Tokoh Islam Liberal (1)

Tokoh Islam Liberal (1)

IMAM ALI Ra berkata: Bencana datang diundang oleh dosa, dan tidak akan bisa dicegah kecuali dengan tobat. Dosa yang mengundang bencana, antara lain kebejatan moral, berupa perselingkuhan seksual yang dilakukan para pemimpin dan pejabat negara, seperti sudah diungkapkan dalam Risalah Mujahidin edisi 5 yang lalu

Selain itu, kebejatan intelektual juga tidak kalah dahsyatnya sebagai penyebab malapetaka, sehingga menjadikan umat kehilangan pegangan tentang halal dan haram, haq dan bathil. Akibatnya, masyarakat kian jauh tersesat, bahkan ragu terhadap kebenaran Islam.

Para tokoh yang pernah populer dengan sebutan lokomotif pembaharuan pemikiran Islam, menyumbang amat besar atas terjadinya malapetaka akibat kesesatan berfikir yang ditularkan pada umat.

Di dalam kitab Tadribur Rawi karangan Imam As-Suyuthi, dinyatakan bahwa Imam Malik rahimahullah menggariskan ciri-ciri kaum penyesat agama, antara lain: Pertama, mengabaikan implementasi ayat-ayat Al-Qur’an yang telah berurat-akar sejak masa Rasulullah dan para shahabat. Kedua, menjadikan situasi dan kondisi aktual sebagai landasan untuk melahirkan pemahaman baru dalam beragama, dengan maksud menciptakan toleransi di antara umat beragama serta kerdilisasi jiwa tauhid. Dan yang ketiga, membangga-banggakan ilmu sebagai satu-satunya hakim kebenaran untuk melakukan modifikasi pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadits.

1. Nurcholish Madjid
Pada tahun 1970, saat masih muda usia, Nurcholish Madjid melontarkan gagasan pembaharuan pemikiran lebih tepat membuat hal-hal baru dalam Islam. Kini, gagasan tersebut berkembang antara lain menjadi sepilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme) yang diusung generasi muda semacam Ulil Absar Abdalla dan kawan-kawannya. Sebagaimana Nurcholish, juga komunitas Ulil, merupakan contoh yang tepat bagi umat Islam, kaitannya dengan hadits Nabi SAW:

Diriwayatkan dari Ali r.a, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. (HR Muttafaq ‘alaih).

Dua tahun kemudian, Oktober 1972, Nurcholish Madjid berceramah di Taman Ismail Marzuki (Jakarta Pusat), dengan makalah berjudul Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia. Ketika itu, Nurcholish menghubungkan sekularisasi dengan tauhid, sehingga timbul kesan seolah-olah Islam memerintahkan sekularisasi dalam arti tauhid.

Sejak saat itu, media massa seperti Kompas, Sinar Harapan, Majalah Tempo, memainkan peran penting mensosialisasikan gagasan Nurcholish. Di tengah-tengah iklim politik yang represif dan keterbukaan yang tersumbat, gagasan Nurcholish menjadi vitamin yang membangkitkan semangat menaikkan tiras dan keuntungan bagi ketiga media cetak tersebut. Maka, jadilah Nurcholish Madjid ibarat anak kecil yang ditunjang loudspeaker banyak, sehingga omongannya terdengar di mana-mana.

Ketika itu, gelar sarjana (S-1) masih menjadi salah satu simbol sosial yang mentereng, bagai orang kampung memiliki sepeda motor. Dan nurcholish, ibarat bocah kampung yang punya bapak berduit sehingga bisa membelikannya sepeda motor. Karena sepeda motor merupakan simbol kementerengan, maka seisi kampung pun menjadi heboh, ternganga mulut orang kampung ketika melihat bocah kecil melaju dengan pesat di atas sepeda motor. Mereka tidak mempedulikan apakah pantas bocah kecil mengendarai sepeda motor, mereka tidak mempedulikan aturan yang berlaku. Yang penting mentereng.

Membela Iblis

Kenyataannya, Nurcholish kian bernafsu melaju di atas sepeda motornya. Sejak itu, kemasyhuran dan kemujuran terus bergerak mengujinya, sehingga ia mampu melanjutkan studi hingga ke Chicago, Amerika Serikat. Berbekal ilmu, pengalaman, dan mungkin juga dollar AS, kemudian ia mendirikan sebuah yayasan wakaf yang diberi nama Paramadina. Salah satu kegiatannya adalah memberikan ceramah keagamaan. Pada ceramah yang diselenggarakan tanggal 23 Januari 1987, seorang peserta, Lukman Hakim, bertanya, ?Salahkah Iblis, karena menolak bersujud kepada Adam, ketika Allah menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah?

Ketika itu, Nurcholish Madjid sudah menyandang gelar Doktor, menjawab dengan mengutip pendapat Ibnu Arabi: Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni,  jawab Nurcholish.

Pendapat Nurcholish Madjid di atas jelas menyesatkan, dan bertentangan dengan Al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 34: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Rupanya, setelah lulus dari Chicago, dan meraih gelar doktor, Nurcholish justru menjadi pembela Iblis. Padahal Iblis jelas kafir, dan tempatnya di dalam neraka jahannam selama-lamanya (QS Al-Bayyinah ayat 6). Ibnu Arabi sendiri telah dianggap kafir dan murtad oleh sejumlah ulama, akibat tulisan-tulisannya yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Nama lengkap Ibnu Arabi adalah Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi at-Thai al-Andalusi. Sosok ini berbeda dengan mufassir Ibnul Arabi, pengarang tafsir Jami Al-Ahkamil Qur’an. Ibnu Arabi sesat ini dianggap sebagai tokoh tasawwuf

falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 Ramadhan 560 H (bertepatan dengan 28 Juli 1165M), dan mati di Damaskus, Rabi’uts Tsani 638H (Oktober 1240M).

Inti ajaran Ibnu Arabi didasarkan pada teori wihdatul wujud (menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan (kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai sinkretisme dari teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Yang jelas, Ibnu Arabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Masehi atau Nasrani.

Ternyata, semakin tinggi pendidikannya, sampai jauh-jauh ke Chicago untuk meraih gelar doktor, kesesatan berfikir Nurcholish semakin jauh melampaui masa sebelumnya. Antara lain sebagaimana tercermin melalui berbagai pernyataannya: Islam dianggap bukan nama agama, tapi hanya sikap penuh pasrah kepada Allah; istilah musyrikah dianggap tidak mencakup segala jenis wanita musyrik, tapi hanyalah wanita musyrik Arab; Ahli Kitab bukan hanya Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup watsaniyin (penyembah berhala/paganis) India, China, dan Jepang.

Selain sesat, Nurcholish ternyata juga tidak konsisten dengan gagasan sesat pluralisme yang diusung dan membesarkan namanya. Hal ini terbukti ketika dia menyikapi pernikahan anak perempuannya dengan lelaki Yahudi. Sebagaimana diceritakan Adian Husaini dalam kesempatan diskusi di Kampus Paramadina Jakarta, pada tanggal 22 Mei 2002.

Diskusi dihadiri sejumlah tokoh, selain Adian dan Nurcholish Madjid, ada Kautsar Azhari Noer, dosen UIN Syarif hidayatullah, Jakarta), dan Martin Sinaga tokoh Kristen dari Teologia. Pesertanya, mahasiswa pascasarjana Paramadina Jakarta. Ketika itu, setelah Nurcholish panjang lebar menjelaskan fahamnya yang pluralis, ia pun pergi begitu saja. Pada kesempatan itu, Adian membacakan kepada audiens sebuah e-mail yang berasal Nurcholish Madjid ditujukan kepada puterinya, Nadia, di Amerika, Agustus 2001. Ketika itu, Nadia sedang merencanakan membangun mahligai perkawinan dengan seorang pria Yahudi bernama David. Isi e-mail tersebut, menunjukkan betapa kegundahan menerpa hati Nurcholish: Kalau sampai terjadi perkawinan antara Nadia dengan David, itu termasuk dosa terbesar setelah syirik. Isi surat elektronik itu jelas sangat bertentangan dengan uraian Nurcholish Madjid tentang faham pluralisme yang baru saja dijelaskan pada forum diskusi itu.

Sekiranya pluralisme itu baik dan benar, baik secara agama maupun pemikiran, seharusnya Nurcholish tidak perlu gundah sampai mengatakan perkawinan antara Nadia yang Muslimah dengan David yang Yahudi merupakan dosa besar setelah syirik. Faktanya, Nurcholish Madjid akhirnya menikahkan puterinya itu dengan lelaki Yahudi, setelah sebelumnya melakukan kebohongan publik, dengan menyebarkan informasi palsu, seakan David sudah masuk Islam dan dinikahkan secara Islam. Padahal, Cak Nur panggilan akrabnya mengawinkan puterinya Nadia dengan David lelaki Yahudi berlangsung 30 September 2001, di Amerika, tidak dengan cara Islam, melainkan perkawinan dengan akad universal. Yaitu, perkawinan antara anak manusia dengan anak manusia. Melalui sikapnya itu, sebenarnya Nurcholish menunjukkan isi hatinya yang jujur bahwa pluralisme lebih dekat kepada syirik.

Pada saat-saat tertentu, ketika kesadaran Islami lebih kuat menuntutn hidup seseorang, kejujuran tidak bisa dibendung. Kejujuran nurani itu juga dialami dan menembus kepekatan hati Nurcholish Madjid. Dalam kunjungan delegasi Majelis Mujahidin ke Cak Nur pada 26 Juli 2005, terjadi dialog intensif mengenai pluralisme dan kritik terhadap buku Fiqih Lintas Agama yang di dalamnya terdapat pernyataan Nurcholish, bahwa semua agama sama. Juga, wanita boleh jadi imam shalat di hadapan makmum laki-laki, kawin beda agama dan tanpa walim nikah sah, dan berbagai pernyataan sesat lainnya.

Ketika itu Cak Nur menjawab: Pluralisme yang saya maksudkan bukan semua agama sama, melainkan kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama.

Dengan sedikit nalar intelektual, orang bisa mengerti bahwa statement di atas mengandung kesalahan yang fatal. Agama adalah milik Allah, maka segala penilaian benar dan salah haruslah berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Manusia tidak memiliki otoritas untuk menilai agama yang ini haq dan yang itu bathil.

Delegasi Majelis Mujahidin sempat meminta Cak Nur bertobat dan beristighfar. Tetapi belum sempat dijawab, pendampingnya, Utomo Dananjaya, dengan nada marah menghentikan dialog itu.

Bohong itu Biasa

Dalam hal melakukan kebohongan, Nurcholish Madjid pernah diprotes Hilma Hamid (dosen IAIN Padang, Sumbar). Hilma adalah putri Abdul Hamid Hakim, penulis buku berjudul Al-Mu?inul Mubin. Menurut Hilma, Nurcholish telah menyalah artikan tulisan ayahnya sehingga tak sesuai dengan Islam. Buku Al-Mu?inul Mubin karangan Abdul Hamid Hakim diperlakukan oleh Cak Nur sebagai landasan untuk memasukkan Konghuchu, Hindu, Budha, dan Sinto sebagai Ahli Kitab. Padahal, pada buku Al-Mu?inul Mubin itu yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2004.

Banyak yang belum tahu, bahwa Nurcholish sebenarnya adalah pegawai negeri (PNS) di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), sebagai peneliti. Namun, dia hampir sama sekali tidak pernah hadir di kantornya. Meski tidak pernah hadir, namun untuk urusan gaji, Nurcholish tak pernah lalai mengambilnya tiap bulan.

Banyak juga yang belum tahu, bahwa Nurcholish termasuk sosok yang berani secara terang-terangan berbohong di depan umum, memfitnah, dan bahkan mengumpat. Hal ini terjadi ketika Nurcholish membela Gus Dur yang diisukan mau mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi. Waku itu Nurcholish mengatakan, bahwa Gus Dur tidak bermaksud mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi. Itu cuma isu yang disebarkan oleh seorang wartawan tengik. Menurut Nurcholish, di hadapan sejumlah wartawan, Gus Dur ditanya oleh Pak Siswono Yudohusodo bahwa dirinya tidak fasih mengucapkan assalamu’alaikum, kalau mau berpidato. Lalu dijawab Gus Dur, ya cukup dengan selamat pagi saja. Tahu-tahu diberitakan oleh wartawan tengik itu bahwa Gus Dur akan mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi.

Wartawan tengik yang dimaksud Nurcholish ternyata bernama Hartono Ahmad Jaiz. Menurut Hartono, cerita Nurcholish di atas adalah bohong. Sebab, Hartono pernah mendengarkan sendiri rekaman wawancara antara Edy Yurnaedi wartawan Majalah Amanah dengan Gus Dur yang kemudian dimuat di Majalah Amanah No. 22, 1987, hal. 39.

Ketika itu Edy Yurnaedi bertanya kepada Gus Dur (GD): Beberapa waktu yang lalu Anda pernah mempopulerkan istilah mempribumikan Islam, apa maksudnya?

GD menjawab: Yah, selama ini kan Islam di Indonesia terlalu melihat kepada Timur Tengah. Sebagai contoh kalau dulu kita membangun masjid harus memakai kubah. Padahal bangsa kita sudah memiliki bentuk arsitektur yang lebih sesuai dengan budayanya sendiri dan mengandung makna yang mendalam. Lalu tentang ucapan assalamu’alaikum, kenapa kita merasa bersalah kalau tidak mengucapkan assalamu’alaikum. Bukankah ucapan itu bisa saja kita ganti saja dengan selamat pagi atau apa kabar, misalnya…

Edy Yurnaedi wartawan Majalah Amanah kemudian bertanya lagi: Bukankah itu (assalamu’alaikum) juga untuk menunjukkan identitas keislaman kita?

GD menjawab: Justru di sini saya nggak setuju. Untuk menunjukkan identitas Islam saja kok harus begitu. Menurut saya, selamat pagi, selamat sore atau apa kabar itu sama saja Islamnya dengan assalamu’alaikum.

Begitulah akhlak Nurcholish, dalam rangka mendukung sesama pengikut Iblis, sampai berani berbohong, memfitnah, dan bahkan mengumpat di hadapan orang banyak, di dalam sebuah forum resmi dan ilmiah, yaitu acara penandatanganan kerjasama penelitian antara Pascasarjana Paramadina Mulia dan Departemen Agama (Balitbang). Acara resmi itu dihadiri para pejabat Depag dan pimpinan Paramadina Mulia serta sejumlah wartawan elektronik dan cetak.

Tahun 2003, Nurcholish sibuk melakukan persiapan untuk mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat bakal calon presiden pada pilpres 2004. Padahal, saat Sidang Umum MPR bulan Oktober tahun 1999 berlangsung, Nurcholish menolak untuk diunggulkan sebagai calon Presiden RI 1999-2004. Bahkan sebelumnya Nurcholish juga pernah menolak tawaran Soeharto untuk duduk di Komite Reformasi.

Secara resmi Nurcholish mengumumkan kesediaan dirinya itu melalui sebuah konferensi pers, April 2003, yang diselenggarakannya di kampus Paramadina, Jakarta. Salah satu upaya lanjutan yang ditempuh Nurcholish adalah melakukan pendekatan ke Partai Keadilan (sekarang PKS), parpol Islam yang berbasis massa Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). Ketika itu, 30 April 2003, Cak Nur tidak sungkan-sungkan menyambangi kantor PKS di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta. Padahal dua dasawarsa sebelumnya, dia pulalah yang gencar menggembosi partai Islam dengan slogan Islam Yes Partai Islam No. Sebagaimana disampaikan Hidayat Nur Wahid, ketika itu (2003) NM sudah berubah sikap, yaitu Islam Yes Partai Islam Yes.

Rupanya, Nurcholish Madjid tidak mau kalah dari Gus Dur yang tanpa dinyana bisa jadi presiden. Padahal, ketika roda reformasi sedang digelindingkan, GD justru sedang dirawat di rumahsakit, alias tidak ikut ambil bagian di dalam proses menggulingkan Soeharto. Bahkan ketika GD sudah agak waras dan bisa berkomentar, isi komentarnya pun mendukung Soeharto yang ketika itu sedang digugat habis-habisan oleh rakyat, terutama mahasiswa. Ketika roda reformasi sedang digelindingkan, GD justru meminta mahasiswa agar menghentikan aksi demo, dan menghentikan hujatan kepada Soeharto. Tetapi, tidak ada yang menggubris.

Tahu-tahu, GD yang tidak ikut susah-payah menggelindingkan roda reformasi, justru bisa terpilih menjadi presiden RI ketiga (20 Oktober 1999 – 24 Juli 2001), mengalahkan Megawati dari PDI-P yang merupakan partai pemenang pemilu Juni 1999. Yang menyedihkan, Nurcholish tidak kebagian kursi kekuasaan ketika GD jadi presiden.

Dan yang lebih menyakitkan hati, ketika Nurcholish bersiap-siap mencalonkan diri sebagai kandidat bakal calon presiden, justru gerakannya dibendung oleh sohibnya sendiri. Ketika itu, Nurcholish mengklaim bahwa dirinya sudah didukung oleh lebih dari 11 partai, termasuk PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Namun kenyataannya, GD menghambat langkah Nurcholish dengan mengeluarkan pernyataan yang membela goyang ngebor Inul dan mengecam Rhoma Irama.

Inul dan Rhoma tidak menyadari, bahwa mereka dijadikan alat untuk menghambat lajunya gerakan Nurcholish. Begitu juga dengan media massa dan aktivis perempuan. Mereka semuanya berpeluh-basah membela pantat Inul, sehingga muka Nurcholish tenggelam. Dari kasus ini, Inul tambah populer dan mendapat simpati yang luas, begitu juga dengan Rhoma yang popularitasnya tidak berkurang. Sebaliknya, Nurcholish kian tenggelam, wajahnya dikalahkan pantat inul. Kejadian ini konon merupakan salah satu sebab yang membuat hati Nurcholish menjadi sedemikian sakit, sehingga harus dicangkok di RS negeri komunis, RRC, pertengahan tahun 2004. Tiga belas bulan kemudian, Senin 29 Agustus 2005, Nurcholish meninggal dunia, setelah 7 bulan menjalani perawatan pada salah satu rumahsakit di Singapura, kemudian berlanjut di RS Pondok Indah Jakarta sejak 17 Februari 2005.

Selama sakit, Nurcholish membutuhkan banyak dana. Sampai-sampai kelompok usaha Bakrie memberikan penghargaan (award) rekayasa kepada Nurcholish dengan hadiah uang tunai sebesar Rp 100 juta, semata-mata dalam rangka menopang keuangan Nurcholish yang terkuras untuk berobat. Kini, kelompok usaha Bakrie ikut terkuras dananya untuk mengatasi masalah semburan lumpur Lapindo di Sidoardjo, daerah asal Inul, yang terjadi sejak Mei 2006.

Betapa malangnya nasib Nurcholish Madjid, ia sama sekali tidak pernah menjadi menteri meski ketika jabatan presiden diduduki sahabatnya sendiri. Semakin mengenaskan, ketika sang sahabat yang ia bela sampai harus mengeluarkan jurus berbohong dan memfitnah, justru menjegal langkahnya dengan isu kontroversial pantat Inul.

Email Cak Nur kepada Nadia Tentang Pernikahan anaknya

Assalaamu’alaikum wr. wb.
Nadia Tersayang

Surat elektronikmu lewat Mikel telah Papa-Mama baca
Kemudian dia itu beragama lain dari kita, yang dalam telinga banyak orang sangat stigmatik. Memang hal itu dapat diatasi, yaitu kalau dia mau masuk agama kita. Kalau tidak, sembilan puluh sembilan persen, suatu dosa yang sangat besar, salah satu yang terbesar dalam agama kita setelah syirik, durhaka kepada orang tua, membunuh dan merusak alam.

Dua hal lagi yang menjadi keprihatinan Papa-Mama, sekali pun sedikit lebih ringan. Yaitu bahwa dia itu agaknya dari keluarga berada dan terkenal, selain tentu saja menganut pola budaya yang cukup berbeda dengan kita, karena dia tidak sebangsa dengan kita

Kemungkinan-kemungkinan itu janganlah ditepis dengan adanya janji-janji lisan dari dia kepadamu. Kamu sendiri mengetahui hal itu, sebab seperti kata pepatah, lidah tak bertulang. Karena itu, inilah saatnya kamu menetapkan kearifan,lebih baik mandi keringat saat latihan daripada mandi darah saat pertempuran. Lebih baik bersusah payah saat persiapan daripada menerima derita nestapa saat perjalanan. Maka Mama-Papa dengan amat sangat menasehatkan kepadamu hal-hal berikut:

Kalau memang jadi, dia mutlak harus masuk agama kita. Acara pengislaman itu harus disaksikan cukup banyak orang lain, yang terdiri dari : Teman-teman dan kenalanmu dari kalangan bangsa kita di DC ini. Teman-teman dan kenalan-kenalanmu dari kalangan orang DC, khususnya dari Suara Amerika, Keluarga dan teman-teman dari dia, supaya ikut menyaksikan dan menjadi saksi. Sudah tentu orang-orang dari KBRI.

Setelah itu semuanya terlaksana dengan mantap, dapat lakukan pernikahan resmi menurut syariat agama kita, sehingga benar-benar sah dan legal (agama dan hukum sipil), dan kamu sendiri, serta Papa-Mama dan seluruh keluarga terbebas dari fitnah, gunjingan dan umpatan orang (dikutip dari Buku Nikah Beda Agama Menurut Islam dan Seputar Kontroversi Pernikahan Putri Cak Nur, penerbit Media Wacana).

(Risalah Mujahidin Edisi 7)

  • Share/Bookmark