD Sejarah Daulah Khilafah  Islamiyah, VCD Sejarah Pornografi, Erotisme dan Seks Bebas, dan buku  Kapitalisme, The Satanic Ideology</p>
<p>Sumber Bacaan:</p>
<p>1. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Ali Muhammad Ash-Shalabi.  (ad-Daulah al-&#8217;Utsmaaniyyah &#8216;awaamilut tahwidh wa asbaabus suquuth.  Maktabah Al-Iman). Pustaka al-Kautsar. Jakarta. 2003.<br />
2. Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islam. Abdul Qadim Zallum.  (Terjemahan How The Khilafah Destroyed. Khilafah Publication. London).  Al-Izzah. Bangil. 2001.<br />
3. Para Pengkhianat. Maryam Jameelah. (Terjemahan Traitrors of Islam in  Islam and Modernism. www.khilafah.org). 2003. Pustaka Thariqul Izzah.  Bogor. 2003.<br />
4. Rahasia Kehidupan Seksual Para Diktator Besar. Nigel Cawthorne.  (Terjemahan Sex Lives of The Great Dictators. Carlton Books. London).  Penerbit Alas Publishing. Yogyakarta. 2007<br />
5. Sejarah Para Khalifah. Hepi Andi Bastoni. Pustaka al-Kautsar. Jakarta. 2008.<br />
6. www.wikipedia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/siapakah-sebenarnya-mustafa-kemal-attaturk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dusta Teori Gujarat Snouck Hurgronje</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/dusta-teori-gujarat-snouck-hurgronje/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/dusta-teori-gujarat-snouck-hurgronje/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 04:35:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[gujarat]]></category>
		<category><![CDATA[masuknya islam di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[snouck hurgronje]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingatkah kita semua tatkala masih duduk di bangku sekolah, saat mendengar bapak atau ibu guru bercerita tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara? “Agama Islam,” kata mereka, “… masuk ke Nusantara lewat para pedagang dari Gujarat, India.” Kini, puluhan tahun kemudian, coba buka buku sejarah anak-anak kita. Lihat bab mengenai masuknya Islam di Nusantara. Ternyata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_892" class="wp-caption alignright" style="width: 267px"><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/01/christiaan_snouck_hurgronje.jpg"><img class="size-full wp-image-892 " title="christiaan_snouck_hurgronje" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/01/christiaan_snouck_hurgronje.jpg" alt="" width="257" height="378" /></a><p class="wp-caption-text">christiaan_snouck_hurgronje</p></div>
<p>Masih ingatkah kita semua tatkala masih duduk di bangku sekolah, saat mendengar bapak atau ibu guru bercerita tentang sejarah masuknya Islam<br />
di Nusantara? “Agama Islam,” kata mereka, “… masuk ke Nusantara lewat para pedagang dari Gujarat, India.” Kini, puluhan tahun kemudian, coba buka buku sejarah anak-anak kita. Lihat bab mengenai masuknya Islam di Nusantara. Ternyata, masih banyak buku teks sejarah di sekolah-sekolah kita yang juga menuliskan jika Islam masuk di Nusantara lewat Gujarat di abad ke-13 Masehi. Hal ini diyakini berdasarkan catatan Marco Polo yang pada 1292 pernah singgah di Sumatera Utara dan menemukan sebuah kampung di mana warganya Muslim, lalu juga nisan makam Sultan Malik al-Shaleh yang berangka 1297 M.<br />
Teori yang menyebutkan Islam masuk di Nusantara berasal dari Gujarat secara populer disebut sebagai Teori Gujarat. Teori ini berasal dari seorang orientalis Belanda yang mengaku-aku masuk Islam bernama Snouck Hurgronje. Ironisnya, oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, teori yang sesunguhnya penuh racun ini seolah dijadikan pembenaran tunggal bagi sejarah masuknya Islam di Nusantara.</p>
<p>Padahal, teori Gujarat tersebut banyak mendapat tentangan, bukan saja dari para intelektual Muslim, seperti HAMKA dan juga sejarawan Mansyur Suryanegara, namun juga dari intelektual Barat,dengan segala fakta-fakta arkeologis dan literatur kuno yang ditemukan. Islam di Nusantara Sejak Abad ke-7 Masehi Salah seorang penentang Teori Gujarat van Hurgronje adalah Prof. Dr. HAMKA yang menegaskan jika seorang pencatat sejarah Tiongkok<br />
yang mengembara pada 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang berdiam di pesisir Barat Sumatera. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.</p>
<p>Temuan HAMKA diamini oleh Peter Bellwood2, seorang Reader in Archaeology di Australia National University, yang telah melakukan banyak<br />
penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara. Bellwood menemukan bukti-bukti jika sebelum abad kelima masehi, yang berarti Rasulullah SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.</p>
<p>Bellwood dalam catatan kakinya  menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…”</p>
<p>Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina. Menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan seorang raja dengan wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru berdiri pada 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985).</p>
<p><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/01/ulama-arab.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-893" title="ulama arab" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2011/01/ulama-arab.jpg" alt="" width="241" height="263" /></a>Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara-terutama Sumatera dan Jawadengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Tibbetts meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra-Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi.</p>
<p>Bahkan peneliti sejarah kuno dari London University, Robert Dick-Read, lebih berani lagi dengan menyatakan jika pada masa awal Masehi, pelaut-pelaut Nusantara telah menjadi pioner bagi jalur perdagangan dunia hingga ke benua Afrika. Bahkan perdagangan bangsa Cina sangat tergantung pada jasa pelaut-pelaut Nusantara dalam mengarungi samudera luas. Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M-hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab-di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.</p>
<p>Disebutkan pula bahwa di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).</p>
<p>Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat<br />
Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh. Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.</p>
<p>Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Di masa sebelum masehi, sangat sulit menemukan catatan tua di Jawa yang bisa membuka selubung gelap sejarah awalnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno yang berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya.</p>
<p>Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya. Sejarahwan T.W. Arnold menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam langsung dari jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M. Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini; misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara. Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini setidaknya menyatakan jika Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M.</p>
<p>Sejarawan asal Bandung, Mansyur Suryanegara, berpegangan pada banyak literatur kuno dan berbagai penelitian yang ada meyakini jika Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Bahkan Mansyur berani menyatakan jika pedagangpedagang dari Nusantara jauh sebelum Rasulullah diangkat menjadi Rasul SAW telah melakukan perdagangan sampai di Syam. “Bukan hal yang mustahil jika sesungguhnya para pedagang asal Nusantara telah melakukan kontak dengan Rasulullah di Syam, mengingat Rasulullah SAW juga seorang kepala kabilah dagang di Syam saat mudanya,<br />
yaitu membawa barang-barang dagangan dari Khadijah,” ujar Mansyur Suryanegara.</p>
<p>Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Mekkah ke seluruh Jazirah Arab. Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir<br />
Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW  memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.</p>
<p>Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.</p>
<p>Perjalanan dari Sumatera sampai ke Mekkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2,5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r.a. Inilah yang membuat seorang Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Mekkah dan Madinah.</p>
<p>Dalam literatur kuno asal Tiongkok, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinanKhalifah Utsman bin Affan (644-656 M).</p>
<p>Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M). Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. Gujarat Sekadar Tempat Transit Islam masuk di Nusantara dibawa oleh generasi Islam pertama, para shahabat. Islam di Nusantara bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang  berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera. Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2011/01/dusta-teori-gujarat-snouck-hurgronje/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urutan Khilafah Islamiyah</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/urutan-khilafah-islamiyah/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/urutan-khilafah-islamiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 07:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[daulah islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum. Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja. A. Sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang  sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang  bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.</p>
<p>Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah,  terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini  adalah sebab-sebab secara umumnya saja.</p>
<p><strong>A. Sebab Ekternal</strong></p>
<p>Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada  perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu  dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh  para pemangsa dan lawan-lawannya.</p>
<p>Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki  yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan “<em>The Sickman in Europe</em>.” Bahkan kata “turkey” dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.</p>
<p>Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah  satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik,  tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau  adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut  dengan angkatan perangnya.</p>
<p><strong>B. Sebab Internal</strong></p>
<p>Penjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala <em><strong>mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat</strong></em>. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu <em><strong>sekulerisasi selapis generasi</strong></em>. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang <strong><em>anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.</em></strong></p>
<p>Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan  lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal  Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan khilafah  pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.</p>
<p>Sayangnya, hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam  pelajaran sejarah di negeri kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai  kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja bangsa-bangsa kafir itu  sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang zhalim itu, justru  muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.</p>
<p>Padahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah  melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang  terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup  tanpa naungan khilafah.</p>
<p>Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni  sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa  ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya.  Tiba-tiba seorang sekuleris yang <em>nota bene</em> agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam <em>bid’ah kubro</em>.  Sebuah bid’ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid’ah yang  pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid’ah  berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.</p>
<p><strong>Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam</strong></p>
<p>Dengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera  membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini  dalam bahasa Arab adalah <em>khalifah</em>. Lengkapnya, <em>khalifatu rasulillah</em> atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian  Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi  umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan  sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.</p>
<p>Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah <em>Amirul Mukminin</em>. Artinya adalah pemimpin umat Islam.</p>
<p><strong>1. Khilafah Rasyidah</strong></p>
<p>Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW.  Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah  secara bergantian. Mereka adalah:</p>
<ul>
<li>Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)</li>
<li>‘Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)</li>
<li>‘Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)</li>
<li>‘Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan</li>
<li>Al-Hasan bin ‘Ali ra (tahun 40 H/661 M)</li>
</ul>
<p>Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai  khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang  mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para  khalifah rasyidah ini.</p>
<p><strong>2. Khilafah Bani Umayyah</strong></p>
<p>Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri  untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era  khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah.  Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin  Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Mu’awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)</li>
<li>Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)</li>
<li>Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)</li>
<li>Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)</li>
<li>Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)</li>
<li>Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)</li>
<li>Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)</li>
<li>‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)</li>
<li>Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)</li>
<li>Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)</li>
<li>Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)</li>
<li>Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)</li>
<li>Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)</li>
<li>Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)</li>
</ul>
<p>Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah,  sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung  Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan  khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.</p>
<p><strong>3. Khilfah Bani Abbasiyah</strong></p>
<p>Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani ‘Abasiyah yang berpusat  di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah  pertama adalah Abu al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya  Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah.</p>
<p>Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)</li>
<li>Abu Ja’far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)</li>
<li>Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)</li>
<li>Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)</li>
<li>Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)</li>
<li>Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)</li>
<li>Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)</li>
<li>Al-Mu’tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M)</li>
<li>Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)</li>
<li>Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)</li>
<li>Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)</li>
<li>Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)</li>
<li>Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)</li>
<li>Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)</li>
<li>Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)</li>
<li>Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)</li>
<li>Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)</li>
<li>Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)</li>
<li>Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)</li>
<li>Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)</li>
<li>Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)</li>
<li>Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)</li>
<li>Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)</li>
<li>Al-Tha`i’ Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)</li>
<li>Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)</li>
<li>Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)</li>
<li>Al-Mu’tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)</li>
<li>Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)</li>
<li>Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)</li>
<li>Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)</li>
<li>Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)</li>
<li>Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)</li>
<li>Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)</li>
<li>Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)</li>
<li>Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)</li>
<li>Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)</li>
<li>Al-Musta’shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)</li>
<li>Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)</li>
<li>Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)</li>
<li>Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)</li>
<li>Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)</li>
<li>Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)</li>
<li>Al-Mu’tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M)</li>
<li>Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)</li>
<li>Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)</li>
<li>Al-Musta’shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)</li>
<li>Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah II (th. 791-808 H/1392-1409 M)</li>
<li>Al-Musta’in Billah (tahun 808-815 H/1409-1416 M)</li>
<li>Al-Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)</li>
<li>Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)</li>
<li>Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)</li>
<li>Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)</li>
<li>Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)</li>
<li>Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)</li>
<li>Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)</li>
</ul>
<p>Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol),  sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah.  Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera  berdiri khilafah Utsmaniyah.</p>
<p><strong>4. Khilafah Bani Utsmaniyyah</strong></p>
<p>Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang  berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi.  Nama-nama mereka sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)</li>
<li>Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)</li>
<li>Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)</li>
<li>Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)</li>
<li>Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)</li>
<li>Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)</li>
<li>Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)</li>
<li>‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)</li>
<li>Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)</li>
<li>Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)</li>
<li>Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)</li>
<li>Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)</li>
<li>Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)</li>
<li>Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)</li>
<li>Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)</li>
<li>Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)</li>
<li>Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)</li>
<li>‘Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)</li>
<li>Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)</li>
<li>‘Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)</li>
<li>Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)</li>
<li>Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)</li>
<li>Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)</li>
<li>‘Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)</li>
<li>‘Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)</li>
<li>Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)</li>
<li>‘Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)</li>
<li>Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)</li>
<li>Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)</li>
<li>‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).</li>
</ul>
<p>Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah ‘Abdul Majid II. Semenjak  tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih  dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang  menyatukan.</p>
<p><strong>Kepastian Kembalinya Khilafah </strong></p>
<p>Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana  umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah,  ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang  luar negeri merekabertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita  mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih ditambah lagi dengan  rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan.</p>
<p>Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup  melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah  ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.</p>
<p>Sabda Rasulullah saw, “<em>Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”. </em></p>
<p>Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila  hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi  saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan  saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah.</p>
<p>Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki  oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya  bukan sekedar <em>lips service</em>, namun harus diiringi dengan kerja  nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga  pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga  dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia  Islam yang mumpuni.</p>
<p>Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat  menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh  sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi warabaraktuh.</em></p>
<p>[ oleh Ahmad Sarwat, Lc. ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/urutan-khilafah-islamiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Memperjuangakan Khilafah</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/kewajiban-memperjuangakan-khilafah/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/kewajiban-memperjuangakan-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 07:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[daulah islam]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[Kedatangan Khilafah Ala Minhaji An-Nubuwah merupakan Janji Allah yang telah disampaikan Oleh Rasulnya Muhammad Saw sbb: Imam Ahmad berkata, “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kedatangan Khilafah Ala  Minhaji An-Nubuwah merupakan Janji Allah yang telah disampaikan Oleh Rasulnya  Muhammad Saw sbb:</p>
<p><em><em>Imam Ahmad berkata,  “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami;  di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits  kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata,  “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana  ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri  adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah  Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu  hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab,  “Saya hafal khuthbah Nabi saw.</em></em></p>
<p><em><em>” Hudzaifah berkata,  “</em>Nabi saw bersabda,  “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan  datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.  Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas  kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia  berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja  menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.  Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan  datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan  datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian,  datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas  kenabian). Setelah itu, beliau diam</em><em><em>”.[</em></em>HR. Imam Ahmad]</p>
<p><strong><strong> </strong></strong></p>
<p><strong><strong> </strong></strong></p>
<p>tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaaj al-Nubuwwah  menyertakan peran dan andil dari kaum Muslim, bukan semata-mata hanya andil dari  Allah swt. Untuk itu, kaum Muslim wajib merencanakan dan berjuang dengan  sungguh-sungguh untuk menegakkan dan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah ini.  Ia dilarang menunggu-nunggu tegaknya Khilafah Islaamiyyah tanpa melakukan  tindakan apapun, dengan alasan berdirinya khilafah merupakan taqdir dan  qadla’nya Allah swt. Oleh karena itu, seandainya hadits ini tidak ada, atau  dianggap tidak layak dijadikan dalil, sesungguhnya kaum Muslim tetap  diperintahkan untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah hingga datangnya hari kiamat.  Mereka dilarang hidup tanpa keberadaan seorang Khalifah yang mengatur urusan  mereka dengan syariat Allah swt. Sesungguhnya, yang diwajibkan syariat atas kaum  Muslim adalah menegakkan Khilafah al-Islamiyyah tanpa memperhatikan lagi apakah  Khilafah Islamiyyah bisa berdiri kembali atau tidak dalam prerograsi Allah.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw  bersabda: Adalah Bani Israil yang mengurus urusan mereka adalah para nabi-nabi,  setiapkali seorang nabi meninggal maka digantikan oleh nabi yang lain, dan  sesungguhnya setelahku tidak ada nabi lagi, yang akan ada adalah para khalifah  dan mereka berjumlah banyak, para sahabat bekata: lalu apa yang engkau  perintahkan kepada kami?, Nabi saw menjawab: tunaikanlah bai’at kepada khalifah  yang paling pertama terpilih, dan berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah swt  akan memintai pertanggungjawaban atas mereka tentang apa yang mereka  urusi.</p>
<p>Dari Abdullah bin ‘<em>Umar ra, Rasulullah saw bersabda: Dan barangsiapa  yang meninggal sedangkan di lehernya tidak ada bai’at maka dia bagaikan  meninggal dalam kondisi jahiliyyah.</em></p>
<p>Dalil bahwa umat islam harus ber-Hukum  dengan Hukum Allah Swt.</p>
<p><em>“Dan Kami telah  turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang  sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian  terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa  yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan  meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara  kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki,  niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu  terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya  kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang  telah kamu perselisihkan itu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara  mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa  nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak  memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika  mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa  Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan  sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah  orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan  (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang  yakin?”</em> (TQS.  Al-Maidah [5]: 48-50)</p>
<p>Imam Al-Qal’i Asy-Syafi’i dalam kitabnya  Tahdzîb Ar-Riyâsah wa Tartîb As-Siyâsah menuliskan:<br />
<em>Segenap umat islam bersepakat -kecuali siapa-siapa  yang tidak diperhitungkan pendapatnya- atas wajibnya mengangkat seorang Imam  secara mutlak, sekalipun mereka berbeda pendapat dalam sifat-sifat dan  syarat-syaratnya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Imam As-Sinqithi dalam kitab tafsirnya juga  berkata:<br />
<em>Sudah jelas dan maklum dalam  agama bahwa kaum muslimin diwajibkan untuk mengangkat seorang imam yang  menyatukan suara mereka dan dengannya diterapkan hukum-hukum Allah swt di muka  bumi. Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini melainkan mereka yang tidak  diperhitungkan suaranya, seperti Abu Bakar Al-Ashamm seorang mu’tazilah,  sebagaimana dikatakan sebelumnya oleh Al-Qurthubi, juga seperti Dhirar, Hisyam  Al-Futhi, dan sebagainya</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Demikian pula Imam Asy-Syaukani dalam  karyanya Nail Al-Authâr juga berkata:<br />
<em>Mayoritas ulama berpendapat bahwa Imamah adalah  wajib, sedangkan menurut Dhirâr, Al-Ashamm, Hisyam Al-Futhi, dan An-Najdat, hal  tersebut tidak wajib</em>.</p>
<p>Kewajiban tersebut dibangun berdasarkan  dalil-dalil Syara’, bukan berdasarkan logika. Hujjatul-Islâm Imam Al-Ghazali  berkata:<br />
<em>Penjelasan tentang wajibnya  mengangkat seorang imam. Jangan sampai anda mengira bahwa kewajiban tersebut  berdasarkan akal, sesungguhnya kami telah menjelaskan bahwa kewajiban tersebut  diambil dari (nash) syara’.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Demikian pula Imam An-Nawawi dalam kitab  Syarahnya atas Shahih Muslim menyebutkan:<br />
<em>Dan para ulama bersepakat bahwa kaum muslimin wajib  mengangkat seorang khalifah, kewajiban tersebut berdasarkan syara’ bukan  akal.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Salah satu contohnya tentang Hadist  Rasullulah tentang penaklukan Konstantinopel :</p>
<p>Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr  bin Ash, “<em>Suatu ketika kami sedang menulis  di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih  dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang  akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.”</em> [H.R.  Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]</p>
<p><em>“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam.  Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada  di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”</em> [H.R. Ahmad bin  Hanbal Al-Musnad 4/335]</p>
<p>Seandainya saja Muhammad Al-fatih dan  pasukkannya hanya diam menunggu saja tidak ada perjuangan untuk mewujudkannya  mungkin Penakluk Konstantinopel bukan Muhammad Al-fatih. Sebagaimana Firman  Allah Swt Bahwa Allah akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut mau  merubah Nasibnya sendiri.</p>
<p>Seorang Muslim wajib menyakini dan  mengimani apa yang telah dijanjikan Allah swt kepada mereka; yakni, jika mereka  bersungguh-sungguh dan sabar dalam menolong agama Allah, niscaya Allah akan  menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka. Allah swt  berfirman;<br />
<em><em>“Hai orang-orang yang beriman,  jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan  kedudukanmu”.</em></em>[TQS Mohammad (47):7]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/kewajiban-memperjuangakan-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Al-Mahdi dengan Khilafah</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/hubungan-al-mahdi-dengan-khilafah/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/hubungan-al-mahdi-dengan-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 05:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah. Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi? Jawab: 1- Kalaupun ada hadits yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soal:</p>
<p>Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj  Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa  Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah.  Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam  Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang  mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>1-  Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka  hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu  berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya  tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:</p>
<p>“Siapa  saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia  akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan,  siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at,  maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)[1]</p>
<p>Manthuq  hadits di atas menyatakan, bahwa “Siapa saja yang mati, ketika Khilafah  sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam  keadaan jahiliyah.” Atau “Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada,  dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya  ada bai’at, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah.” Karenanya,  kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam  Mahdi.</p>
<p>2- Memang banyak hadits yang menuturkan akan lahirnya  Imam Mahdi, namun tidak satupun hadits-hadits tersebut menyatakan, bahwa  Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah. Hadits-hadits tersebut  hanya menyatakan, bahwa Imam Mahdi adalah seorang Khalifah yang saleh,  yang akan memerintah dengan adil, dan akan memenuhi bumi dengan  keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan  penyimpangan. Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw.  bersabda:<br />
Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini  dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang  lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku,  sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan,  sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.  (Hr. Ibn Hibban)[2]</p>
<p>Dalam riwayat lain, dari Abdullah, dari Nabi Rasulullah saw. beliau bersabda:</p>
<p>Hari  kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah manusia ini diperintah oleh  seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), yang namanya  sama dengan namaku, dan nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku. Dia  kemudian memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan. (Hr. Ibn  Hibban)[3]</p>
<p>3- Hanya saja, terdapat riwayat yang menyatakan, bahwa  Imam Mahdi tersebut lahir setelah berdirinya Khilafah, bukan  sebelumnya. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah  mendengar Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p>“Akan muncul pertikaian saat  kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah  melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya  memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak  mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan  Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan  tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah.  Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam  dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul  seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun  mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya  atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah  Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang  mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah  Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di  tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya.  Tidak lama kemudian, selama tujuh atau, dia pun meninggal dunia, dan  dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama  kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)</p>
<p>Hadits di  atas, dengan jelas menyatakan, bahwa akan lahir Khalifah baru setelah  meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam  lafadz:</p>
<p>“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian keluarlah seorang lelaki..” (Hr. At-Thabrani)</p>
<p>Dengan  demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan  mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua jelas merupakan pandangan yang lemah.  Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang  untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu sudah diemban oleh Imam  Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya,  adalah juga pandangan yang tidak berdasar.</p>
<p>Jadi jelas sekali,  bahwa Imam Mahdi bukanlah orang yang mendirikan Khilafah, dan dia  bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rasyidah Kedua yang insya  Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Karena itulah, tidak ada  pilihan lain bagi setiap Muslim yang khawatir akan mati dalam keadaan  jahiliyah, selain bangkit dan berjuang bersama-sama para pejuang syariah  dan Khilafah hingga syariah dan Khilafah tersebut benar-benar tegak di  muka bumi ini. Allah Akbar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/hubungan-al-mahdi-dengan-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negara Demokrasi VS Negara Islam</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/negara-demokrasi-vs-negara-islam/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/negara-demokrasi-vs-negara-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 05:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[negara demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[negara islam]]></category>
		<category><![CDATA[sistem khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[syariah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Sejak keruntuhan Khilafah pada 28 Rajab 1342 H, 89 tahun lalu, bisa disebut hampir sebagian besar Dunia Islam mengadopsi sistem demokrasi. Harapannya, sistem demokrasi akan membuat Dunia Islam lebih baik, ternyata tidak. Dunia Islam tetap saja mengidap berbagai persoalan yang akut seperti kemiskinan, kebodohan, pembantaian dan konflik yang berkepanjangan. Di sisi lain, arus besar untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak keruntuhan Khilafah pada 28 Rajab 1342 H, 89 tahun lalu, bisa  disebut hampir sebagian besar Dunia Islam mengadopsi sistem demokrasi.  Harapannya, sistem demokrasi akan membuat Dunia Islam lebih baik,  ternyata tidak. Dunia Islam tetap saja mengidap berbagai persoalan yang  akut seperti kemiskinan, kebodohan, pembantaian dan konflik yang  berkepanjangan.</p>
<p>Di sisi lain, arus besar untuk kembali ke sistem Khilafah semakin  menguat. Ada pernyataan berulang: Demokrasi memang tidak sempurna,  tetapi sampai saat ini merupakan sistem terbaik untuk melawan sistem  totaliter. Muncul pula pertanyaan berulang: Kebaikan apa yang ditawarkan  sistem Khilafah untuk menggantikan sistem demokrasi? Bisakah sistem  Khilafah mewujudkan harapan-harapan manusia yang gagal diwujudkan  demokrasi? Kita tentu menjawab dengan tegas: sistem Khilafah pasti  mampu.</p>
<p>Pertama: menjamin kebenaran yang hakiki. Demokrasi telah gagal dalam hal  ini. Klaim suara rakyat adalah suara Tuhan dan menganggap suara  mayoritas rakyat adalah suara kebenaran tidak terbukti. Bagaimana suara  mayoritas rakyat Amerika bagian utara yang melegalkan perbudakan pada  abad ke-19 dianggap benar. Demikian juga, sulit diterima sebagai sebuah  kebenaran ketika mayoritas wakil rakyat lewat proses demokrasi  melegalkan penghinaan terhadap manusia apalagi manusia yang mulia  seperti Rasululllah saw., perkawinan homoseksual dan lesbian. termasuk  serangan terhadap Irak, Afganistan yang telah membunuh ratusan ribu  orang yang dilegalkan lewat suara mayoritas rakyat.</p>
<p>Adapun Islam menawarkan sebuah sistem yang sempurna karena berasal dari  Zat Yang Mahasempurna, yaitu Allah SWT. Memang, mungkin saja terjadi  penyimpangan dari pelaksaan sistem yang sempurna ini. Namun, dari segi  sumbernya sistem Khilafah ini adalah yang terbaik. Sebaliknya, demokrasi  sejak dasarnya saja sudah bermasalah ketika kebenaran diserahkan kepada  manusia.</p>
<p>Kedua: memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpendapat, memilih  pemimpinnya sendiri, berekspresi, mengkritik sesuatu yang keliru.  Demokrasi memang mengklaim telah memenuhi seluruh harapan ini. Namun,  nilai-nilai liberal kemudian menjadi pilarnya. Akibatnya, kebebasan yang  ditawarkan menjadi kebablasan dan mengancam masyarakat sendiri.  Bukankah atas dasar kebebasan berekspresi, berpendapat dan berkumpul,  kelompok-kolompok homoseksual dan pelaku-pelaku pornografi menginginkan  eksistensinya diakui? Ahmadiyah, Lia Eden, dan aliran sesat lainnya pun  minta diakui dengan berdalih pada kebebasan?</p>
<p>Di sisi lain, kebebasan yang ditawarkan demokrasi mengidap penyakit  hipokrit (standar ganda). Mengklaim kebebasan beragama tetapi melarang  pemakaian cadar, jilbab, atau burqa di Eropa. Klaim menghargai pilihan  rakyat, tetapi menghadang kemenangan FIS di Aljazair dan Hamas di  Palestina, yang sebenarnya menang secara demokratis. Boleh menghujat  Nabi Muhammad sekalipun, tetapi siapa pun yang mempertanyakan kebenaran  holocaust dikriminalkan. Sudah pula menjadi rahasia umum, terdapat  pengekangan terhadap media baik lewat sensor internal pemilik modal  media ataupun pemerintah.</p>
<p>Sebaliknya, sistem Islam memberikan ruang bagi masyarakat  seluas-luasnya, namun tetap dalam kerangka hukum syariah yang menjadi  standar acuan. Dalam sistem Khilafah, kepala negara atau Khalifah  dipilih oleh rakyat dengan berdasarkan keridhaan mereka. Mengkritik  penguasa yang menyimpang dalam Islam bukan hanya hak, tetapi sekaligus  merupakan kewajiban. Pahala sangat besar pun diberikan kepada mereka  yang syahid mengkritik penguasa dengan sebutan sebaik-baik jihad (afdhal  al-jihad) dan pemimpin para syuhada.</p>
<p>Terdapat juga Mahkamah Mazhalim yang akan menyelesaikan persengketan  antara rakyat dan penguasa, kalau rakyat menganggap kebijakan penguasa  telah merugikan mereka. Mahkamah Mazhalim juga akan meluruskan  keputusan-keputusan Khalifah yang bertentangan dengan hukum syariah.</p>
<p>Adapun Majelis Ummah, tempat tokoh-tokoh yang merupakan representasi  dari masyarakat, bisa mengkritik penguasa atau memberikan masukan kepada  Khalifah (musyawarah).</p>
<p>Perbedaan pendapat selama masih berlandaskan pada hukum syariah juga  dibolehkan dalam Islam. Meskipun Khlifah bisa jadi mengadopsi salah satu  pendapat Imam mazhab dalam pemerintahannya untuk diterapkan, perdebatan  ilmiah tentang itu tetap saja dibiarkan. Inilah yang membuat dalam  sistem Khilafah muncul berbagai mazhab, sebagai cerminan dari pengakuan  perbedaan pendapat ini.</p>
<p>Ketiga: menjamin hak-hak mendasar manusia. Ini adalah sesuatu yang gagal  dipenuhi oleh sistem demokrasi. Praktik pelanggaran HAM terbanyak dan  terbesar justru dilakukan oleh negara-negara kampiun demokrasi seperti  AS dan Inggris. Sebaliknya, penerapan syariah Islam akan menjaga nyawa  manusia, keturunan, harta dan kehormatan. Di antaranya dengan  menjatuhkan sanksi yang keras bagi pelaku pembunuhan, pencuri,pezina  dll.</p>
<p>Keempat: menjamin kepastian hukum dan persamaan di depan hukum. Syariah  Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah menjamin hal ini bagi seluruh  warga, baik Muslim maupun non-Muslim. Rasulullah saw. menolak makelar  hukum yang menginginkan agar perempuan bangsawan tidak dihukum.  Rasulullah saw. dengan tegas mengatakan kalaupun anaknya Fatimah  mencuri, beliau akan memotong tangannya. Khalifah Ali bin Thalib pernah  kalah ketika memperkarakan seorang Yahudi dengan tuduhan telah mencuri  baju perangnya. Saat itu hakim menilai Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak  memilik saksi yang bisa diterima oleh hukum.</p>
<p>Kelima: membuat kebijakan yang pro rakyat. Demokrasi gagal mewujudkan  hal ini. Sistem demokrasi telah melahirkan hubungan simbiosis mutualisme  antara penguasa dan pemilik modal yang merugikan rakyat. Akibatnya,  muncullah kebijakan elit politik yang lebih pro kepada pemilik modal  daripada rakyat. Industrialisasi politik, politik transaksional,  pragmatisme politik dan suap-menyuap merupakan penyakit kronis  demokrasi.</p>
<p>Sebaliknya, Khilafah melalui syariah Islam akan menutup pintu kejahatan  ini. Dalam bidang ekonomi syariah Islam juga menjamin kebutuhan pokok  tiap individu rakyat, pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Barang  tambang yang melimpah (emas, perak, minyak dll), air, hutan dan listrik  merupakan milik umum yang digunakan untuk kepentingan rakyat; tidak  boleh diberikan kepada swasta atau individu. Dengan cara seperti ini  Khilafah akan mensejahtrakan masyarakat, yang gagal diwujudkan oleh  sistem demokrasi.</p>
<p>Walhasil, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menerima sistem  Khilafah yang akan mewujudkan harapan-harapan manusia. Selain itu,  karena menegakkan Khilafah adalah kewajiban agama kita. Kalau ada sistem  yang sempurna, mengapa kita tidak mengambilnya? [Farid Wadjdi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/11/negara-demokrasi-vs-negara-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lobi Yahudi di AS</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/lobi-yahudi-di-as/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/lobi-yahudi-di-as/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 06:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[amerika serikat]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[zionis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Halle Berry, aktris Hollywood hitam pertama yang meraih Piala Oscar, pertengahan Oktober lalu tersandung kasus yang sebenarnya kecil tetapi membuat popularitasnya anjlok. Dalam suatu obrolan santai bertajuk “The Tonight Show” yang disiarkan saluran teve setempat, salah seorang pemain film X-Men ini secara berkelakar menyatakan jika hidungnya tidak lebih besar ketimbang hidung Yahudi sepupunya. Hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halle Berry, aktris Hollywood hitam pertama yang meraih Piala Oscar, pertengahan Oktober lalu tersandung kasus yang sebenarnya kecil tetapi membuat popularitasnya anjlok. Dalam suatu obrolan santai bertajuk “The Tonight Show” yang disiarkan saluran teve setempat, salah seorang</p>
<p>pemain film <em>X-Men </em>ini secara berkelakar menyatakan jika hidungnya tidak lebih besar ketimbang hidung Yahudi sepupunya. Hal yang terlihat amat sepele ternyata menuai badai hujatan terhadap Berry. Saluran teve Fox Channels dengan sangat provokatif menyatakan bahwa Berry telah menunjukkan sikap anti-Semit yang nyata.</p>
<p>Media-media AS yang nyaris seluruhnya dikuasai Yahudi juga mencerca</p>
<div id="attachment_699" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/bush-israel.jpg"><img class="size-medium wp-image-699" title="bush-israel" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/bush-israel-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Presiden Bush Junior</p></div>
<p>Berry sehingga aktris ini harus meminta maaf berkali-kali sembari mengklarifikasi ucapannya tersebut. “Oh Tuhanku, saya tidak menyangka sama sekali hal ini akan bisa merusak karirku….!” Seru Berry seperti yang ditulis harian fundamentalis Israel <em>The Jerusalem Post </em>(25/10/07) dengan tajuk “<em>Halle</em><em> Berry</em><em>’s Jewish nose joke</em>”. Bahkan di beberapa media Yahudi Amerika, kasus Berry ini disamakan dengan kasus Mel Gibson yang dalam keadaan mabuk mengatakan bahwa Yahudi harus bertanggungjawab atas seluruh peperangan yang terjadi di muka bumi ini. Baik Gibson maupun Berry telah menyatakan maaf, tapi tentu saja, karirnya diperkirakan akan segera meredup. “Memang gil seorang Yahudi dengan sebutan Yahudi, itu sudah dianggap anti-Semit dan hal yang serius di sini,” ujar Texe Marrs, investigator AS yang menemukan fakta bahwa Dinasti Bush merupakan Dinasti Yahudi tulen. Orang-orang Yahudi yang menjadi warganegara Amerika, menurut sensus penduduk tahun 2006 berjumlah lebih dari 5 juta jiwa. Mereka sangat kuat jaringannya sehingga sekecil apa pun yang bisa dianggap merugikan imej orang luar tentang Yahudi, akan mereka balas dengan serangan yang tidak mengenal kata kasihan.</p>
<p>Lobi Yahudi di Amerika merupakan salah satu tema kajian yang paling banyak dibahas dalam berbagai kesempatan. Walau orang-orang Yahudi membantah hal ini dan berupaya sekuat tenaga mengecilkan peran mereka dalam kebijakan luar negeri Amerika, namun fakta-fakta baik berupa angka-angka, pernyataan, dan tindakan pejabat Amerika dalam kebijakan luar negerinya telah membantah habis seluruh penolakan tersebut. Kasus Irak merupakan salah satu kasus di mana Yahudi Amerika tidak bisa mengelak bahwa serangan AS ke Irak semata-mata untuk mengamankan posisi Israel. “Irak bukan ancaman pada kami. Saddam pun tidak pernah mengatakan akan menyerang Amerika. Lantas mengapa kami harus menyerang dia?” pertanyaan ini yang umum dilontarkan aktivis anti Perang Irak yang seringkali melakukan aksi unjuk rasa di AS.</p>
<p><strong>Kekuatan Lobi Israel di AS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/israel_loby.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-700" title="israel_loby" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/israel_loby-300x292.jpg" alt="" width="180" height="175" /></a>Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang pengaruhnya sedemikian kuat di AS selain Israel. Hal ini tentu berasal dari kuatnya lobi Israel di Washington dan para pendukungnya di kalangan elit AS. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa semua lembaga pemerintah AS sesungguhnya dikuasai oleh Israel sehingga seorang Ariel Sharon pernah berkata, “Jangan takut, Amerika berada dalam kendali kita!” Sekurangnya ada dua organisasi Yahudi di AS yang sangat menentukan sikap luar negeri AS, yakni JINSA (<em>Jewish Institute for National Security Affairs</em>) dan CSP (<em>Center for Security Policy</em>), keduanya memiliki hubungan amat erat dengan CPD (<em>Committee on the Present Danger</em>), sebuah wadah tempat berkumpulnya para Hawkish Gedung Putih dan Pentagon seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Karl Rove, Richard Perle, dan sebagainya. Dibawahnya ada AIPAC (<em>American Israel Public Affairs Committee</em>). Organisasiorganisasi Zionis ini memiliki tiga agenda besar yang harus dilakukan setiap pemerintahan di AS yakni: selalu mendukung Israel dalam segala hal, selalu menambah anggaran militer, dan selalu menentang traktat kontrol senjata yang bisa merugikan AS dan Israel. Organisasi-organisasi lobi Yahudi ini pula yang mengontrol setiap tindakan seorang Presiden AS, apakah menguntungkan Israel atau dianggap merugikan. Seorang presiden AS yang ingin kekuasaannya aman, maka dia harus menjalankan agenda Israel. Jika tidak maka jangan harap dalam pemilu ke depan dia akan terpilih kembali atau yang paling <em>apes </em>adalah seperti yang dialami <strong><span style="text-decoration: underline;">Abraham Lincoln dan John F. Kennedy: Dibunuh!</span></strong></p>
<p><strong>Uang AS Untuk Israel</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Israel merupakan satu-satunya “negara” yang lebih memperdulikan perkembangan dan pertumbuhan kekuatan militer ketimbang ekonomi dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi semata-mata lantaran Israel tidak perlu lagi cemas kekurangan uang, karena ada sumber finansil yang tidak akan pernah habis yakni AS. Joseph Yackley dalam essay berjudul “<em>US Security Assistance to Israel</em>” (<em>www.foreignpolicyinfocus.org</em>) memaparkan jumlah hibah uang AS untuk Israel. Hibah AS ke Israel secara resmi ada dua cara: lewat program <em>Economic Support Fund </em>(ESF) dan lewat <em>Foreign Military Financing </em>(FMF). Dan hebatnya, tidak seperti bantuan AS kepada negara lainnya</p>
<p>yang selalu disertai syarat-syarat tertentu, maka khusus untuk Israel, AS menutup mata terhadap bantuannya tersebut. Israel boleh melakukan apa saja yang dikehendakinya dengan uang AS tersebut, tanpa harus mempertanggungjawabkannya kepada AS. Dan hebatnya lagi, tiap tahun jumlah uang AS untuk Israel selalu bertambah dalam jumlah yang fantastis.</p>
<p><a href="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/money-dollar.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-702" title="money dollar" src="http://cahaya-iman.web.id/wp-content/uploads/2010/10/money-dollar-300x282.jpg" alt="" width="300" height="282" /></a>Sekadar ilustrasi, uang AS untuk Israel di tahun 1949-1963 sejumlah US$63 juta, tahun 1966-1970 sejumlah US$102 juta, tahun 1971-1975 jumlahnya US$ 1 miliar, tahun 1976-1984 jumlahnya US$ 2.5 miliar, tahun 1993-1997 mencapai US$ 6.3 miliar. Tiap tahun, rata-rata AS menambah jumlah bantuannya kepada Israel sebesar US$60 juta. Menurut penelusuran Richard Curtiss, jumlah ini jauh dari angka yang sesungguhnya. Dalam artikel berjudul ‘<em>The Cost of Israel to the American People</em>”, Curtiss mendapatkan angka bahwa AS tiap tahunnya telah merogoh kocek sebesar US$ 11 miliar (!) untuk kepentingan Israel. Ini baru yang resmi, sedangkan yang tidak resmi jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Selain finansil, pemerintah AS juga tidak ragu-ragu mengorbankan nyawa rakyatnya demi memenuhi kepentingan Israel. Di Afghanistan dan Irak, Bush telah mengorbankan nyawa puluhan ribu pemuda AS demi ambisi Zionis-Israel. Oleh pemerintah AS, jumlah para pemuda AS yang tewas di Irak dan Afghanistan dengan sengaja ditutup-tutupi.</p>
<p>Namun walau demikian, ada organisasi-organisasi independen yang melakukan penghitungannya sendiri dan ini biasanya lebih mendekati kebenaran. Oleh sebab itulah, seharusnya kita tidak lagi membedakan mana Israel dan mana Amerika Serikat, karena keduanya merupakan dua sisi mata uang pada koin yang sama. Lihat <em>The Great Seal of USA</em>, sisi depan burung elang itu menggambarkan Amerika Serikat, dan sisi belakang, piramida Illuminati, merupakan penggambaran dari Zionis-Israel. Jadi Israel itu AS dan AS itu adalah Israel. Sebab itulah, seorang John Mearsheimer dan Stephen Walt dengan lantang berkata, “Bebaskan Amerika dari penjajahan Israel!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/10/lobi-yahudi-di-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syariah Islam Ancaman Buat Amerika Serikat ?</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/09/syariah-islam-ancaman-buat-amerika-serikat/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/09/syariah-islam-ancaman-buat-amerika-serikat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 04:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[“Though it certainly has spiritual elements, it would be a mistake to think of Shariah as a ‘religious’ code in the Western sense because it seeks to regulate all manner of behavior in the secular sphere — economic, social, military, legal, and political.” (The Washington Times 14/09/2010) Sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat baru-baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Though  it certainly has spiritual elements, it would be a mistake to think of  Shariah as a ‘religious’ code in the Western sense because it seeks to  regulate all manner of behavior in the secular sphere — economic,  social, military, legal, and political.”</em> (The Washington Times 14/09/2010)</p>
<p>Sebuah  panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat baru-baru ini mendesak  pemerintah pemerintah Obama untuk meninggalkan sikapnya bahwa Islam  tidak terkait dengan terorisme dan menyatakan bahwa muslim radikal menggunakan hukum Islam untuk menumbangkan Amerika Serikat. (The Washington Times  ,14/09/2010)</p>
<p>Artikel  yang berjudul <em>Shariah a danger to U.S., security pros say</em>, menjelaskan ada beberapa  alasan penting  kenapa  Shariah Islam mengancam Amerika Serikat. Pertama, karena syariah Islam  bukanlah sekedar agama spiritual seperti yang dipahami Barat, tapi  syariah Islam mengatur segala aspek tingkah laku termasuk ekonomi,  social , militer, hukum dan politik.</p>
<p>Kedua, mengkaitkan Islam dengan tindakan terorisme. Menurut laporan itu  para  pendukung Syariah akan melancarkan “jihad peradaban” bersama dengan  teroris Islam terlibat dalam jihad kekerasan, seperti al Qaeda. Ketiga,  sifat ideology Islam yang akan mengembalikan khilafah Islam dengan  syariah yang akan diterapkan secara global. Pejabat Partai Republik dan  democrak dinyatakan gagal memahami sifat ideology  Islam ini.</p>
<p><em>Thinktank</em> dari laporan ini adalah Kelompok Studi 19-anggota dipimpin oleh  pensiunan Angkatan Darat Letjen William G. Boykin, deputi wakil menteri  pertahanan untuk intelijen dalam pemerintahan George W. Bush dan  pensiunan Angkatan Darat Letjen Harry E. Soyster, direktur Badan  Intelijen Pertahanan 1988-1991.</p>
<p>Membaca laporan ini kita bisa mengerti kenapa Amerika Serikat sangat menentang penerapan syariah Islam secara total ,  khilafah dan kewajiban jihad dalam Islam. Namun , kita perlu jelaskan  syariah , khilafah dan jihad bukanlah ancaman bagi umat manusia. Sebab  Islam diturunkan oleh Allah SWT dengan system aqidah dan syariahnya  sebagai rahmatan lil ‘alamin, kebaikan untuk seluruh manusia, baik  muslim maupun non muslim.</p>
<p>Yang benar adalah syariah Islam merupakan ancaman bagi supremasi  penjajahan Amerika Serikat di dunia ini yang berbasis pada ideology  kapitalisme. Sebab penerapan syariah dan Khilafah akan secara efektif  menghentikan penjajahan Amerika dan secara praktis menggantikan ideology  kapitalisme dunia yang terancam bangkrut.</p>
<p>System  politik Islam mendasarkan kedaulatan membuat hukum hanyalah kepada  Allah SWT semata (as siyadah lil syar’i) jelas-jelas akan mengancam  konsep demokrasi Amerika yang menyatakan manusialah sebagai sumber  hukum. Masalahnya kalau syariah Islam ditegakkan , akan sulit bagi  Amerika untuk memasukkan interest (kepentingan) penjajahannya dalam  pembuat hukum .  Selama ini berdasarkan system demokrasi,  penjajah kapitalis atas nama suara rakyat sukses memasukkan dan  melanggengkan kepentingan mereka. Sehingga lahirlah undang-undang  seperti UU Penanaman Modal, UU Migas, UU Kelistrikan dan lain-lain yang  berpihak pada pemilik modal.</p>
<p>Penerapan syariah Islam juga akan mempersulit Barat untuk menanamkan antek-antek penjajahan mereka di dunia Islam. Elit-elit  pro Barat yang selama ini menjadi pelayan kepentingan Barat akan  digantikan dengan elita politik yang berpihak kepada rakyat dan  kepentingan Islam. Dan system yang efektif untuk mendudukan agen-agen  Barat adalah demokrasi, seperti yang dilakukan Amerika di Irak dan  Afghanistan.</p>
<p>Contoh lain, syariah Islam akan menghentikan secara total jalan-jalan yang melanggengkan penjajahan ekonomi Barat terhadap dunia ketiga termasuk dunia Islam. Sebab syariah Islam mengharamkan  privatisasi milik umum (al milkiyah ‘amah) seperti  barang tambang, air dan listrik, mengharamkan riba, mengharamkan pasar  saham, termasuk akan menggantikan rezim mata uang dolar dengan dinar dan  dirham yang berbasis emas dan perak. Ekonomi yang berbasis syariah ini  akan berpihak kepada rakyat secara adil, bukan seperti sekarang lebih berpihak pada pemilik modal.</p>
<p>Adapun  Khilafah jelas merupakan ancaman penjajahan Barat, karena Khilafah akan  menerapkan syariah Islam secara total dan menyatukan dunia Islam. Penjajah  kapitalisme Barat sangat tahu persis bahwa persatuan umat Islam yang  jumlahnya lebih kurang 1,5 milyar sedunia ini akan mengancam kepentingan  penjajahan mereka. Tidak heran kalau mereka getol  untuk  memecah belah umat Islam dengan berbagai cara. Dan Penjajah Barat tahu  persis baik secara ideologis maupun historis, khilafah Islam terbukti  dan mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia.</p>
<p>Kemampuan Khilafah ini secara jujur diakui  Carleton.  Menurutnya,  peradaban Islam merupakan peradaban terbesar di dunia. Peradaban Islam  sanggup menciptakan negara adi daya dunia (superstate) terbentang dari  satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis  dengan ratusan juta orang di dalamnya , dengan perbedaan kepercayaan dan  suku (Carleton : “ Technology, Business, and Our Way of Life: What  Next)</p>
<p>Khilafah  juga akan menjadi negara adi daya yang akan melindungi umat Islam dan  membebaskan umat Islam dari penindasan dan penghinaan negara-negara  penjajah seperti Amerika Serikat.  Khilafah akan memobilisasi jihad fi sabilillah untuk membebaskan Palestina dari penjajahan brutal Zionis Yahudi, termasuk akan mengusir penjajah asing dari bumi Irak, Afghanistan, Khasmir.</p>
<p>Tidak pula mengherankan kalau dalam laporan mengkaitkan jihad yang mulia itu  dengan terorisme. Tanpa  rasa rasa malu mereka menuduh pejuang-pejuang Islam yang melaksanakan  jihad fi Sabilillah di Irak, Afghanistan dan Palestina sebagai teroris.  Padahal yang dilakukan oleh para mujahidin adalah mengusir penjajah yang  menduduki tanah air mereka.  Termasuk, sungguh tidak masuk akal mengabaikan faktor penindasan Barat di dunia Islamlah yang menjadi salah satu pendorong perlawanan umat Islam di negeri-negeri Islam tertindas.</p>
<p>Mereka  seakan-akan menutup mata Amerikalah biang kerok terorisme dunia yang  telah membunuh jutaan umat Islam negeri-negeri Islam. Amerika juga  menjadi biangkerok berbagai konflik dunia yang telah menumpahkan darah  umat manusia seperti menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Nagasaki, atau  menggunakan zat kimia berbahaya di Vietnam, Irak, dan Afghansitan.</p>
<p>Khilafah juga  menjadi mercusuar peradaban dunia dengan ketinggian sains dan teknologinya. Khilafah  akan membebaskan manusia dari penjajahan kapitalisme Barat yang gagal memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi dunia. Khilafah Islam akan hadir dengan ideology Islamnya yang rahmatan lil ‘alamin. Bukan hanya bagi muslim tapi bagi non muslim.</p>
<p>Ketinggian  peradaban Islam sebagai mercusuar dunia yang diliputi oleh  kesejahteraan, keadilan dan ketinggian sains dan teknologi ini secara  historis diakui oleh banyak sejarawan terjadi di masa Khilafah. Will  Durant dalam the Story of Civilization menyatakan : <em>”  Para Kholifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas  yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para  Kholifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi  siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama  berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi  fenomena seperti itu setalah masa mereka ”</em></p>
<p>Hal yang  menarik juga  laporan  itu menyerukan Obama agar menerapkan skenario yang dulu pernah  digunakan untuk melawan ideologi komunisme dalam Perang Dingin dengan  Uni Soviet. Laporan itu merekomendasikan supaya mendukung apa yang  disebutnya sebagai kelompok-kelompok moderat dan reformis dalam Islam,  “dan sebaliknya menentang orang-orang atau kelompok yang mencoba untuk  memaksakan hegemoni Islam terhadap dunia.”. Termasuk merekomendasikan  untuk secara gencar mengkampanyekan ide-ide pluralisme.</p>
<p>Walhasil  , kita semakin mengerti kenapa Barat demikian gencar mengkampanyekan  dan membantu kelompok-kelompok yang getol menyerukan islam moderat,  reformasi Islam, liberalisasi Islam dan ide-ide pluralism. Mereka tidak  lebih dari agen-agen penjajah yang ingin melestarikan kepentingan tuan  penjajah kapitalisme mereka. Termasuk kenapa kelompok-kelompok liberal  di Indonesia sangat getol menyerang syariah Islam dan kelompok Islam  yang mengusungnya. Meskipun didepan mata mereka sebenarnya melihat  kerusakan , kehancuran , dan penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh  hegomoni penjajah kapitalisme Barat  (Farid Wadjdi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/09/syariah-islam-ancaman-buat-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ideologi Materialisme VS Ideologi Islam</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/ideologi-materialisme-vs-islam/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/ideologi-materialisme-vs-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 06:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi materialisme]]></category>
		<category><![CDATA[materialisme]]></category>
		<category><![CDATA[paham materialistis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu fitnah zaman modern dewasa ini ialah merebaknya ideologi materialisme. Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa materi, harta atau kekayaan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang berarti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit materi atau harta yang dimilikinya  berarti ia dipandang sebagai seorang yang hina dan tidak patut dihormati. Maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu fitnah zaman modern dewasa ini ialah  merebaknya ideologi <em>materialisme</em>. Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa materi, harta atau  kekayaan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya  seseorang berarti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit  materi atau harta yang dimilikinya  berarti ia dipandang sebagai seorang  yang hina dan tidak patut dihormati. Maka di dalam sebuah masyarakat  yang telah diwarnai materialisme setiap anggota masyarakat akan berlomba  mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan cara bagaimanapun, baik itu  jalan halal, syubhat maupun haram.</p>
<p>Dalam sebuah masyarakat berideologi materialisme  semua orang manjadi sangat iri dan berambisi menjadi kaya setiap kali  melihat ada orang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka.  Persis sebagaimana masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang tokoh  kaya-raya bernama Qarun digambarkan di dalam Al-Qur’an.</p>
<p><em>”Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam  kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:  &#8220;Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan  kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang  besar&#8221;.(QS Al-Qashshash ayat 79)</em><em> </em></p>
<p>Zaman kita dewasa inipun keadaannya sangat mirip  dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai kemewahan tokoh kaya, selebritis, artis,  olahragawan dan pejabat dipertontonkan di televisi dan media lainnya  sehingga masyarakat berdecak kagum dan tentunya menjadi iri dan  berambisi ingin menjadi hartawan seperti mereka pula. Sedemikian kuatnya  ambisi tersebut terkadang muncullah berbagai kasus mengerikan di tengah  masyarakat. Sebut saja munculnya perdagangan bayi, penjualan organ  tubuh, pelacuran, korupsi, pencurian, perampokan dan pengkhianatan para  pejuang yang semestinya berada di jalan Allah.  Semua dilakukan karena  terbuai dengan mimpi ingin secara instan menjadi seorang yang kaya.</p>
<p>Bardasarkan hal ini pantaslah bilamana teladan kita  Rasulullah Muhammad <em>shollallahu ’alaih wa sallam</em> mengajarkan  kita suatu prinsip penting dalam hal menghindari berkembangnya  kemungkinan faham materialisme di tengah masyarakat. Nabi <em>shollallahu  ’alaih wa sallam</em> justeru mengajarkan ummat Islam agar senantiasa  rajin memandang kepada  kalangan yang kurang beruntung secara materi  daripada diri kita sendiri. Hal ini diharapkan akan menumbuhkan rasa  syukur dan ridha atas pemberian Allah.</p>
<p><em>“Pandanglah orang yang lebih rendah daripada  kalian, dan janganlah memandang orang yang di atas kalian. Maka yang  demikian itu lebih layak untuk dilakukan agar kalian tidak menganggap  remeh akan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR  Muslim)</em><em> </em></p>
<p>Betapa dalamnya pesan Nabi <em>shollallahu  ’alaih wa sallam</em><em> </em>di atas. Andaikan setiap kita berpegang  teguh kepada prinsip di atas niscaya masyarakat akan terhindar dari  ideologi materialisme. Tidak mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa  harta merupakan tolok ukur kemuliaan seseorang. Setiap orang akan  senantiasa rajin mensyukuri segenap karunia Allah yang telah  diterimanya. Islam mengajarkan bahwa tolok ukur kemuliaan sejati ialah  taqwa seseorang kepada Allah.</p>
<p><em>”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara  kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS  Al-Hujurat ayat 13)</em><em> </em></p>
<p>Allah tidak pernah berfirman: <em>”Sesungguhnya  orang</em><em> yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang  yang paling berharta di antara kamu”.</em> Tidak&#8230;! Allah jelas tegas  menyatakan bahwa taqwa merupakan tolok ukur  sesungguhnya mulia-hinanya  seseorang di mata Allah. Semakin bertaqwa seseorang berarti semakin  mulia dirinya di sisi Allah. Dan sebaliknya semakin tidak bertaqwa  seseorang berarti semakin hinalah dirinya di mata Allah Yang Maha Mulia.  Dan perkara ini tidak berkaitan dengan banyak-sedikitnya harta yang  dimiliki orang tersebut. Bisa jadi seseorang berharta sedikit atau  banyak, asalkan ketqwaannya kepada Allah memang tinggi, berarti mulialah  dirinya di sisi Allah. Sebaliknya, berapapun kekayaan atau kemisikinan  seseorang, bilamana ketaqwaannya kepada Allah sangat tipis, apalagi  tidak ada samasekali, berarti orang tersebut hina di dalam pandangan  Allah. Taqwa merupakan timbangan sejati bernilai atau tidaknya seseorang  dalam pandangan Allah yang Maha Tahu dan Maha Teliti PengetahuanNya.</p>
<p>Maka hadits riwayat Imam Muslim di atas sudah  semestinya menjadi pegangan seorang beriman. Hendaklah bila sudah  menyangkut urusan harta dan kekayaan seorang muslim janganlah memandang  silau kepada orang yang berada di atas dirinya. Tapi sepatutnya ia  bersibuk memandang mereka yang lebih rendah daripada dirinya sehingga  rasa syukur dan ridha akan pemberian Allah senantiasa terpelihara di  dalam dirinya. Bila ia sibuk memandang kepada mereka yang lebih kaya  daripada dirinya, niscaya yang muncul adalah keluhan dan ketidakpuasan  akan pemberian Allah kepada dirinya. Maka di zaman Qarun hidup ada  sebagian masyarakat Mesir yang tetap bersikap benar dalam memandang  Qarun. Mereka inilah yang disebut Allah di dalam Al-Qur’an sebagai  orang-orang yang berilmu dan mereka sangat faham akan hakekat kemuliaan  dan kehinaan di dalam kehidupan fana ini.</p>
<p><em>“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:  &#8220;Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi  orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala  itu kecuali oleh orang-orang yang sabar&#8221;.(QS Al-Qashshash ayat 80)</em><em> </em></p>
<p>Orang-orang yang berilmu sangat sadar bahwa  pahala dari Allah karena iman dan amal sholeh seseorang, jauh lebih  utama dan berharga daripada sekedar harta dan kekayaan duniawi seperti  yang dikumpulkan oleh seorang Qarun.  Itulah sebabnya tatkala pada  akhirnya Allah mencabut hak kekayaan Qarun dengan mendatangkan bencana  yang menghancurkan segenap kekayaan dan diri Qarun, barulah kaum awam  yang jahil alias bodoh atau sempit wawasan itu memahami dan menyadari  betapa bodohnya diri mereka karena tergiur menginginkan seperti yang  dimiliki oleh Qarun.<em> </em></p>
<p><em>Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke  dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya  terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat)  membela (dirinya).</em> <em>Dan jadilah orang-orang yang kemarin  mencita-citakan kedudukan Qarun itu. berkata: &#8220;Aduhai. benarlah Allah  melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya  dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita  benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak  beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)&#8221;. </em><em>(QS  Al-Qashshash ayat 81-82)</em><em> </em></p>
<p>Sosok Qarun dan siapapun yang memiliki mental dan  sikap seperti dia, adalah sosok yang mengingkari nikmat Allah. Mereka menyangka  bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan merupakan hasil prestasi dirinya  dan tidak ada kaitan dengan Allah yang Maha Menentukan pembagian rezeki  manusia. Mereka tidak pernah besyukur kepada Allah akan rezeki yang  diterima. Dan mereka tidak pernah memohon rezeki kepada Allah saat  dirinya sedang mengalami kesulitan rezeki. Mereka hanya mengandalkan  kemampuan dirinya sendiri dalam urusan materi. Mereka inilah kaum yang  berideologi materialisme. Sungguh mateialisme tidak sama dengan Islam.  Bersyukurlah kita orang beriman memiliki iman dan islam sebagai pegangan  hidup. <em>Alhamdulillahi rabbil-’aalamiin.-<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/ideologi-materialisme-vs-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengkhianat Dalam Islam</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/pengkhianat-dalam-islam/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/pengkhianat-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 04:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengkhianat islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Berulangnya penjajahan atas negara-negara Islam, termasuk runtuhnya Khilafah Otsmaniyah, tak lain akibat adanya pengkhianatan. Para pengkhianat itu menyebabkan musuh dapat menguasai negeri-negeri Islam, yang luas, dan kemudian terjajah. Kemal At-Taturk, tokoh yang sekarang diagung-agungkan menjadi ‘bapak sekulerisme’, tak lain, adalah seorang pengkhianat, yang dengan sengaja ikut menghancurkan Islam dan sistem Islam. Turki yang dibawah kekuasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Berulangnya penjajahan atas negara-negara Islam, termasuk  runtuhnya Khilafah Otsmaniyah, tak lain akibat adanya pengkhianatan.  Para pengkhianat itu menyebabkan musuh dapat menguasai negeri-negeri  Islam, yang luas, dan kemudian  terjajah.</p>
<p>Kemal At-Taturk, tokoh yang sekarang diagung-agungkan menjadi ‘bapak  sekulerisme’, tak lain, adalah seorang pengkhianat, yang dengan sengaja  ikut menghancurkan  Islam dan sistem Islam. Turki yang dibawah kekuasaan  Khilafah, berubah menjadi sistem republik, dan mengubah bentuk dan jati  dirinya, yang sampai sekarang menjadi sistem sekuler, yang menolak  Islam.</p>
<p>Pasukan Tartar berhasil masuk kota Bagdad, dan menghancurkan dan  membakar Bagdad, karena adanya pengkhianatan, yang dilakukan seorang  pengikut Syiah, dan bersedia berkolaborasi dengan pasukan Tartar,  menghancurkan Daulah Abbasiyah. Bagdad, seperti yang ada dalam kisah  ‘1001 malam’, yang menggambarkan kemasyhuran kekuasaan Islam, pengaruh  peradabannya, dan nilai-nilai, yang sangat mulia, pupus oleh  pengkhianatan dan perang, dan menghancurkan kekuasaan Islam.</p>
<p>Di Semanjung Arabia, Afrika, dan Asia Selatan, dan Tengah, kekuasaan  Islam, runtuh bersamaan dengan adanya  penjajahan baru, yang  menghancurkan sistem Islam, dan masuknya para penjajah, yang  menggantikan sistem Islam dengan  sistem sekuler. Kedatangan para  penjajah, yang hingga kini, bukan hanya menguasai sumber daya alam,  tetapi juga menanamkan nilai-nilai sekulerisme, yang menjadi jangkar  bagi penguasaan dan penjajahan.</p>
<p>Melalui nilai-nilai sekuler yang ditanamkan sebagai sebuah ideologi  yang dicangkokkan ke negeri-negeri Muslim, dan menyebabkan  mereka  menjadi lumpuh, dan tidak memiliki lagi spirit, dan perlawanan terhadap  para penjajah. Justru mereka menjadi pembela dan tulang pulung  (backbone) penjajah, dan bersedia mati, membela para penjajah.</p>
<p>Nilai-nilai sekuler itu, tak lain, paham materialisme, yang sudah  merasuk ke dalam jiwa-jiwa penduduk di negeri-negeri muslim. Sekulerisme  melahirkan ketamakan terhadap materi, dan meninggalkan agama (akhirat).  Maka, rakyat di negeri-negeri Islam, menjadi sangat permisive  (longgar), terhadap sekulerisme (materialisme), yang merusak akal dan  jiwa mereka.</p>
<p>Ini adalah senjata pemungkas bagi para penjajah terhadap umat Islam.</p>
<p>Penjajahan yang sifatnya permanen terus dijaga, dan dengan berbagai  bentuk, dan diantaranya dengan menciptakan para pengkhianat yang  bersedia membela kepentingan para penjajah. Politik divide at impera  (memecah belah), dikalangan umat di negeri-negeri muslim, berlangsung  dengan berbagai strategi, termasuk membuat propaganda, yang sistematis  terhadap kelompok-kelompok yang menentang penjajah, seperti gelar  ekstrim, fundamentalis,  eksklusif, dan radikal. Pemberian lebel ini  semakin kuat, saat usai peristiwa 11 September 2001, meledaknya gedung  WTC.</p>
<p>AS sebagai negeri yang sekarang ini, secara terbuka menyatakan perang  secara global terhadap terorisme, dan sekaligus perang terhadap kaum  muslimin, yang ingin melawan penjajahan Barat dan Zionisme, seperti yang  terjadi di Palestina, Irak, Kashmir, Afghanistan, Chechnya, Somalia,  Sudan Selatan, telah mendapatkan lebel, sebagai musuh umat manusia, dan  mendapatkan julukan ‘teroris’.</p>
<p>Padahal, Barat sebagai tuhannya sekulerisme, yang melakukan  kejahatan, dan penjajahan, serta perbudakan, malah mendapatkan dukungan.  Tindakan  mereka  yang sangat biadab, tak berperi kemanusiaan, tanpa  mendapatkan sanksi apapun, dan bahkan mendapatkan pembenaran hanya  dengan atas dasar perang melawan terorisme.</p>
<p>Tindakan AS yang menginvasi Irak, Afghanistan serta Palestina dengan  menggunakan kekuatan militer, justru mendapatkan pembenaran dunia, yang  mengatakan sebagai perang melawan terhadap terorisme. Zionis-Israel yang  menginvasi Gaza mendapatkan dukungan internasional, karena memerangi  teroris Hamas.</p>
<p>Jumlah kematian yang begitu besar dari penduduk Gaza, tak  menyebabkan, Israel dapat dihukum, dan bertanggung jawab atas kejahatan  yang dilakukannya. Sama seperti yang dilakukan AS terhadap Iraq dan  Afghanistan. AS seakan berhak menginvasi negara lain hanya berdasarkan  ‘tuduhan’ bukan bukti dan fakta.</p>
<p>Tapi para penjajah dapat berbuat semena-mena terhadap negeri-negeri  muslim, tak lain, karena ada para pengkhianat yang bersedia menjadi kaki  tangan para penjajah dan penjahat, yang kemudian tangan mereka  berlumuran darah. AS dapat masuk Afghanistan, karena adanya  pengkhiatan  Jendral Rashid Dostum, yang bersedia menjadi kaki tangan AS. Jendral  komunis yang dulunya menjadi sekutu Soviet itu, ikut menghancurkan  Taliban di Afghanistan.</p>
<p>Di Irak ada Chalabi dan tokoh-tokoh lainnya, yang mereka mendukung  invasi AS ke Irak, sampai hari ini, dan membiarkan tentara AS menjajah  terhadap negeri ‘1001’ malam. Di Afghanistan, sekarang ada Hamid Karzai,  yang sudah tidk populer di mata rakyatnya, tapi tetap dipelihara oleh  AS. Di Palestina ada Mahmud Abbas, dan lainnya,  yang bersedia melakukan  apa saja untuk Zionis-Israel. Seperti juga para pengkhianat lainnya di  negeri-negeri muslim, yang bersedia menghancurkan Islam dan umat Islam,  demi &#8216;tuannya&#8217; Barat, yang telah memberikan &#8216;roti&#8217; kepada mereka.</p>
<p>Inilah peranan para pengkhianat di negeri-negeri mulsim. Tangan  mereka berlumuran darah saudaranya. Walllahu’alam.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2010/02/pengkhianat-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kaum Muslim Dibantai ??</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/mengapa-kaum-muslim-dibantai/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/mengapa-kaum-muslim-dibantai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 01:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hal yang aneh ketika musuh-musuh umat Islam memerangi Islam, membunuh dan membantai kaum Muslim. Sebab, Allah SWT telah berfirman: “Dan mereka tidak menyiksa orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (TQS. Al-Buruj [85]: 8) Namun yang aneh, mengherankan, dan bahkan diluar nalar orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan hal yang aneh ketika musuh-musuh umat Islam memerangi Islam, membunuh dan membantai kaum Muslim. Sebab, Allah SWT telah berfirman:</p>
<p>“<em>Dan mereka tidak menyiksa orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.</em>” (<strong>TQS. Al-Buruj [85]: 8</strong>)</p>
<p>Namun yang aneh, mengherankan, dan bahkan diluar nalar orang yang berakal adalah ketika kaum Muslim satu sama lain saling membunuh tanpa alasan yang jelas. Sementara di saat yang sama para musuh mereka juga melakukan beragam cara pembantaian terhadap umat Islam, dan merancang berbagai strategi serta kebijakan untuk melenyapkannya.</p>
<p>Mengapa kaum Muslim dibantai? Mengapa darah kaum Muslim begitu direndahkan? Karena alasan apa darah-darah tidak berdoasa itu ditumpahkan? Mengapa mereka berada di barisan musuh umat Islam justru untuk membunuh umat Islam sendiri? Mengapa peperangan dan pertarungan ini dilakukan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada orang-orang Mukmin?</p>
<p>Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:</p>
<p>“<em>Siapa saja yang melakukan penghinaan terhadap wali (kekasih)-Ku, maka ia benar-benar mengajak permusuhan dengan Aku.</em>” (<strong>HR. Thabarani dalam al-Kabir dari jalan Abu Umamah</strong>)</p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda:</p>
<p>“<em>Siapa saja yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka ia benar-benar mengajak berperang dengan Allah.</em>” (<strong>HR. Hakim. Dia berkata hadits ini shahih dari jalan Mu’ad bin Jabal</strong>)</p>
<p>Apakah pembunuhan ini dan itu terjadi karena kebodohan terhadap hukum-hukum Islam? Ataukah ini gejala kembalinya ke masa jahiliyah? Apakah pembunuhan itu dilakukan untuk mewujudkan kepentingan kepribadian seseorang yang egois, atau untuk mewujudkan kepentingan bangsa Timur dan Barat?</p>
<p>Bukankah Allah—<em>Azza wa Jalla</em> (Dzat Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi)—telah berfirman:</p>
<p>“<em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.</em>” (<strong>TQS. Ali Imran [3]: 103</strong>).</p>
<p>Bukankah dengan ayat itu Allah SWT mengharam pembunuhan? Bukankah pembunuhan termasuk di antara dosa besar yang menyebabkan murka dan laknat Allah? Sebagaimana firman Allah SWT:</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.</em>” (<strong>TQS. An-Nisa’ [4]: 93</strong>).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,</em> <em>kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em>” (<strong>TQS. Al-Furqan [25]: 68-70</strong>).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.</em>” (<strong>TQS. Al-Maidah [5]: 32</strong>).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.</em>” (<strong>TQS. Takwir [81]: 8-9</strong>)</p>
<p>Nabi SAW bersabda: “<em>Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (dosa besar). Kemudian beliau menyebutkan, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak (alasan yang dibenarkan syara’).</em>”</p>
<p>Seseorang berkata kepada Nabi SAW: “<em>Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah SWT? </em>Beliau bersabda: “<em>Membuat Tuhan tandingan selain Allah, padahal Allah-lah satu-satunya yang menciptakan kamu.</em>” Orang itu berkata: “<em>Kemudian apa?</em>” Beliau bersabda: “<em>Kamu membunuh anakmu karena takut anak itu makan bersamamu.</em>” Orang itu berkata: “<em>Kemudian apa?</em>” Beliau bersabda: “<em>Kamu berzinah dengan istri tetanggamu.</em>” Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang membenarkan apa yang disabdakan Rasulullah SAW. “<em>Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)</em>” (<strong>TQS. Al-Furqan [25]: 68</strong>)</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: “<em>Apabila dua orang Muslim saling membunuh dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka.</em>” Dikatakan: “<em>Wahai Rasulullah, tentang yang membunuh masuk neraka ini kami memahami, tetapi kami tidak paham jika yang dibunuh masuk neraka?</em>”<em> </em>Beliau bersabda: “<em>Dia (yang dibunuh) juga ingin sekali membunuh orang yang membunuhnya.</em>”</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: “<em>Janganlah kalian kembali kafir sesudahku, di mana satu dengan yang lain saling membunuh.</em>”</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: “<em>Seorang hamba akan selalu dalam kelapangan agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan.</em>”</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: “<em>Persoalan di antara manusia yang akan diputuskan pertama kali pada hari kiamat adalah masalah darah (pembunuhan).</em>”</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “<em>Meninggalnya satu orang Mukmin itu lebih besar di sisi Allah dari pada hilangnya dunia.</em>”</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: “<em>Siapa saja yang membunuh seorang kafir mu’ahid (ada ikatan perjanjian dengan negara Islam), maka ia tidak akan mendapatkan bau surga, padahal baunya telah tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Ini adalah hukuman akibat membunuh kaum kafir di antara Yahudi dan Nasrani (Kristen) yang memiki ikatan perjanjian dengan negara Islam. Maka bagaimana dosa (hukuman) yang harus diterima jika seorang Muslim membunuh saudaranya sesama Muslim?</p>
<p>Untuk apa dan atas pertimbangan apa pembunuhan yang menghinakan dan memalukan ini dilakukan?</p>
<p>Sesungguhnya semua negeri-negeri Islam saat ini tidak menerapkan Islam. Negeri-negeri Islam sangat terbuka untuk kedutaan asing, bahkan merekalah seolah-olah penguasa yang sebenarnya. Negeri-negeri Islam berubah menjadi wilayah konflik, krisis ekonomi, politik, dan sosial, fitnah, perang saudara yang menyebabkan sejumlah besar kaum Muslim meninggal. Akibatnya kekuatan umat dan kekayaannya hilang sia-sia. Bukankah perang Irak dengan Iran, dan Irak dengan Kwait sebagai fakta yang masih belum hilang dari ingatan kita!!</p>
<p>Sesungguhnya, sikap kaum Muslim yang condong atau cenderung kepada Timur atau Barat, maka inilah yang menyebabkan kita (kaum Muslim) senantiasa diselimuti berbagai krisis dan fitnah. Dan Allah SWT telah berfirman:</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.</em>” (<strong>TQS. Hud [11]: 113</strong>)</p>
<p>Sungguh, menjaga persatuan negeri-negeri kaum Muslim merupakan kewajiban <em>syar’iy</em> (Islam). Sehingga kapanpun dengan alasan apapun tidak boleh (haram) memecah negeri-negeri kaum Muslim menjadi pecahan-pecahan kecil dan institusi-instirusi kartun (boneka), yang dipimpin oleh orang yang tunduk kepada asing; menjalankan politiknya. Sadarlan bahwa kaum kafir tidak hanya memecah dunia Islam hingga menjadi lebih dari lima puluh tujuh pecahan. Namun mereka berhasil mengangkat dan menempatkan para penguasa antek atau komparador di atas pundak umat, dan akhirnya dengan mereka itulah kaum kafir meracuni umat dengan berbagai bentuk kehinaan, kerendahan, dan siksaan. Ketika mereka berkumpul, maka mereka berkonspirasi; sebaliknya apabila mereka pecah, maka mereka hidup saling membunuh dan membantai. Sehingga potensi negara dan rakyat menjadi hilang dengan sia-sia. Sungguh, ini semua merupakan aib, keburukan, dan momok yang mengotori dan mencoreng umat Islam yang mulia ini.</p>
<p>Sesungguhnya, soslusi satu-satunya untuk menjaga darah kaum Muslim dan kehormatannya; menjaga persatuan setiap negeri Islam; bahkan menjaga persatuan seluruh negara Islam adalah dengan mengubah semua sisten yang ada (yang saat ini sedang diterapkan) di dunia Islam. Kemudian di atas puing-puing kehancurannya diterapkan sistem Islam dalam naungan satu negara Islam, yaitu Khilafah Rasyidah yang kedua, yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Kemudian dengannya, Islam akan diterapkan dengan sempurna, seperti yang diterapkan Rasulullah SAW yang mulia, dan para Khalifah sesudahnya; menghilangkan kezaliman dari tengah-tengah kehidupan masyarakat; menegakkan keadilan; membebaskan negeri dan umat Islam; menebarkan kebaikan; dan mengambil kendali inisiatif dari negara-negara kafir, agar negara Islam menjadi negara nomor satu di dunia; menyebarkan Islam ke seluruh dunia, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapam menuju cahaya (Islam); serta menyelamatkan mereka dari kezaliman dan bobroknya sistem Kapitalisme Demokrasi yang zalim ini. Mengapa tidak dikatakan demikian, padahal Rasulullah SAW telah menyampaikan kabar gembira dengan sabdanya. Sementara beliau sendiri adalah seorang yang jujur dan dapat dipercaya.</p>
<p>“<em>Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian.</em>” (<strong>HR. Ahmad</strong>)</p>
<p>Dan untuk mewujudkan kebaikan inilah, seharus kaum Muslim beraktivitas dengan semangat dan serius.</p>
<p>“<em>Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya</em>”. (<strong>TQS. Al-Mu’min [40]: 44</strong>)</p>
<p>Oleh: ‘Ahid Nashiruddin</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.al-aqsa.orga/">www.al-aqsa.orga</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/mengapa-kaum-muslim-dibantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu khilafah atau memperjuangkan khilafah</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/menunggu-khilafah-atau-memperjuangkan-khilafah/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/menunggu-khilafah-atau-memperjuangkan-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 04:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Abad 21 Masehi, tidak dapat dipungkiri telah ditumpuki jutaan lembaran sejarah manusia dengan warna ragam polah tingkahnya. Bumi telah makin renta, dipenuhi oleh permasalahan-permasalahan kemanusiaan, berbagai krisis dan malapetaka, sejak zaman Nabi Adam alaihissalam hingga kini. Pada era ini, cengkeraman kuat kapitalisme menjepit kesejahteraan umat manusia, menyesakkan nafas kehidupan dan meluluhlantakkan pondasi dunia. Petaka ekonomi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abad 21 Masehi, tidak dapat dipungkiri telah ditumpuki jutaan lembaran sejarah manusia dengan warna ragam polah tingkahnya. Bumi telah makin renta, dipenuhi oleh permasalahan-permasalahan kemanusiaan, berbagai krisis dan malapetaka, sejak zaman Nabi Adam <em>alaihissalam</em> hingga kini. Pada era ini, cengkeraman kuat kapitalisme menjepit kesejahteraan umat manusia, menyesakkan nafas kehidupan dan meluluhlantakkan pondasi dunia. Petaka ekonomi, sosial, politik atau lingkungan tiada henti terjadi, seakan tragedi telah menjadi konsumsi sehari-hari.</p>
<p>Aqidah kapitalisme yang diyakini oleh sebagian besar manusia saat ini mampu membawa kearah kemajuan dan kebahagiaan, nyata-nyata justru menjerumuskan manusia dalam kehidupan yang mengacaukan fitrah kehidupan, menggoncangkan jiwa dan menyesatkan akal sehat manusia. Rusaknya pranata sosial terkecil dalam keluarga dengan kedurhakaan anak pada orang tua, legalisasi aturan yang jelas-jelas haram secara syariat, maraknya fitnah-fitnah, pembunuhan, kemaksiatan, mengguritanya penindasan si kaya atas yang miskin, kedzaliman penguasa, bencana alam yang datang bertubi-tubi, dan pertikaian yang tiada henti, adalah bukti bobroknya ideologi ini.</p>
<p>Sudah menjadi SunnatuLlah, bahwa manusia bukan robot statis yang terprogram dalam kode-kode elektronis, atau bukan juga spesies tertentu dari binatang yang istimewa, namun Allah menciptakan manusia sebagai makhluknya yang lain selain malaikat, jin, hewan dan alam kehidupan, dengan penciptaan yang sebaik-baiknya (<em>ahsani taqwim</em>) dan dibekali potensi kehidupan yang unik. Anugerah akal, membuat manusia berusaha untuk keluar dari permasalahan dan petaka yang menimpanya. Namun, serangan krisis yang bertubi-tubi, kompak dan sistemik, membuat banyak manusia terpental dan kalah. Dunia dengan ideologi kapitalisme telah membawa kemajuan-kemajuan semu dan orang-orang yang frustasi, putus asa, egois, saling terkam, brutal, korup, gila, bahkan bosan hidup.  <em>The Age of Anxiety </em>(Abad Kecemasan), menurut Paul Tillich dalam bukunya <em>The Courage To Be</em>, menjadi predikat masa hidup manusia-manusia akhir zaman ini. Ironisnya, solusi yang coba diajukan sekedar tambal sulam, kapitalisme ditambal kapitalisme, atau kapitalisme diobati sosialisme, seperti menyuntikkan kuman tetanus pada luka-luka yang memborok.</p>
<p>Dalam kondisi demikian, banyak orang yang merasa diliputi kesia-siaan dan ketidakmampuan dalam merubah situasi yang menimpanya, dan akhirnya mereka mengambil keputusannya sendiri-sendiri dalam ‘menyelamatkan’ kehidupannya. Jika dipilah, ada dua kelompok besar manusia yang bertindak seolah-olah mereka telah menempuh jalan yang benar, padahal mereka telah memilih jalan yang keliru. <em>Pertama, </em>kelompok orang yang memutuskan untuk menceburkan dirinya pada kubangan busuk kapitalisme dengan segala resikonya. Mereka beranggapan bahwa jika mereka berada pada posisi <em>the have</em>, baik secara materi dan kekuasaan, maka dampak buruk kapitalisme tidak akan mereka rasakan, kecuali mungkin hanya sedikit. Demi mencapai itu, mereka menempuh segala cara demi kejayaan pribadi dan golongannya, tanpa peduli dengan norma-norma, aturan agama atau moral sekalipun. Mereka tidak ingat bahwa mereka tidak akan kekal dalam kehidupan ini, lupa bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati dan lalai akan tibanya hari pembalasan (<em>yaum ad-din). Kedua, </em>kelompok orang yang mulai kembali pada nilai-nilai normatif<em> </em>atau<em> </em>aturan-aturan spiritual yang dapat menenangkan batin dan menyelamatkan dirinya sendiri, dengan kecenderungan tidak peduli pada nasib orang lain dan bersikap pasrah, diam serta pasif. Sikap ini timbul dari keyakinan agamanya yang memang mengajarkan demikian. Kaum Nasrani dan Yahudi yang telah mengalami penderitaan lebih dulu dan lebih lama dari umat Islam, mulai berbicara tentang akhir zaman dan turunnya juru selamat.</p>
<p><img class="alignright" title="jews" src="http://pengembandakwah.files.wordpress.com/2009/06/jews.jpg?w=212&amp;h=300" alt="jews" width="127" height="180" />Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Yesus Kristus, akan datang untuk kedua kalinya pada akhir zaman, untuk menjadi juru selamat bagi umat Kristiani dan mengangkat mereka kedalam surga. Keyakinan mereka timbul dari beberapa ayat Injil yang mengabarkan tentang kedatangan ‘tuhan’nya itu, seperti dalam Yohanes, 14:3 yang menyebutkan, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ (ke rumah BapaKu) dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Sementara itu, kaum Yahudi juga meyakini akan datangnya Messias (Al Masih) yang akan bersama-sama rahib mereka mengorbankan sapi merah di Solomon Temple (yang akan mereka bangun di tanah berdirinya Masjidil Aqsha). Keyakinan-keyakinan itu membuat mereka bersikap fatalistik dan pasif. Ada diantara orang-orang Yahudi yang mulai menanam pohon <em>Ghardaqah </em><strong>[berdasarkan hadits riwayat Muslim]</strong><em>,</em> ada juga orang-orang yang membangun bungker-bungker penyelamat dari kiamat atau<em> </em>munculnya sekte-sekte kiamat seperti David Koresh, Aum Sinri Kyo, dan Mangapin Sibuaea. Maraknya fenomena yang terjadi semacam ini di dunia, membuat kaum muslimin juga mulai mengadopsi sikap serupa.</p>
<p>Sebagian kaum muslimin mulai mengajukan justifikasi sikap fatalistik dan pasif ini, dengan berlandaskan pada nash-nash hadits akhir zaman tentang kedatangan Imam Mahdi, Al Masihid Dajjal dan turunnya Nabi Isa <em>alaihissalam.</em> Sikap fatalis ini menjadikan mereka melalaikan kewajiban-kewajiban mereka untuk menegakkan dienuLlah. Mereka menggunakan waktu-waktu mereka untuk menunggu dan menunggu isyarat-isyarat kedatangan Imam Mahdi, tanda-tanda datangnya Dajjal dan turunnya Isa as untuk menyelamatkan umat Islam dari cengkeraman musuh-musuhnya. Tindakan-tindakan yang dilakukan semakin menampakkan sikap fatalis itu, seperti fenomena eksodus yang semakin meningkat ke kota Makkah dan Madinah – 2 kota yang disebutkan dalam hadits tidak akan dapat dimasuki oleh Dajjal.</p>
<p>Bagaimana seharusnya sikap yang diambil oleh umat Islam dalam kondisi seperti ini?</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em>, </em>adalah penting untuk memahami nash-nash dan bagaimana seharusnya aturan itu mengatur sikap dan tingkah laku kita, sehingga tidak terjebak pada sikap mental yang fatalis. Hal ini penting, karena sebagian kaum muslimin bersikap fatalis terhadap situasi politik dan masa depan umat, namun mereka bersikap lain ketika mencari rizki Allah. Mereka bekerja keras, sehingga sering bersikap <em>workaholic, </em>lupa waktu, melalaikan keluarga dan kewajibannya serta bersikap seolah-olah rizki itu adalah dari hasil usahanya sendiri, sementara dalam banyak nash disebutkan bahwa Allah-lah yang menjamin rizki semua makhluk-Nya, manusia hanya diperintahkan berikhtiyar sesuai kemampuan masing-masing untuk ‘menjemputnya’. Termasuk usaha untuk berobat ke dokter ketika sakit, menghindar dari marabahaya, dan mengkonsumsi asupan tubuh agar tetap sehat, dengan keyakinan bahwa ajal manusia telah ditentukan oleh Allah. Umat Islam harus memahami betul permasalahan rizki, tawakal, ajal, hubungannya dengan qadha dan qadar Allah sehingga mereka bisa bersikap seperti halnya para generasi salaf memahami hal-hal tersebut.</p>
<p>Dalam sirah diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menghancurkan sebuah batu besar yang tidak mampu dibelah oleh para sahabat untuk persiapan perang Khandaq, hingga saat beliung itu beradu dengan batu, beberapa kali terpercik bunga api yang menembus kegelapan malam.</p>
<p>Rasulullah bertakbir dan bersabda, “<em>Pada mulanya aku silau melihat gedung-gedung di Hirah dan istana-istana Kisra (Persia) yang tampak bagaikan taring-taring serigala, tetapi kemudian Jibril memberitahukan kepadaku, bahwa umatku sanggup mengalahkannya. Kemudian aku disilaukan pula oleh istana-isatan merah di negeri Rumawi yang tampak bagaikan taring-taring serigala, namun Jibril memberitahukan bahwa umatku akan mengalahkannya pula. Demikian pula aku silau melihat istana-istana di Shan’a (Yaman) yang tampak bagai taring serigala, tapi Jibril memberitahukanku bahwa umatku sanggup mengalahkannya. Maka hendaklah kalian tetap gembira.” </em><strong>[hadits riwayat Ibnu Jarir, lemah menurut Abu Dawud]</strong>.</p>
<p>Mendengar hal itu, para sahabat tidak duduk menunggu saat penaklukkan itu datang, namun mereka justru bersemangat dan berusaha keras untuk berjihad  menyebarkan Islam dengan penaklukan wilayah-wilayah baru untuk tegaknya agama Allah.</p>
<p>Generasi sesudah sahabat juga mengambil sikap proaktif terhadap hadits-hadits Rasulullah tentang masa depan, yang faktanya belum mereka dapati. Seperti khotbah khalifah Muhammad al-Fatih yang berapi-api dihadapan pasukannya pada hari Senin 19 Jumadil Awal 757 H, “Jika Allah Azza wa Jalla menolong kita dan memberikan kemenangan kepada kita terhadap Konstantinopel, maka terwujudlah pada kita hadits Rasulullah Saw dan ini adalah salah satu dari mu’jizatnya yang agung, dan takdir dan kemuliaan yang terkandung dalam hadits Rasulullah Saw itu akan menjadi kebahagiaan kita. Anak cucu kita nanti masing-masing akan melihat bahwa kemenangan besar ini akan menambah kekuatan dan kemuliaan Islam.”</p>
<p>Kemudian, melompatlah mereka ke dalam kota dalam arena jihad sehingga turunlah <em>nasrullah</em> pada mereka, hingga mereka dapat menurunkan bendera Bizantium dan menggantinya dengan panji-panji Utsmaniyah. Adzan dikumandangkan oleh para mujahidin dan mereka menyerukan kebenaran hadits Nabi yang mulia dalam bahasa Arab yang fasih, “<em>Sungguh Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik panglima adalah panglima penakluk negeri itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkan negeri itu.” </em><strong>[Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/335 dari Bisyr bin Sahim al-Khats’amiy].</strong></p>
<p><strong><em><img class="alignright" title="carina nebula" src="http://pengembandakwah.files.wordpress.com/2009/06/carina-nebula.jpg?w=300&amp;h=225" alt="carina nebula" width="180" height="135" />Kedua</em></strong><em>, </em>adalah penting untuk dipahami bahwa permasalahan tentang kiamat (dan hal-hal masa depan/tanda-tanda yang menyertainya) adalah perkara keimanan atau aqidah, dan dalam masalah <em>i’tiqod</em> ini haruslah didasarkan pada nash-nash yang <em>qathi dilalah </em>(pasti penunjukannya) dan <em>qathi tsubut </em>(pasti sumbernya). Dari segi sumbernya, hanya Al Quran dan hadits mutawatir saja yang dapat menghasilkan keyakinan (<em>al ‘ilm</em>). Khabar ahad tidak berfaedah kecuali hanya sangkaan (<em>al dzan</em>) belaka, dan tidak mengantarkan pada keyakinan. Inilah pendapat yang paling masyhur dan dipilih oleh jumhur ‘ulama hadits, fiqh, maupun ushul, baik dari mazhab Hanafi, Syafi’i, jumhur Maliki serta yang lain seperti Imam Asnawiy, al-Baghdadiy, Imam Nawawiy, Imam Basdawiy, Imam ‘Abd al-Bar, Imam Ghazali, Imam al-Qaraafiy, Al-Kasaiy, Syaikh Jamaluddin al-Qasaamiy dll, kecuali Imam Ahmad, sebagian ahli hadits, Dawud al-Zahiri, Ibn Hazm dan Al Hafidz Ibnu Hajar, menyelisihinya.</p>
<p>Sedangkan tentang hadits mutawatir, harus memenuhi empat syarat: <em>satu, </em>jumlahnya harus banyak, sehingga bisa disebut sejumlah orang; <em>dua, </em>mustahil berdusta, dilihat juga dari individu rawi dan tempat tinggalnya; <em>tiga, </em>diriwayatkan oleh rawi yang berkualitas tinggi (<em>dhabith </em>dan <em>tsiqqah</em>) dari awal hingga akhir (generasi <em>shahabat</em>, <em>tabi’in</em> dan <em>tabi’iut tabi’in</em>); dan <em>empat, </em>sandaran pada sanad terakhir dengan penginderaan, bukan dengan logika dan spekulasi. Berhubungan dengan masalah jumlah rawi, hadits mutawatir tidak sekedar bersandar pada jumlah belaka, namun juga harus memperhatikan misalnya, apakah ada pertentangan (<em>ta’arudh)</em> dalil atau tidak Ada sebagian ulama yang berpendapat minimal 5 orang, 12 orang, ada yang menyatakan paling sedikit 20 orang, bahkan ada yang menyatakan 40, 70, 313. Tentang hal ini Qadli Abu Bakar menyatakan “Ada pula yang menyatakan bahwa jumlah minimal yang mengantarkan <em>ilmu</em> hanya diketahui oleh Allah, dan kita tidak mengetahui. Dan ini yang terpilih. Oleh sebab itu, yang menjadi jaminan kemutawatiran suatu berita adalah <em>ilmu</em> yang dihasilkan oleh perkataan para pembawa berita (rawi), bukan <em>ilmu</em> yang dihasilkan oleh jumlah tertentu. Atas dasar ini, kami berpendapat bahwa jaminan mutawatir adalah (berita) yang menghasilkan <em>ilmu</em>. Kita tidak boleh beristidlal (berdalil) dengan berita yang tidak menghasilkan <em>ilmu</em> (keyakinan).” [<em>Al Ihkam fi Ushul al Ahkaam, </em>juz II/39].</p>
<p>Namun demikian, seorang muslim tidak boleh mengingkari hadits-hadits shahih, karena mengingkarinya adalah perbuatan dosa dan mengakibatkan tersia-sianya amal. Hanya saja, pemakaiannya pada masalah keimanan atau aqidah (yang mensyaratkan <em>qath’i</em> secara sumber maupun penunjukannya), tidak dapat mengantarkan pada pembenaran yang sifatnya pasti (<em>jazm</em>), karena masih ada keraguan dari sisi sumbernya (<em>tsubut</em>).</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong><em>, </em>tentang hadits-hadits yang menerangkan kedatangan Imam Mahdi, Dajjal dan turunnya Isa as harus dipahami dengan pemahaman yang sesuai syariat dan fakta yang tepat.</p>
<p>Akan datangnya Imam Mahdi disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah,</p>
<p align="right">???? ?????? ?? ??? ????? ???? ??? ?? ???? ?? ??? ??????? ??? ??? ?????? ??? ?? ??? ??? ???????? ??? ???? ????????? ??? ????? ???????</p>
<p>“<em>Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki Quraisy dari penduduk Madinah dan ia lari ke Makkah. Lalu datanglah kepadanya orang-orang yang berasal dari penduduk Makkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa, kemudian mereka membai’atnya antara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim.”</em></p>
<p>Dari hadits ini dan beberapa hadits lain dapat diketahui bahwa orang yang dikatakan sebagai Imam Mahdi adalah umat Muhammad <strong>[hadits hasan dari Abi Sa’id al-Khudri riwayat Abu Dawud dan Al Hakim]</strong>,dia tidak mempunyai keajaiban tertentu dan tidak menerima wahyu tapi akan membawa keadilan saat memimpin daulah Khilafah <strong>[hadits shahih riwayat Thabrani, Al Bazzar, dan Abu Nu’aim]</strong>, dia tidak tahu jika dia adalah Al Mahdi dimana disebutkan bahwa dia enggan sehingga harus dipaksa untuk menerima bai’at dan sebelum dia dibai’at menjadi Khalifah, telah mendahuluinya kematian seorang khalifah dan juga akan datang khalifah lain (Al-Qahthani) setelahnya <strong>[hadits marfu’ riwayat Thabrani]</strong>.</p>
<p>Umat Islam berselisih dalam pemilihan khalifah itu, dan ini menunjukkan bahwa umat Islam akan memiliki negara Khilafah, sehingga mereka tahu bagaimana cara mengangkat khalifah. Imam Mahdi juga belajar Islam dari lingkungannya, bukan dari wahyu. Allah yang menunjuki dan meluruskan langkah-langkahnya (mengislah) dalam satu malam <strong>[hadits shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah]</strong>.</p>
<p>Bahwasanya ada sebagian orang yang mengatakan bahwa khalifah yang mendahului khalifah Al Mahdi adalah Raja Saudi tidak dapat diterima, karena definisi khalifah yang dipakai adalah harus menurut syariat, bukan sekedar bermakna bahasa yang artinya ‘pengganti’. Fakta menunjukkan bahwa penguasa Arab Saudi tidak bisa dikatakan ‘masih mendirikan shalat’, karena arti perkataan Rasulullah itu adalah penguasa yang menegakkan hukum Islam secara totalitas.</p>
<p>Padahal, Arab Saudi telah mengambil sebagian hukum Islam, dan meninggalkan yang lainnya, bahkan berkali-kali bersekutu dengan musuh-musuh Islam untuk memisahkan diri dari <em>jama’atul muslimin.</em> Adapun khilafah rasyidah yang berjalan sesuai sunnah Nabi (<em>khilafah rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah)</em> sesuai <strong>hadits Hudzaifah riwayat Ahmad</strong>, akan berdiri setelah <em>mulkan ‘aridhan </em>(pemerintahan kekaisaran) dan <em>mulkan jabariyyan </em>(pemerintahan diktator), dimana Al Mahdi akan menjadi salah satu khalifahnya.</p>
<p>Keistimewaan pemerintahan Al Mahdi yang disebutkan dalam banyak hadits, tidak dapat menjustifikasi bahwa khalifah sebelum ia tidak berdasar sunnah Nabi, karena yang dimaksud <em>minhajun nubbuwah </em>disini adalah daulah khilafahnya. Sementara, sejauhmana kesejahteraan dan keadilan yang dijalankan, termasuk besar kecilnya fitnah-fitnah yang berlangsung didalamnya, akan bergantung pada prestasi dan aksi khalifahnya dengan ijin Allah.</p>
<p>Tentang turunnya Isa Al Masih disabdakan oleh Rasulullah Saw, “<em>Suatu kelompok dari umatku akan tetap berpegang dalam kebenaran secara-terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah amir mereka (umat Islam): ‘Kemarilah dan imamilah sholat kami’. Ia menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai amir terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat ini.” </em><strong>[Riwayat Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah]</strong>.</p>
<p>Begitu sholat subuh selesai, maka Isa al Masih akan membunuh Masihud Dajjal yang laknat, kemudian menghancurkan orang-orang Yahudi yang tersisa, menyeru kepada manusia pada Islam, menghancurkan salib, membunuh babi, dan menolak jizyah, karena ia hanya menerima 2 opsi, masuk Islam atau perang. Kemudian Isa as juga menikah, menunaikan haji dan menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj. Semua itu dilakukan Isa bersama-sama dengan orang-orang mukmin.</p>
<p>Dari hadits-hadits tersebut tampak jelas bahwa Nabi Isa akan mengikuti syariat Rasulullah Saw, berdiri di belakang imam/khalifah kaum muslimin, dan menjadi warga negara Khilafah Islam. Dalam jamaah kaum muslimin itulah, Dajjal, Yahudi, Nasrani, Ya’juj Ma’juj dan seluruh musuh-musuh Islam dihancurkan. Sehingga nyatalah sabda Nabi Muhammad Saw,</p>
<p align="right">?? ????? ? ???? ???? ???? ???? ? ???? ? ????? ?????? ? ????? ?????? ?? ????? ????? ?? ??? ??? ????? ???? ?? ??? ???? ??? ?? ???? ??? ??? ???? ????? ??? ???? ???</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Mereka (umat Islam) berperang dibelakangnya dan mereka dilindungi olehnya (dari tirani dan musuh). Jika ia </em><em>memerintahkan untuk bertaqwa pada Allah Azza wa Jalla, dan melaksanakan keadilan, maka pahala yang besar baginya, dan jika ia memerintahkan selainnya, maka baginya pula hal itu.”</em></p>
<p><em> </em>Dari hadits-hadits tentang akhir zaman tersebut, jelas bahwa tidak ada landasan dalil yang menyatakan kaum muslimin harus duduk diam, fatalis dan pasif, menunggu datangnya Imam Mahdi dan Isa as untuk menyelamatkannya dari fitnah Dajjal dan musuh-musuh Islam. Justru, tanpa didahului oleh tegak dan bersatunya kaum muslimin dalam daulah Khilafah yang menerapkan syariat Allah secara <em>syamil </em>dan <em>kamil, </em>maka kaum muslimin akan kehilangan <em>asbab</em> datangnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa as. <em>Wallahu a’lam.</em> <em> </em></p>
<p><strong><em><img class="alignright" title="khilafah" src="http://pengembandakwah.files.wordpress.com/2009/06/khilafah.jpg?w=300&amp;h=225" alt="khilafah" width="180" height="135" /></em></strong><strong><em>Keempat</em></strong><em>, </em>adalah penting untuk memahami bahwa Allah tidak membebani kita untuk ‘segera’ atau ‘harus’ atau ‘tidak bisa tidak’ mewujudkan tujuan atau hasil akhir, karena itu adalah urusan Allah, kita hanya diwajibkan untuk mengamalkan dien, membela syariat, menghabiskan seluruh waktu untuk itu dan mengerahkan segenap kemampuan.  Allah berfirman, “<em>Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.”</em> <strong>[TQS. At Taubah:105]. </strong></p>
<p>Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk bersikap fatalis menghadapi kiamat yang semakin dekat. Hanya orang-orang proaktif yang konsisten berjuang dijalan-Nyalah yang akan mendapatkan <em>nasruLlah </em>dan kemenangan. Rasulullah Saw bersabda,</p>
<p>“<em>Akan ada satu thaifah dari umatku yang berdiri kukuh diatas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, orang-orang yang mengingkari mereka tidak mendatangkan mudharat bagi mereka. Sampai tiba keputusan Allah, mereka tetap dalam keadaan itu.’ Kemudian Rasulullah ditanya, ‘Dimana mereka?’ Jawab Nabi Saw, ‘Di Baitul Maqdis’.” </em><strong>[Diriwayatkan Imam Ahmad dan Thabrani].</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Wallahu waliyut taufiq.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/menunggu-khilafah-atau-memperjuangkan-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>M Ismail Yusanto: Stigmatisasi dan Generalisasi itu Keliru</title>
		<link>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/m-ismail-yusanto-stigmatisasi-dan-generalisasi-itu-keliru/</link>
		<comments>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/m-ismail-yusanto-stigmatisasi-dan-generalisasi-itu-keliru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 02:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ismail yusanto]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahaya-iman.web.id/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Mediaumat.com. Sekarang seperti ada sikap paranoid terhadap simbol-simbol  Islam seperti cadar, jubah, jenggot, pengajian bahkan Jamaah Tabligh pun dicurigai. Ditambah lagi pernyataan Pangdam IV Dipenogoro Mayjen Haryadi Soetanto. Ia menyatakan jika ada orang asing berjubah dan berjenggot laporkan saja kepada pihak keamanan. Padahal Pangeran Diponegoro berjubah. Sebagian ulama pun ada yang mewajibkan Jenggot dan cadar.Terkait [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Medi</em></strong><strong><em></em></strong><strong><em>aumat.com.</em></strong><em> Sekarang sepe</em><strong><em></em></strong><em>rti ada sikap paranoid terhadap simbol-simbol  Isla</em><strong><em></em></strong><em>m seperti cadar, juba</em><strong><em></em></strong><em>h, jengg</em><strong><em></em></strong><em>ot, pengajian bahkan Jamaah Tabligh pun dicurigai. Ditambah lagi pernyataan Pangdam IV Dipenogoro Mayjen Haryadi Soetanto. Ia menyatakan jika ada orang asing berjubah dan berjenggot laporkan saja kepada pihak keamanan. Padahal Pangeran Diponegoro berjubah. Sebagian ulama pun ada yang mewajibkan Jenggot dan cadar.Terkait dengan itu wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Jubir HTI M Ismail Yusanto (18/8) malam di Bogor.  Berikut petikannya.</em></p>
<p align="left"><strong>Ini menunjukkan gejala  apa? </strong></p>
<p align="left">Inilah yang disebut dengan stigmatisasi negatif sekaligus juga generalisasi. Seperti yang sering saya bilang, semakin banyak banyak bom di Indonesia ini  semakin aneh. Mengapa? Kalau kita menggunakan analisis hubungan antara aksi dan motivasi, semakin banyak bom yang meledak, semakin tampak ketidaknyambungan antara motivasi dan aksi itu.</p>
<p align="left">Kalau kita percaya bahwa semua bom itu dilakukan dalam rangka apa yang mereka katakan sebagai perlawanan terhadap Amerika Serikat (AS), kenapa sejak bom Bali 1 hingga bom Ritz dan Marriott baru lalu tidak ada satu pun instalasi penting milik Amerika di Indonesia yang terkena. Bom pertama meledak di jalan Legian, Denpasar, Bali. Kenapa tidak terjadi di Jakarta? Bukankah instalasi penting AS itu ada di Jakarta? Memang ada bom di gedung konsulat AS di Denpasar, tapi itu kecil saja, paling cuma mematahkan satu dua ranting pohon.</p>
<p align="left">Kemudian ketika giliran di Jakarta, kenapa Hotel Marriott yang dibom? Marriott itu bukan hotel Amerika. Itu hotel milik orang Indonesia yang kebetulan dioperasikan oleh jaringan manajemen Hotel Marriott yang memang berasal dari AS. Kenapa bukan gedung kedutaan? Pas gedung kedutaan, kenapa gedung kedutaan Australia? Itu pun hanya di depannya; bukan gedung Kedubes Amerika?</p>
<p align="left">Yang lebih aneh lagi, bom Bali dua. Apa hubungan Raja’s Restoran dan pantai Jimbaran dengan Amerika? Dari 22 orang yang meninggal di pantai Jimbaran, 19 orang di antaranya Muslim. Begitu juga apa hubungan Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott dengan AS. Jadi, aksi-aksi pemboman itu sama sekali tidak nyambung dengan motivasi yang katanya untuk melawan AS. Bukan hanya instalasi penting milik AS, orang Amerika-nya juga tidak ada yang kena. Jangankan meninggal, yang luka saja tidak ada.</p>
<p align="left"><strong>Mengapa bisa tidak nyambung antara motivasi dan aksi?</strong></p>
<p align="left">Berarti ini memang ada operasi intelijen yang disebut dengan istilah enam i yang ingin pencitraburukan terhadap Islam atau aktivis Islam. Yaitu <em>infiltrasi </em>terhadap kelompok-kelompok Islam, yaitu mereka yang memiliki semangat perlawanan terhadap Amerika. Kemudian terhadap kelompok itu dilakukan proses <em>radikalisasi</em> agar mereka lebih bersemangat lagi untuk melawan dan berkorban. Lantas mereka <em>di</em><em>provokasi</em> untuk melakukan <em>aksi </em>(sambil dilakukan <em>disinformasi,</em> misalnya bahwa Hotel Marriott adalah milik Amerika, bahwa di Pulau Bali banyak turis dan tentara AS, dan sebagainya yang buat orang tidak tahu mudah sekali dipercaya) berupa tindakan-tindakan pengeboman dan sebagainya sehingga terciptalah <em>stigmasisasi</em>. Stigma seperti apa? Ya stigma negatif, bahwa Indonesia adalah sarang teroris, teroris itu aktivis Islam itu dengan penampilan yang disebut oleh Pangdam Dipenogoro tersebut, pakai jenggot, celana di atas mata kaki, yang perempuannya mengenakan cadar.</p>
<p align="left">Distigma juga bahwa pelakunya adalah kelompok fundamentalis yang berhubungan dengan pesantren. Stigma semacam itu sekarang sudah terjadi. Bahwa Indonesia memang adalah benar sarang teroris. Buktinya banyak sekali pemboman, dan pelakunya adalah orang-orang semacam Imam Samudra dkk yang aktivis Islam.</p>
<p align="left"><strong>Apa dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat? </strong></p>
<p align="left"><strong></strong>Kalau dampak secara langsung itu timbul kecemasan, ketakutan atau mungkin paling tidak memiliki tanda tanya kepada mereka yang berciri-ciri seperti itu.</p>
<p align="left"><strong>Apakah keberhasilan media untuk membangun stigma bahwa aktivis Islam itu teroris?</strong></p>
<p align="left"><strong></strong>Oh saya kira itu semua kan karena ngencarnya media memberitakan ini. Kalau tidak karena peran media ya tidak akan tercapai opini stigmatisai dan generalisasi ini. Apalagi penegasan yang disampaikan oleh Pangdam Dipenogoro bahwa waspadailah orang seperti itu. Nah, ini semakin menegaskan.</p>
<p align="left"><strong>Bagaimana agar aktivis Islam bisa tetap berdakwah dengan lancar dan masyarakat pun tidak paranoid? </strong></p>
<p align="left">Nah, aktivis Islam tidak boleh takut. Saya fikir ini memang harus dihadapi dengan tenang, tetap percaya diri, selalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah SWT, kita tunjukkan kepada masyrakat bahwa generalisasi adalah cara berfikir yang salah. Tidak bisa semua yang berpenampilan seperti itu bisa dikaitkan dengan teroris.</p>
<p align="left">Jelaskan pula stigmatisasi itu juga keliru. Karena pelaku pemboman itu bisa siapa saja. Namun memang sekarang ini terjadi ketidakadilan global. Sehingga ketika yang ngebom itu pelakunya orang Islam atau diduga orang Islam disebut sebagai teroris tapi bila pelakunya fihak lain tidak disebut teroris.</p>
<p align="left">Harusnya kan konsisten siapa saja pelakunya yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya ya sebut saja teroris baik itu dilakukan oleh individu, kelompok atau pun negara.</p>
<p align="left">Kalau Amrozi dkk, disebut teroris karena menghancurkan sepenggal jalan di Legian di sebut teroris. Mengapa George W. Bush malah disambut sebagai tamu agung di Istana Bogor, padahal ia bukan hanya saja menghancurkan sepenggal jalan di Baghdad tetapi semua jalan di Irak dan membunuh ribuan nyawa kaum Muslim.</p>
<p align="left">Amrozi keliru membom karena ia kira yang dibomnya semua adalah orang Amerika, ternyata bukan, ia tetap dihukum mati. Mengapa George W Bush tetap dibiarkan bebas padahal ia telah keliru mengira bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah massal padahal kan tidak. Jadi jelaslah ini menegaskan bahwa perang melawan terorisme ini sebenarnya adalah perang melawan Islam.</p>
<p align="left">Masyarakat harus dididik dengan penjelasan-penjelasan tersebut. Bahwa ini memang sesuatu yang tidak wajar yang tengah terjadi. Tetapi ini merupakan operasi intelijen enam i atau apaun namanya. Jadi kalau aktivis Islam berhenti berdakwah dan masyarakat menjauhi aktivis Islam justru itulah yang diinginkan oleh pihak-pihak yang membuat operasi tersebut. [] <strong>joko prasetyo</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahaya-iman.web.id/2009/10/m-ismail-yusanto-stigmatisasi-dan-generalisasi-itu-keliru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

