JIL Penggagas kekafiran : “Semua Agama Sama”

Gagasan bahwa semua agama selain Islam adalah juga benar telah lama dilontarkan oleh mereka. Diantaranya oleh orang yang mereka anggap sebagai pelopor gerakan “pembaharu pemikiran Islam” di Indonesia, Ahmad Wahib. Anak muda yang tidak diketahui di mana belajar agama ini, berkata :

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis, aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku dengan suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat”

Ahmad Wahib yan kesehariannya sering bergaul dengan para room katolik dan mendapat banyak kebaikan dari mereka berkata tentang teman dekatnya itu: “Aku tak yakin apakah Tuhan tega memasukkanromoku itu ke neraka.”

Dengan berbagai pernyataan yang nyeleneh itu, dalam usia yang masih muda Ahmad Wahib telah menjadi “tokoh” nasional kebanggaan salibis. Pujian setinggi langit untuk Ahmad Wahib banyak menghiasi media massa salibis semasa hidupnya (Ahmad Wahib meninggal dalam usia 31 tahun dalam sebuah peristiwa kecelakaan).

Seruan yang sama juga sering dikeluarkan tokoh lainnya, yaitu Nurcholis madjid dengan slogan pluralisme (kesamaan/kesetaraan) agama. Intinya juga sama, menyerukan bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama.

Tokoh gerakan ini yang cukup “naik daun” karena lebih berani (dan lebih lucu) dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataannya adalah Ulil Abshar Abdalla (pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL)). Tentang kebenaran agama selain agama Islam, Ulil abshar mengatakan:

“Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, bukan Islam yang paling benar.”

Dalam buku Fikih Lintas Agama (FLA) hal, 214 disebutkan:

“Ayat yang lebih tegas tentang keselamatan agama-agama lain adalah Surat Al-Baqarah ayat 62. “

Dalam buku yang sama, untuk pengantar ajaran pluralisme pada hal. 20 disebutkan: Kesamaan dan kesatuan semua agama para nabijuga ditegaskan oleh Nabi sambil digambarkan bahwa para nabi itu satu saudara lain ibu, namun agama mereka satu dan sama. Salah satunya adalah hadist Al-bukhari, Rasulullah bersabda: “Aku lebih berhak atas ‘Isa putra maryam di dunia dan di akhirat, para nabi adalah satu ayah dari ibu yang berbeda-beda dan agama mereka adalah satu.”

Pada hal. 21 disebutkan:….penjelasan tersebut menegaskan prinsip-prinsip hubungan antar agama yang dapat diturunkan dari Al-Qur’an yang menegaskan adanya pluralisme agama.

Kutipan-kutipan di atas memuat kesimpulan berikut ini:

· Bukan Islam yang paling benar.

· Agama-agama selain Islam adalah agama yang selamat.

· Pluralisme agama dibenarkan Al-Qur’an dan hadist Nabi.

Bantahan :

Mereka berkesimpulan bahwa bukan Islam yang paling benar. Yang lain, apapun agama itu juga benar. Bahkan mungkin lebih benar dari Islam. Demikian yang dipahami dari ucapan mereka.

Allah berfirman :

“Sungguh besar kalimat yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS.Al-Kahfi: 5)

Sesungguhnya, seorang muslim yang masih suci fitrahnya walaupun masih dalam usia tamyiz akan mengetahui batilnya ucapan ini. Kalimat ini adalah ucapan kufur dan merupakan perkataan tentang agama Allah tanpa ilmu. Namun jika hati tertutup, siapapun dia tidak akan mengetahui kebatilannya, bahkanlebih parah karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Alasannya sepele: “Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran.” Dengan mudahnya ia menyimpulkan dengan akalny. Apakah setiap orang yang menuju kepada kebenaran itu akan sampai? Tentu jawabnya tidak. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.”

Ini adalah sesuatu yang kita saksikan bersama. Tidak akan memungkirinya kecuali orang yang congkak. Kalau jalan yahudi, nashrani, majusi dan agama lain itu benar, untuk apa Nabi mengajak mereka masuk Islam dan ketika mereka menolak, terjadilah permusuhan dan pertumpahan darah?! Bagaimana kemudian dianggap agama selain Islam lebih benar ?! Fa’tabiru ya Ulil Abshar ! (maka hendaknya engkau perhatikan wahai orang-orang yang memiliki pandangan).

Kesimpulan kedua, agama lain selain Islam adalah agama yang selamat, artinya tidak dimurkai Allah dan (para penganutnya) tidak diadzab.

Tentu ini bukan ucapan seorang muslim dan tak ada seorang muslim pun kecuali mengetahui kebatilan, kesesatan bahkan kekufuran kalimat ini. Sayangnya mereka mengelabuhi orang dengan berdalil surat Al-Baqarah ayat 62, yang artinya :

“sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani, dan orang-orang shabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Ibarat mereka seperti orang yang membaca ayat yang artinya “Celaka orang yang shalat…” (QS. Al-Ma’un: 4). Lalu berhenti dan tidak diteruskan. Atau ayat “Jangan kalian mendekati shalat…” dan tidak dibaca kelanjutan ayatnya (yang berbunyi) “dalam keadaan kalian mabuk.” (QS. An-Nisa: 43).

Sungguh ini adalah akhlak Yahudi yang beriman dengan sebagian ayat dan kafir dengan sebagian yang lain.

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksayang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 85)

Bukankah dalam memahami ayat Al-Qur’an kita harus merujuk kepada ayat lain yang menjelaskannya, demikian pula merujuk kepada hadist Nabi yang Allah utus untuk menjelaskan Al-Qur’an ? akan dikemanakan firman Allah:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling ? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa. Tidak ada rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang merela persekutukan.” (QS. At-Taubah: 30-31)

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam’. Katakanlah: ‘maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 17)

“sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘ Hai bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Rabb Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakana itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73)

Sekian banyak ayat dan hadist lain dengan sangat tegas mengkafirkan mereka (Yahudi dan Nashrani). Maka bagaimana mereka dikatakan selamat, padahal Allah mengubah mereka menjadi babi dan kera:

“Katakanlah: ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiqa) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah taghut ?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 60)

Allah melaknati mereka dengan lisan Nabi dari bangsa mereka sendiri, yaitu nabi Dawud dan Nabi isa:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Maidah: 78)

Allah berfirman:

“Katakanlah , mengapa Allah mengadzab kalian dengan dosa-dosa kalian ?” (QS. Al-maidah: 18)

Nabi bersabda:

“tidaklah mendengar (seruan)ku seorang Yahudi atau Nashrani lalu tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Kalau kita perhatikan baik-baik ayat yang mereka pakai sebagai dalil, akan nampak bahwa ayat tersebut sama sekali tidak mendukung paham pluralisme dan Maha Suci Kalamullah untuk dikatakan pluralisme.

Bukankah ayat tersebut memberikan syarat, yaitu beriman kepada Allah ? Apakah Yahudi dan Nashrani atau Majusi beriman kepada Allah ? Jawabnya, tidak ! Karena beriman kepada Allah bukan hanya beriman tentang adanya Allah. Bila hanya percaya tentang keberadaan Allah maka Iblis pun beriman, orang munafiq beriman dan Fir’aun pun beriman.

Tidak ada yang mengatakn demikian kecuali orang yang sejenis mereka. Iman kepada Allah mencakup keimanan tentang adanya Allah dan ke-EsaanNya yang tiada sekutu baginya. Sedangkan Yahudi menyekutukan Allah dengan Uzair, sementara Nashrani menyekutukan dengan Nabi Isa.

Diantara keimanan kepada Allah adalah meyakini uluhiyyah Allah dan menyakini hal itu. Sedangkan Yahudi dan Nashrani, mereka beribadah kepada selain Allah bahkan kepada pendeta-pendeta.

Ayat itu juga memberikan syarat berupa amal shaleh. Yahudi dan Nashrani tidaklah melakukan shaleh karena syaratnya tidak mereka penuhi. Di antara syarat yang mendasar yaitu iman, tidak mereka penuhi. Kemudian ikhlas, juga tidak mereka penuhi karena mereka beramal untuk selain Allah.

Bagaimana mungkin mereka dikatakan selamat sementara tidak memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang beriman. Pahamilah wahai orang-orang yang berakal sehat!!. Jadi, ayat ini berlaku bagi mereka yang memenuhi syarat-syarat tersebut dan ini berlaku sebelum datangnya Islam. Oleh karena itu, Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa setelah itu turun ayat 85 surat Ali-Imran:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Di ayat lain, Allah menganggap mereka bukan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir sebagaimana dalam ayat 29 Surat At-Taubah:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Adapun hadist yang mereka pakai sebagai pengantar ke arah pluralisme, juga tidak mendukung pluralisme sama sekali. Sebab kesamaan agama para rasul itu adalah pada inti agama yaitu agama tauhid dan beribadah kepada Allah. Ternyata hal ini pun dilanggar oleh para pengikut rasul, terutama setelah datangnya Nabi Muhammad. Lantas bagaimana bisa dianggap sama dengan ajaran Nabi Muhammad ?

Hadist itu juga menunjukkan bahwa syariat para rasul berbeda-beda. Itu yang dimaksud –wallahu ‘alam- dengan saudara sebapak lain ibu.

Tapi pada prakteknya justru JIL ingin menyamakan syariat mereka semua sehingga membolehkan kawin dan waris beda agama. Tidak mungkin Nabi yang berperang melawan Yahudi demi agama lalu menyabdakan sebuah hadist yang mendukung pluralisme agama.

3 Responses to “JIL Penggagas kekafiran : “Semua Agama Sama””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>