Tokoh Islam Liberal (3)

Dawam Raharjo

Berbeda dengan GD yang tega menelikung Nurcholish, Dawam Rahardjo seratus persen loyal dan membela Cak Nur, bahkan jauh ketika dia sudah meninggal dunia. Mengapa demikian? Sebab, tanpa bersandar ke Nurcholish atau GD, nama Dawam tidak punya makna. Makanya, meski Nurcholish sudah tiada, ia berusaha terus membelanya, meski harus berbohong sekalipun. Di Kompas edisi Jumat, 19 Januari 2007, Dawam memuji-muji GD melalui tulisannya berjudul Pembaruan KH Abdurrahman Wahid. Isinya, komentar subyektif Dawam tentang cuatan pemikiran GD yang terangkum di dalam sebuah buku berjudul Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, sebuah kumpulan tulisan GD dalam beberapa periode. Begitulah cara Dawam mempertahankan eksistensinya.

Selain Nurcholish, Dawam juga gemar bersandar ke berbagai tokoh lainnya. Antara lain Munawir Sjadzali, menteri agama dua periode (1983-1993). Munawir pernah berpidato di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil (laki-laki dua bagian, perempuan satu bagian). Munawir ketika itu juga berpendapat bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang kini tidak relevan lagi.

Naluri oportunis Dawam langsung bekerja. Ia tanpa ditunjang kesiapan (ilmu) yang memadai langsung mendukung gagasan Munawir yang nyeleneh itu. Salah satunya, Dawam berpidato di hadapan ahli Syari’ah yang berjumlah lebih dari 200 orang, di Kaliurang, Jogjakarta, ia berceloteh, kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya?

Melihat kebingungan Dawam, spontan hadirin tertawa terbahak-bahak. Tentu saja mereka terbahak-bahak, karena sebagai tenaga ahli Syari’ah di Pengadilan-pengadilan Agama dari berbagai kota, mereka sudah biasa memberi fatwa waris. Menghitung pembagian waris lelaki dua bagian dan perempuan satu bagian adalah pekerjaan mudah. Ternyata untuk urusan semudah itu, Dawam yang bergelar professor tidak bisa mencernanya dengan baik. Lagi pula, Dawam bukan ahli syari’ah, namun sok tahu mau mengajari para ahli syari’ah yang sudah lama mempraktekkannya.

Menyadari kedunguannya, serta-merta Dawam turun dari podium, langsung kabur ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Selain suka bersandar, Dawam juga senang membela aliran sesat, di antaranya membela Ahmadiyah. Di tahun 2000, bersama Habib Hirzin, Dawam terbang ke London mengundang Tahir Ahmad yang oleh kalangan Ahmadiyah dianggap sebagai Khalifah ke-4 tingkat dunia, untuk datang ke Jakarta (Indonesia).

Ketika rombongan Tahir Ahmad tiba di Bandara Cengkareng, Jakarta, Dawam pun menjemputnya, dan mengalungi bunga, kemudian dipertemukan dengan Presiden (kala itu) Abdurrahman Wahid dan Ketua MPR (kala itu) Prof. Dr. Amien Rais. Keberhasilan Dawam tentu saja mendapat pujian dari Tahir Ahmad. Pujian itu juga dipublikasikan melalui majalah khusus Ahmadiyah yang terbit di London.

Selama berada di Jakarta, Tahir Ahmad sang penerus nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad ini, sesumbar akan menjadikan Indonesia sebagai negeri terbesar Ahmadiyah. Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya penghancuran rumah-rumah orang Ahmadiyah di berbagai tempat di Indonesia.

Rupanya Dawam termasuk tokoh yang gigih membela Ahmadiyah. Ini terbukti ketika dalam rangka menyikapi terjadinya penyerbuan terhadap kantor Pusat Ahmadiyah di Parung (Bogor) pertengahan Juli 2005, ia membela sejadi-jadinya sampai-sampai Dawam menyatakan,  jika ada gerakan anti Islam, maka saya akan ikut Pernyataan itu diucapkannya di hadapan pers dalam acara jumpa pers yang berlangsung di gedung (kantor) PBNU.

Selain mau ikut gerakan anti Islam, Dawam juga tidak sungkan-sungkan melakukan pembelaan dengan argumen bohong. Ketika diwawancarai Rakyat Merdeka edisi Sabtu, 23 Juli 2005, Dawam mengatakan:  di Parung itu awalnya banyak sarang perjudian dan prostitusi, tapi setelah ada Ahmadiyah semua itu hilang

Padahal kenyataannya, masalah prostitusi dan perjudian di Parung, tidak ada korelasinya dengan keberadaan Ahmadiyah. Meski Ahmadiyah telah mendirikan kantor pusatnya di Parung, prostitusi dan perjudian tidak berkurang, malah semakin marak. Kalau prostitusi dan perjudian di Parung kemudian jauh berkurang, itu karena pernyataan Kapolri Jenderal Soetanto yang secara tegas akan melibas praktek perjudian dan prostitusi di seluruh Indonesia.

Barangkali Dawam belum tahu nasib tragis yang menimpa Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Ada baiknya sebelum Dawam mengalami nasib yang sama, bertanyalah kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali ke Islam. Dr. Hasan bin Mahmud Audah pernah menjelaskan, berminggu-minggu sebelum kematian menjemput, MGA tidak bisa ke kakus. Akibatnya, MGA buang air besar dan kecil di tempat tidur. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti kakus. Begitulah nasib nabi palsu penyesat umat. Dawam akhirnya dipecat dari Muhammadiyah, ketika Din Syamsuddin naik menggantikan Syafii Ma’arif.

Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia bukan cuma tingginya tingkat korupsi, narkoba, pornografi, tetapi juga tingginya tingkat taklid bodoh sebagian rakyat Indonesia. Taklid bodoh ini sudah sedemikian mengkhawatirkan, karena ekspresinya tidak hanya berbentuk memotongi pohon di pinggir jalan dalam rangka membela sang tokoh idolanya, tetapi juga sudah sampai tahap siap mengorbankan nyawa demi membela sang tokoh yang sebenarnya penganjur kesesatan. Yang memprihatinkan, kerelaan mengorbankan nyawa demi sang tokoh sesat seperti ini, mereka anggap sebagai salah satu cara mati syahid. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, di tempat yang sama lahir pula generasi muda yang liberal dan sesat dari aqidah Islam. Ini jelas mengkhawatirkan. Bila dari pantat ayam betina bisa keluar telur, bisa juga kotoran, tetapi dari tempat ini tidak ada telurnya, cuma kotoran yang keluar dari duburnya. (Risalah Mujahiddin)

8 Responses to “Tokoh Islam Liberal (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>