Menunggu khilafah atau memperjuangkan khilafah
Abad 21 Masehi, tidak dapat dipungkiri telah ditumpuki jutaan lembaran sejarah manusia dengan warna ragam polah tingkahnya. Bumi telah makin renta, dipenuhi oleh permasalahan-permasalahan kemanusiaan, berbagai krisis dan malapetaka, sejak zaman Nabi Adam alaihissalam hingga kini. Pada era ini, cengkeraman kuat kapitalisme menjepit kesejahteraan umat manusia, menyesakkan nafas kehidupan dan meluluhlantakkan pondasi dunia. Petaka ekonomi, sosial, politik atau lingkungan tiada henti terjadi, seakan tragedi telah menjadi konsumsi sehari-hari.
Aqidah kapitalisme yang diyakini oleh sebagian besar manusia saat ini mampu membawa kearah kemajuan dan kebahagiaan, nyata-nyata justru menjerumuskan manusia dalam kehidupan yang mengacaukan fitrah kehidupan, menggoncangkan jiwa dan menyesatkan akal sehat manusia. Rusaknya pranata sosial terkecil dalam keluarga dengan kedurhakaan anak pada orang tua, legalisasi aturan yang jelas-jelas haram secara syariat, maraknya fitnah-fitnah, pembunuhan, kemaksiatan, mengguritanya penindasan si kaya atas yang miskin, kedzaliman penguasa, bencana alam yang datang bertubi-tubi, dan pertikaian yang tiada henti, adalah bukti bobroknya ideologi ini.
Sudah menjadi SunnatuLlah, bahwa manusia bukan robot statis yang terprogram dalam kode-kode elektronis, atau bukan juga spesies tertentu dari binatang yang istimewa, namun Allah menciptakan manusia sebagai makhluknya yang lain selain malaikat, jin, hewan dan alam kehidupan, dengan penciptaan yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim) dan dibekali potensi kehidupan yang unik. Anugerah akal, membuat manusia berusaha untuk keluar dari permasalahan dan petaka yang menimpanya. Namun, serangan krisis yang bertubi-tubi, kompak dan sistemik, membuat banyak manusia terpental dan kalah. Dunia dengan ideologi kapitalisme telah membawa kemajuan-kemajuan semu dan orang-orang yang frustasi, putus asa, egois, saling terkam, brutal, korup, gila, bahkan bosan hidup. The Age of Anxiety (Abad Kecemasan), menurut Paul Tillich dalam bukunya The Courage To Be, menjadi predikat masa hidup manusia-manusia akhir zaman ini. Ironisnya, solusi yang coba diajukan sekedar tambal sulam, kapitalisme ditambal kapitalisme, atau kapitalisme diobati sosialisme, seperti menyuntikkan kuman tetanus pada luka-luka yang memborok.
Dalam kondisi demikian, banyak orang yang merasa diliputi kesia-siaan dan ketidakmampuan dalam merubah situasi yang menimpanya, dan akhirnya mereka mengambil keputusannya sendiri-sendiri dalam ‘menyelamatkan’ kehidupannya. Jika dipilah, ada dua kelompok besar manusia yang bertindak seolah-olah mereka telah menempuh jalan yang benar, padahal mereka telah memilih jalan yang keliru. Pertama, kelompok orang yang memutuskan untuk menceburkan dirinya pada kubangan busuk kapitalisme dengan segala resikonya. Mereka beranggapan bahwa jika mereka berada pada posisi the have, baik secara materi dan kekuasaan, maka dampak buruk kapitalisme tidak akan mereka rasakan, kecuali mungkin hanya sedikit. Demi mencapai itu, mereka menempuh segala cara demi kejayaan pribadi dan golongannya, tanpa peduli dengan norma-norma, aturan agama atau moral sekalipun. Mereka tidak ingat bahwa mereka tidak akan kekal dalam kehidupan ini, lupa bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati dan lalai akan tibanya hari pembalasan (yaum ad-din). Kedua, kelompok orang yang mulai kembali pada nilai-nilai normatif atau aturan-aturan spiritual yang dapat menenangkan batin dan menyelamatkan dirinya sendiri, dengan kecenderungan tidak peduli pada nasib orang lain dan bersikap pasrah, diam serta pasif. Sikap ini timbul dari keyakinan agamanya yang memang mengajarkan demikian. Kaum Nasrani dan Yahudi yang telah mengalami penderitaan lebih dulu dan lebih lama dari umat Islam, mulai berbicara tentang akhir zaman dan turunnya juru selamat.
Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Yesus Kristus, akan datang untuk kedua kalinya pada akhir zaman, untuk menjadi juru selamat bagi umat Kristiani dan mengangkat mereka kedalam surga. Keyakinan mereka timbul dari beberapa ayat Injil yang mengabarkan tentang kedatangan ‘tuhan’nya itu, seperti dalam Yohanes, 14:3 yang menyebutkan, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ (ke rumah BapaKu) dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Sementara itu, kaum Yahudi juga meyakini akan datangnya Messias (Al Masih) yang akan bersama-sama rahib mereka mengorbankan sapi merah di Solomon Temple (yang akan mereka bangun di tanah berdirinya Masjidil Aqsha). Keyakinan-keyakinan itu membuat mereka bersikap fatalistik dan pasif. Ada diantara orang-orang Yahudi yang mulai menanam pohon Ghardaqah [berdasarkan hadits riwayat Muslim], ada juga orang-orang yang membangun bungker-bungker penyelamat dari kiamat atau munculnya sekte-sekte kiamat seperti David Koresh, Aum Sinri Kyo, dan Mangapin Sibuaea. Maraknya fenomena yang terjadi semacam ini di dunia, membuat kaum muslimin juga mulai mengadopsi sikap serupa.
Sebagian kaum muslimin mulai mengajukan justifikasi sikap fatalistik dan pasif ini, dengan berlandaskan pada nash-nash hadits akhir zaman tentang kedatangan Imam Mahdi, Al Masihid Dajjal dan turunnya Nabi Isa alaihissalam. Sikap fatalis ini menjadikan mereka melalaikan kewajiban-kewajiban mereka untuk menegakkan dienuLlah. Mereka menggunakan waktu-waktu mereka untuk menunggu dan menunggu isyarat-isyarat kedatangan Imam Mahdi, tanda-tanda datangnya Dajjal dan turunnya Isa as untuk menyelamatkan umat Islam dari cengkeraman musuh-musuhnya. Tindakan-tindakan yang dilakukan semakin menampakkan sikap fatalis itu, seperti fenomena eksodus yang semakin meningkat ke kota Makkah dan Madinah – 2 kota yang disebutkan dalam hadits tidak akan dapat dimasuki oleh Dajjal.
Bagaimana seharusnya sikap yang diambil oleh umat Islam dalam kondisi seperti ini?
Pertama, adalah penting untuk memahami nash-nash dan bagaimana seharusnya aturan itu mengatur sikap dan tingkah laku kita, sehingga tidak terjebak pada sikap mental yang fatalis. Hal ini penting, karena sebagian kaum muslimin bersikap fatalis terhadap situasi politik dan masa depan umat, namun mereka bersikap lain ketika mencari rizki Allah. Mereka bekerja keras, sehingga sering bersikap workaholic, lupa waktu, melalaikan keluarga dan kewajibannya serta bersikap seolah-olah rizki itu adalah dari hasil usahanya sendiri, sementara dalam banyak nash disebutkan bahwa Allah-lah yang menjamin rizki semua makhluk-Nya, manusia hanya diperintahkan berikhtiyar sesuai kemampuan masing-masing untuk ‘menjemputnya’. Termasuk usaha untuk berobat ke dokter ketika sakit, menghindar dari marabahaya, dan mengkonsumsi asupan tubuh agar tetap sehat, dengan keyakinan bahwa ajal manusia telah ditentukan oleh Allah. Umat Islam harus memahami betul permasalahan rizki, tawakal, ajal, hubungannya dengan qadha dan qadar Allah sehingga mereka bisa bersikap seperti halnya para generasi salaf memahami hal-hal tersebut.
Dalam sirah diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menghancurkan sebuah batu besar yang tidak mampu dibelah oleh para sahabat untuk persiapan perang Khandaq, hingga saat beliung itu beradu dengan batu, beberapa kali terpercik bunga api yang menembus kegelapan malam.
Rasulullah bertakbir dan bersabda, “Pada mulanya aku silau melihat gedung-gedung di Hirah dan istana-istana Kisra (Persia) yang tampak bagaikan taring-taring serigala, tetapi kemudian Jibril memberitahukan kepadaku, bahwa umatku sanggup mengalahkannya. Kemudian aku disilaukan pula oleh istana-isatan merah di negeri Rumawi yang tampak bagaikan taring-taring serigala, namun Jibril memberitahukan bahwa umatku akan mengalahkannya pula. Demikian pula aku silau melihat istana-istana di Shan’a (Yaman) yang tampak bagai taring serigala, tapi Jibril memberitahukanku bahwa umatku sanggup mengalahkannya. Maka hendaklah kalian tetap gembira.” [hadits riwayat Ibnu Jarir, lemah menurut Abu Dawud].
Mendengar hal itu, para sahabat tidak duduk menunggu saat penaklukkan itu datang, namun mereka justru bersemangat dan berusaha keras untuk berjihad menyebarkan Islam dengan penaklukan wilayah-wilayah baru untuk tegaknya agama Allah.
Generasi sesudah sahabat juga mengambil sikap proaktif terhadap hadits-hadits Rasulullah tentang masa depan, yang faktanya belum mereka dapati. Seperti khotbah khalifah Muhammad al-Fatih yang berapi-api dihadapan pasukannya pada hari Senin 19 Jumadil Awal 757 H, “Jika Allah Azza wa Jalla menolong kita dan memberikan kemenangan kepada kita terhadap Konstantinopel, maka terwujudlah pada kita hadits Rasulullah Saw dan ini adalah salah satu dari mu’jizatnya yang agung, dan takdir dan kemuliaan yang terkandung dalam hadits Rasulullah Saw itu akan menjadi kebahagiaan kita. Anak cucu kita nanti masing-masing akan melihat bahwa kemenangan besar ini akan menambah kekuatan dan kemuliaan Islam.”
Kemudian, melompatlah mereka ke dalam kota dalam arena jihad sehingga turunlah nasrullah pada mereka, hingga mereka dapat menurunkan bendera Bizantium dan menggantinya dengan panji-panji Utsmaniyah. Adzan dikumandangkan oleh para mujahidin dan mereka menyerukan kebenaran hadits Nabi yang mulia dalam bahasa Arab yang fasih, “Sungguh Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik panglima adalah panglima penakluk negeri itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkan negeri itu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/335 dari Bisyr bin Sahim al-Khats’amiy].
Kedua, adalah penting untuk dipahami bahwa permasalahan tentang kiamat (dan hal-hal masa depan/tanda-tanda yang menyertainya) adalah perkara keimanan atau aqidah, dan dalam masalah i’tiqod ini haruslah didasarkan pada nash-nash yang qathi dilalah (pasti penunjukannya) dan qathi tsubut (pasti sumbernya). Dari segi sumbernya, hanya Al Quran dan hadits mutawatir saja yang dapat menghasilkan keyakinan (al ‘ilm). Khabar ahad tidak berfaedah kecuali hanya sangkaan (al dzan) belaka, dan tidak mengantarkan pada keyakinan. Inilah pendapat yang paling masyhur dan dipilih oleh jumhur ‘ulama hadits, fiqh, maupun ushul, baik dari mazhab Hanafi, Syafi’i, jumhur Maliki serta yang lain seperti Imam Asnawiy, al-Baghdadiy, Imam Nawawiy, Imam Basdawiy, Imam ‘Abd al-Bar, Imam Ghazali, Imam al-Qaraafiy, Al-Kasaiy, Syaikh Jamaluddin al-Qasaamiy dll, kecuali Imam Ahmad, sebagian ahli hadits, Dawud al-Zahiri, Ibn Hazm dan Al Hafidz Ibnu Hajar, menyelisihinya.
Sedangkan tentang hadits mutawatir, harus memenuhi empat syarat: satu, jumlahnya harus banyak, sehingga bisa disebut sejumlah orang; dua, mustahil berdusta, dilihat juga dari individu rawi dan tempat tinggalnya; tiga, diriwayatkan oleh rawi yang berkualitas tinggi (dhabith dan tsiqqah) dari awal hingga akhir (generasi shahabat, tabi’in dan tabi’iut tabi’in); dan empat, sandaran pada sanad terakhir dengan penginderaan, bukan dengan logika dan spekulasi. Berhubungan dengan masalah jumlah rawi, hadits mutawatir tidak sekedar bersandar pada jumlah belaka, namun juga harus memperhatikan misalnya, apakah ada pertentangan (ta’arudh) dalil atau tidak Ada sebagian ulama yang berpendapat minimal 5 orang, 12 orang, ada yang menyatakan paling sedikit 20 orang, bahkan ada yang menyatakan 40, 70, 313. Tentang hal ini Qadli Abu Bakar menyatakan “Ada pula yang menyatakan bahwa jumlah minimal yang mengantarkan ilmu hanya diketahui oleh Allah, dan kita tidak mengetahui. Dan ini yang terpilih. Oleh sebab itu, yang menjadi jaminan kemutawatiran suatu berita adalah ilmu yang dihasilkan oleh perkataan para pembawa berita (rawi), bukan ilmu yang dihasilkan oleh jumlah tertentu. Atas dasar ini, kami berpendapat bahwa jaminan mutawatir adalah (berita) yang menghasilkan ilmu. Kita tidak boleh beristidlal (berdalil) dengan berita yang tidak menghasilkan ilmu (keyakinan).” [Al Ihkam fi Ushul al Ahkaam, juz II/39].
Namun demikian, seorang muslim tidak boleh mengingkari hadits-hadits shahih, karena mengingkarinya adalah perbuatan dosa dan mengakibatkan tersia-sianya amal. Hanya saja, pemakaiannya pada masalah keimanan atau aqidah (yang mensyaratkan qath’i secara sumber maupun penunjukannya), tidak dapat mengantarkan pada pembenaran yang sifatnya pasti (jazm), karena masih ada keraguan dari sisi sumbernya (tsubut).
Ketiga, tentang hadits-hadits yang menerangkan kedatangan Imam Mahdi, Dajjal dan turunnya Isa as harus dipahami dengan pemahaman yang sesuai syariat dan fakta yang tepat.
Akan datangnya Imam Mahdi disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah,
???? ?????? ?? ??? ????? ???? ??? ?? ???? ?? ??? ??????? ??? ??? ?????? ??? ?? ??? ??? ???????? ??? ???? ????????? ??? ????? ???????
“Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki Quraisy dari penduduk Madinah dan ia lari ke Makkah. Lalu datanglah kepadanya orang-orang yang berasal dari penduduk Makkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa, kemudian mereka membai’atnya antara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim.”
Dari hadits ini dan beberapa hadits lain dapat diketahui bahwa orang yang dikatakan sebagai Imam Mahdi adalah umat Muhammad [hadits hasan dari Abi Sa’id al-Khudri riwayat Abu Dawud dan Al Hakim],dia tidak mempunyai keajaiban tertentu dan tidak menerima wahyu tapi akan membawa keadilan saat memimpin daulah Khilafah [hadits shahih riwayat Thabrani, Al Bazzar, dan Abu Nu’aim], dia tidak tahu jika dia adalah Al Mahdi dimana disebutkan bahwa dia enggan sehingga harus dipaksa untuk menerima bai’at dan sebelum dia dibai’at menjadi Khalifah, telah mendahuluinya kematian seorang khalifah dan juga akan datang khalifah lain (Al-Qahthani) setelahnya [hadits marfu’ riwayat Thabrani].
Umat Islam berselisih dalam pemilihan khalifah itu, dan ini menunjukkan bahwa umat Islam akan memiliki negara Khilafah, sehingga mereka tahu bagaimana cara mengangkat khalifah. Imam Mahdi juga belajar Islam dari lingkungannya, bukan dari wahyu. Allah yang menunjuki dan meluruskan langkah-langkahnya (mengislah) dalam satu malam [hadits shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah].
Bahwasanya ada sebagian orang yang mengatakan bahwa khalifah yang mendahului khalifah Al Mahdi adalah Raja Saudi tidak dapat diterima, karena definisi khalifah yang dipakai adalah harus menurut syariat, bukan sekedar bermakna bahasa yang artinya ‘pengganti’. Fakta menunjukkan bahwa penguasa Arab Saudi tidak bisa dikatakan ‘masih mendirikan shalat’, karena arti perkataan Rasulullah itu adalah penguasa yang menegakkan hukum Islam secara totalitas.
Padahal, Arab Saudi telah mengambil sebagian hukum Islam, dan meninggalkan yang lainnya, bahkan berkali-kali bersekutu dengan musuh-musuh Islam untuk memisahkan diri dari jama’atul muslimin. Adapun khilafah rasyidah yang berjalan sesuai sunnah Nabi (khilafah rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah) sesuai hadits Hudzaifah riwayat Ahmad, akan berdiri setelah mulkan ‘aridhan (pemerintahan kekaisaran) dan mulkan jabariyyan (pemerintahan diktator), dimana Al Mahdi akan menjadi salah satu khalifahnya.
Keistimewaan pemerintahan Al Mahdi yang disebutkan dalam banyak hadits, tidak dapat menjustifikasi bahwa khalifah sebelum ia tidak berdasar sunnah Nabi, karena yang dimaksud minhajun nubbuwah disini adalah daulah khilafahnya. Sementara, sejauhmana kesejahteraan dan keadilan yang dijalankan, termasuk besar kecilnya fitnah-fitnah yang berlangsung didalamnya, akan bergantung pada prestasi dan aksi khalifahnya dengan ijin Allah.
Tentang turunnya Isa Al Masih disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Suatu kelompok dari umatku akan tetap berpegang dalam kebenaran secara-terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah amir mereka (umat Islam): ‘Kemarilah dan imamilah sholat kami’. Ia menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai amir terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat ini.” [Riwayat Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah].
Begitu sholat subuh selesai, maka Isa al Masih akan membunuh Masihud Dajjal yang laknat, kemudian menghancurkan orang-orang Yahudi yang tersisa, menyeru kepada manusia pada Islam, menghancurkan salib, membunuh babi, dan menolak jizyah, karena ia hanya menerima 2 opsi, masuk Islam atau perang. Kemudian Isa as juga menikah, menunaikan haji dan menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj. Semua itu dilakukan Isa bersama-sama dengan orang-orang mukmin.
Dari hadits-hadits tersebut tampak jelas bahwa Nabi Isa akan mengikuti syariat Rasulullah Saw, berdiri di belakang imam/khalifah kaum muslimin, dan menjadi warga negara Khilafah Islam. Dalam jamaah kaum muslimin itulah, Dajjal, Yahudi, Nasrani, Ya’juj Ma’juj dan seluruh musuh-musuh Islam dihancurkan. Sehingga nyatalah sabda Nabi Muhammad Saw,
?? ????? ? ???? ???? ???? ???? ? ???? ? ????? ?????? ? ????? ?????? ?? ????? ????? ?? ??? ??? ????? ???? ?? ??? ???? ??? ?? ???? ??? ??? ???? ????? ??? ???? ???
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Mereka (umat Islam) berperang dibelakangnya dan mereka dilindungi olehnya (dari tirani dan musuh). Jika ia memerintahkan untuk bertaqwa pada Allah Azza wa Jalla, dan melaksanakan keadilan, maka pahala yang besar baginya, dan jika ia memerintahkan selainnya, maka baginya pula hal itu.”
Dari hadits-hadits tentang akhir zaman tersebut, jelas bahwa tidak ada landasan dalil yang menyatakan kaum muslimin harus duduk diam, fatalis dan pasif, menunggu datangnya Imam Mahdi dan Isa as untuk menyelamatkannya dari fitnah Dajjal dan musuh-musuh Islam. Justru, tanpa didahului oleh tegak dan bersatunya kaum muslimin dalam daulah Khilafah yang menerapkan syariat Allah secara syamil dan kamil, maka kaum muslimin akan kehilangan asbab datangnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa as. Wallahu a’lam.
Keempat, adalah penting untuk memahami bahwa Allah tidak membebani kita untuk ‘segera’ atau ‘harus’ atau ‘tidak bisa tidak’ mewujudkan tujuan atau hasil akhir, karena itu adalah urusan Allah, kita hanya diwajibkan untuk mengamalkan dien, membela syariat, menghabiskan seluruh waktu untuk itu dan mengerahkan segenap kemampuan. Allah berfirman, “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.” [TQS. At Taubah:105].
Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk bersikap fatalis menghadapi kiamat yang semakin dekat. Hanya orang-orang proaktif yang konsisten berjuang dijalan-Nyalah yang akan mendapatkan nasruLlah dan kemenangan. Rasulullah Saw bersabda,
“Akan ada satu thaifah dari umatku yang berdiri kukuh diatas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, orang-orang yang mengingkari mereka tidak mendatangkan mudharat bagi mereka. Sampai tiba keputusan Allah, mereka tetap dalam keadaan itu.’ Kemudian Rasulullah ditanya, ‘Dimana mereka?’ Jawab Nabi Saw, ‘Di Baitul Maqdis’.” [Diriwayatkan Imam Ahmad dan Thabrani].
Wallahu waliyut taufiq.



you did a good job. I will come back. Noah
Just killing some in between class time on Digg and I found your article . Not normally what I prefer to read about, but it was absolutely worth my time. Thanks.